News
·
14 Juli 2021 18:52
·
waktu baca 5 menit

Segregasi Akar dari Rasisme

Konten ini diproduksi oleh Muhammad Areev
Beberapa waktu yang lalu saya menonton video menarik yang dibuat oleh Nuseir Yassin yang berjudul Segregation. Video tersebut telah di upload di tahun 2019 silam di facebook page resminya yang bernama Nas Daily dan telah ditonton lebih dari 1 juta orang.
ADVERTISEMENT
Saya sudah lama tertarik dan mengikuti konten-konten dari Nuseir. Nuseir adalah seorang konten creator atau travel vlogger yang berasal dari Israel. Dia terkenal lewat video singkatnya 1 menit yang dia upload di akun facebooknya. Total lebih dari 1.000 video telah dibuatnya di berbagai belahan dunia.
2017 silam dia pernah ingin mengunjungi Indonesia melalui singapura, namun terkendala di administrasi. Dia sempat berbagi cerita kekecewaannya tidak dapat mengunjungi Indonesia padahal sudah mengikuti semua persyaratan administrasi step by step namun berakhir dengan ditolak alias tidak diizinkan untuk masuk ke Indonesia. Kemungkinan karena dia berpaspor Israel, mengingat Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.
Video yang diunggah Nas berjudul Segregation cukup menarik dan membuat saya tertarik untuk dibagikan di tulisan ini. Nas bercerita bagaimana segregasi atau pemisahan (suatu golongan dari golongan lainnya) ini menjadi problem tidak hanya di negaranya saat ini, namun juga di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Israel tempat Nas berasal antara penduduk Arab dengan penduduk yahudi tidak hidup bersama dalam satu tempat mereka sama sekali tidak bercampur. Mereka hidup terkotakkan antara satu tempat yang berpenduduk mayoritas Arab dan tempat lainnya yang berpenduduk mayoritas yahudi. Arab hanya berteman dengan yang arab dan yahudi hanya berteman dengan sesama yahudi. Mereka tidak berteman, mereka jarang berinteraksi dan demikianlah segregasi yang ada di Israel.
London yang merupakan salah satu kota dengan multikultural terbesar di dunia. Jika dicermati dari peta penduduknya di sana juga ditemukan adanya segregasi yang kental. Di mana mereka yang berkulit putih menempati suatu tempat, begitu juga dengan mereka yang berkulit hitam dan mereka yang Muslim. Mereka multikultural namun hidup dengan terpisah-pisah.
ADVERTISEMENT
Amerika serikat dengan penduduk yang juga multikultural dalam hal bertetangga mereka didominasi oleh satu kelas etnik. Di Baltimore dan Washington 60 persen diduduki oleh mereka yang berkulit hitam dan di Nebraska 88 persen diduduki oleh mereka yang berkulit putih.
Berbagai segregasi yang terjadi di berbagai belahan dunia bukanlah salah siapa pun menurut Nas. Sebagai manusia secara normal kita akan lebih nyaman dan mudah berbagi budaya dan berinteraksi dengan yang sesama latar belakang baik itu budaya, agama, maupun suku.

Lalu yang menjadi pertanyaan apa masalahnya ?

Masalahnya adalah segregasi ini tidak hanya buruk, namun juga berbahaya. Ketika Muslim yang misalnya hidup di London hanya berbagi budaya, berinteraksi dengan sesama muslim mereka tidak ingin terintegrasi dengan orang diluar muslim, di sanalah mereka merasa memiliki Negara namun seperti tidak memiliki Negara. Lingkungan social juga akan memisahkan diri dari mereka, ketika mereka tidak hidup bersama, mereka akan membenci satu sama lain dan di situlah berbahaya dan dari sanalah timbulnya rasisme.
ADVERTISEMENT
Segregasi sebenarnya bisa diatasi, contohnya seperti negara Singapura. Mereka mempunyai berbagai etnis Mulai Melayu, India, China. Namun mereka di campur dan ditempatkan di dalam satu rumah public. Jika kita ke singapura dan berkunjung ke rumah public di sana kita tidak akan menemukan suatu rumah public diisi hanya oleh orang melayu atau orang china atau orang india.
Semuanya sudah tercampur dan mereka saling berbagi dan berinteraksi di sana. Bukan kebetulan, aturan di Negara singapura memang seperti itu untuk menyatukan berbagai etnik. Demikian Nuseir bercerita tentang bagaimana segregasi di negaranya dan di berbagai belahan dunia.
Saya tertarik mencermati dari percampuran etnik untuk menghindari Segregasi di Negara kita Indonesia. Program Transmigrasi atau pemindahan penduduk dari kawasan padat ke wilayah jarang penduduk, dirintis pemerintah penjajahan Belanda sejak awal abad 19. Presiden Soekarno mulai melaksanakan program yang sama pada tahun 1950. Era presiden Soeharto program tersebut lebih digenjot, hingga pada 1984, sudah ada kurang lebih 2,5 juta penduduk menjadi transmigran. Tujuan utama transmigrasi ini yaitu sumatera, Kalimantan dan Papua. Data sensus menunjukkan, pada 2010 ada 15,5 juta transmigran di Sumatera. Sekitar 2,6 juta trasmigran ada di Kalimantan, dan sekitar 1 juta di Papua. Total jumlah seluruh transmigran di Indonesia mencapai 20 juta jiwa. Program ini bertujuan sebagai upaya pemerataan penduduk, peningkatan produksi pertanian.
ADVERTISEMENT
Pun demikian, perpecahan dan konflik akibat dari segregasi juga pernah terjadi dan menjadi cerita kelam bagi kita masyarakat Indonesia. Sebut saja kasus di poso, Sulawesi utara. Peristiwa yang awalnya bermula dari bentrokan kecil antarkelompok pemuda sebelum berkembang menjadi kerusuhan bernuansa agama.
Beberapa faktor berkontribusi terhadap pecahnya kekerasan, termasuk persaingan ekonomi antara penduduk asli Poso yang mayoritas beragama Kristen dengan para pendatang seperti pedagang-pedagang Bugis dan transmigran dari Jawa yang memeluk Islam.
Segregasi Akar dari Rasisme (30590)
searchPerbesar
Bunga warna warni. pixabay.com
Kalau kita lihat di Aceh, tempat saya berasal, rasisme terhadap suku jawa sangat terasa saat konflik TNI-GAM berkecamuk.Hasil dari stigma bahwa adanya ketidakadilan rezim jawa yang berkuasa terhadap Aceh. Sayangnya, ketidakadilan rezim yang dirasakan oleh orang Aceh yang dilakukan pemerintah Indonesia menjelma menjadi generalisasi kepada suku jawa. Bahkan, waktu saya kecil ‘awak jawa (orang jawa)’ menjadi konotasi negatif untuk mereka yang tidak bisa berbahasa aceh. Begitu juga dengan cerita-cerita adanya ketidaknyamanan mereka yang bersuku jawa tinggal di Aceh pada waktu itu.
ADVERTISEMENT
Baik kerusuhan di poso maupun rasisme terhadap suku jawa merupakan buah dari segregasi yang perlu kita lunturkan untuk kenyamanan bersosial dan hidup dalam kedamaian.

Lalu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi segregasi?

Menurut saya, terkait erat dengan bagaimana kita menciptakan relasi sosial. Relasi sosial mengacu kepada hubungan horizontal antara individu dan berbagai kelompok masyarakat yang ditandai dengan kepercayaan dan penerimaan terhadap keragaman berbagai suku, agama yang ada di Indonesia bahkan dunia merupakan kehendak dari tuhan ‘li ta’aarafu’ untuk saling kenal sehingga tidak perlu adanya alergi terhadap keberagaman yang sudah dikehendaki oleh tuhan.
Dari relasi sosial terciptanya konektivitas emosi di mana adanya kedekatan secara emosional dan terakhir adanya komitmen terhadap kepentingan bersama ditunjukkan dengan solidaritas terhadap sesama anggota masyarakat.
ADVERTISEMENT
Muhammad Areev Pegiat Media Sosial, Pengagum Gus Baha'
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white