• 5

Berperang dengan Teroris di Jagat Maya

Berperang dengan Teroris di Jagat Maya



Cyber War on Terrorism

Snapshot salah satu video propaganda ISIS yang menampilkan Abu Muhammad al Indonesi (Foto: Noxious/Youtube)
Penggerebekan teroris di sejumlah wilayah kemarin, Rabu (21/12), seakan menjadi indikasi bahwa ancaman teror di Indonesia tak jua surut. Kunci untuk mengatasinya, menurut Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Antiteror Muhammad Syafii, ialah dengan penguatan deradikalisasi.
Deradikalisasi tak cuma dilakukan di dunia “nyata,” tapi juga di jagat maya. Ini seiring jangkauan teroris di semesta siber. Berbagai jaringan teroris di dunia, termasuk Indonesia, begitu fasih menggunakan berbagai media di internet untuk menyampaikan doktrin-doktrin mereka.

Cyber War on Terrorism

Infografis aktivitas penggunaan internet masyarakat Indonesia (Foto: Badan Pusat Statistik)
Salah satu teroris yang memanfaatkan kecepatan “cahaya” teknologi internet ialah Bahrun Naim yang disebut sebagai otak Bom Sarinah 14 Januari 2016. Pria yang menamatkan pendidikan diplomanya di Solo itu kini diperkirakan menetap di Suriah, jadi bagian dari ISIS.
Untuk menyebarkan ajarannya, Bahrun Naim memaksimalkan fasilitas blog sampai media sosial seperti Facebook –yang kini menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat Indonesia.

Terorisme

Salah satu situs doktrin radikal yang dikelola Bahrunnaim (Foto: Frendy Kurniawan)

Melalui aplikasi Telegram, Bahrun Naim mengkomunikasikan rencana aksinya, termasuk cara merakit bom.
Lewat Telegram pula, Bahrun Naim beromunikasi langsung dengan para anggota jaringannya, Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara. Empat orang dari jaringannya itu ditangkap terkait penemuan bom di Bintara Jaya, Bekasi, 10 Desember 2016.
Di sisi lain, aparat penegak hukum terus mengikuti tren perkembangan teknologi informasi. Berbagai instansi seperti Polri, Badan Intelijen Negara, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki unit khusus untuk memantau atau menangani ancaman siber.

Cyber War on Terrorism

Survei pendapat masyarakat mengenai aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama (Foto: Gusdurian)

Namun upaya pemerintah saja dianggap belum cukup karena berbagai informasi mengalir deras dan menyebar cepat di internet. Perlu “pasukan” tambahan untuk membendung distribusi doktrin radikal di jagat maya.
Di sinilah masyarakat sipil, termasuk lembaga swadaya masyarakat, terjun untuk ikut berperang melawan doktrin-doktrin teroris.
“Sosial media membuat (persebaran informasi) sangat cepat. Ada kelompok yang tertutup, lantas pakai Telegram dan YouTube. Imajinasi orang terhadap apa yang terjadi pada satu konflik jadi cepat terbentuk karena visual,” kata Noor Huda Ismail, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian dan pengamat terorisme, kepada kumparan di Jakarta, Kamis (8/12).

Cyber War on Terrorism

Pengamat terorisme dan produser film Jihad Selfie (Foto: Tio Ridwan/kumparan)
Menurut Noor Huda, penyebaran doktrin-doktrin terorisme kini harus dilawan dengan pendekatan yang berbeda. Apalagi doktrin itu kini bertebaran di dunia maya.
“Ini problem. Kita tidak mungkin menyetop perkembangan sosial media. That’s why we need to do something differently,” kata dia.

Cyber War on Terrorism

Cover Film Jihad Selfie (Foto: Noor Huda Ismail)
Itu pula alasan Noor Huda membuat film dokumenter Jihad Selfie. Film itu berkisah tentang para pemuda yang memutuskan untuk berjihad dengan bergabung ke kelompok teroris.
“Dengan film dokumenter ini, semua orang bisa lihat langsung. Saya harap bisa menciptakan sarana diskusi ‘Look, this is the brutal reality. So let’s work together,’” kata dia.
Upaya membendung doktrin radikal dan hate speech juga dilakukan oleh Komunitas Jaringan Gusdurian dan Maarif Institute. Gusdurian membentuk Laskar Media untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi lewat website, blog dan media sosial. Mereka juga menggelar festival film toleransi.

Cyber War on Terrorism

Acara KOPDAR Laskar Media Gusdurian di Jogjakarta (Foto: Muhammad Subhan/Gusdurian)
Sementara Maarif Institute membentuk pasukan siber di bawah Divisi Islam dan Media. Divisi ini menggelar berbagai pelatihan literasi media, dan mendorong pemikiran kritis serta analitis dalam menerima suatu berita.
Mereka pun menyebarkan konten-konten berupa tulisan, video, foto, komik, dan meme di media online.
Teknologi, tentu saja, selalu menjadi pisau bermata dua. Tak ada dinding yang bisa sepenuhnya membendung akses informasi di jagat maya, positif atau negatif. Setidaknya, upaya-upaya menggunakannya untuk menciptakan perdamaian terus dilancarkan.

NewsSerangan TerorisTerorisCyberTerorisme

500

Baca Lainnya