Kumparan Logo

Chatib Basri Sebut Melemahnya Rupiah Belum Mengarah ke Krisis 1998

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chatib Basri Foto: bekraf.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Chatib Basri Foto: bekraf.go.id

Ekonom senior Chatib Basri berkomentar soal melemahnya nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir. Rupiah sempat mencapai level Rp 18.200 per dolar AS.

Menurut mantan menteri keuangan itu, ada perbedaan kondisi rupiah tahun 1998 dengan saat ini.

"Ini selalu pertanyaan yang diajukan ke saya, 'sama enggak 98 dengan 2026? My answer is no," ujar Chatib dalam acara Grab Business Forum, Selasa (9/6).

"Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," sambungnya.

Chatib menjelaskan, pada kondisi sekarang, kelompok masyarakat terutama menengah atas, sudah mengantisipasi terjadinya depresiasi rupiah.

"Di kelompok yang atas, terutama menengah atas, itu sebetulnya depresiasi rupiah sudah diantisipasi sejak lama. Mereka yang punya anak sekolah di luar negeri itu sudah taruh rupiahnya di dalam dolar. Dia sudah hedge. Company, dia sudah hedge. Ini berbeda dengan 98, kita tidak terbiasa dengan flexible exchange rate pada waktu itu," sambungnya.

Chatib mengungkapkan, pada saat rupiah jatuh tahun 1998, orang-orang masih meminjam uang dalam dolar. Sementara pendapatannya dalam rupiah.

instagram embed

"Sekarang, yang terjadi adalah ada different foreign exchange regime yang memungkinkan orang itu melakukan adjustment. Sehingga saya gak terlalu khawatir sebetulnya di kelompok menengah atas," jelasnya.

Kendati begitu, Chatib mengakui ada dampak melemahnya rupiah ke kelompok menengah bawah. Kian tingginya nilai dolar, membuat harga-harga pangan turut naik.

"Persoalan yang akan muncul adalah di lower middle income group. Kenapa? Karena efek dari tepung terigu yang mungkin naik, sehingga noodle nanti akan naik. Efek dari kedelai yang akan membuat tahu tempe," tuturnya.

"Ini akan butuh waktu agak panjang. Jadi sebetulnya yang perlu dijaga itu adalah bagaimana memberikan social protection kepada lower middle income group untuk address isu ini.

Chatib juga yakin kondisi ekonomi saat ini masih jauh dari ancaman resesi. "Apakah depresiasi ini akan bikin resesi? I don't think so," ujarnya.