kumparan
31 Mei 2018 22:32 WIB

Kisah Bocah Gembala Jadi Sarjana

Aku biasa dipanggil Imang. Aku melewati masa kecilku tidak seperti anak-anak lainnya yang bisa bermain dengan riang. Sejak Ibuku meninggal dunia tahun 1997-- ketika aku baru berusia tiga tahun lebih-- aku harus menentukan nasibku sendiri. Peristiwa itu menjadi titik awal dari perjalanan hidup yang akan kuceritakan ini, yang barangkali saja bisa menginspirasi orang lain, khususnya anak-anak yang mengalami nasib serupa denganku.
ADVERTISEMENT
Aku dan adikku dibesarkan oleh nenek di Pariaman, sebab ia tidak mengizinkan ayah membawaku hidup bersamanya, setelah kematian Ibu. Memasuki usia enam tahun, aku memiliki keinginan sederhana untuk sekolah.
Jika anak-anak lain seusiaku pada waktu itu didaftarkan oleh orang tuanya, tidak demikian halnya denganku. Aku mendatangi sendiri SD 30 Taratak, kota Pariaman, dan mengutarakan keinginanku untuk sekolah kepada guru yang pertama kali kutemui.
Ilustrasi anak gembala (Foto: Pixabay)
Cara yang aku lakukan itu, untuk awal-awal tidak berjalan mulus, tetapi kemauanku untuk sekolah membuatku tidak menyerah begitu saja. Aku berkali-kali datang ke sekolah tersebut, hingga akhirnya kudapatkan juga kesempatan untuk mengikuti tes yang pada waktu itu bentuknya membaca dan berhitung. Melihat kemampuan dasarku, sekolah menerimaku sebagai siswa di sana, dengan catatan aku harus memberitahukan hal ini kepada nenek. Begitulah dunia pendidikanku bermula.
ADVERTISEMENT
Selama enam tahun menjalani masa pendidikan di SD 30 Taratak itu, hanya ketika kelas enam saja aku mendapatkan juara 2. Selebihnya, juara 1 tidak pernah lepas dari genggamanku. Jika dikatakan prestasiku menurun karena alasan kemalasan, jawabannya salah besar.
Ketika memasuki kelas empat, aku mulai berpikir untuk memenuhi biaya hidupku sendiri. Untuk itu, waktuku mulai terbagi antara belajar dengan berusaha mencari uang. Aku mulai mengerti bahwa nenek yang bertahan hidup mengandalkan upah anyaman ketupat, ditambah beternak ayam dan sapi, tentu tidak akan bisa memenuhi kebutuhan kami. Apalagi untuk memenuhi keperluan sekolahku.

Pendidikan adalah hak semua orang yang mau sungguh-sungguh belajar, juga salah satu prioritas hidup yang patut kita perjuangkan.

- Ajodarisman

ADVERTISEMENT
Pada waktu itu, untuk anak seusiaku tidak banyak pekerjaan yang dapat dilakukan. Pekerjaan pertamaku adalah mengumpulkan kayu-kayu sisa pemotongan dari gudang kayu, lalu menjualnya seribu rupiah per karung kepada ibu-ibu di sekitar rumah. Biasanya ini kulakukan sepulang sekolah, dengan hasil paling banyak dua karung. Dari sanalah awalnya uang jajanku dari keringat sendiri, dan ini berlangsung selama kurang lebih satu tahun.
Setelah itu, banyak sekali pekerjaan yang pernah kucoba. Mulai dari mencari pakis, mengumpulkan kardus, botol minuman bekas, sampai dengan membersihkan rumput pekarangan tetangga, pernah menjadi pekerjaanku.
Selain pekerjaan-pekerjaan itu, dari kecil aku memiliki pekerjaan lain. Aku menggembalakan sapi, dan pekerjaan itulah sebenarnya yang lebih melekat denganku. Aku lebih dikenal sebagai bocah penggembala sapi. Sebelum berangkat sekolah, terlebih dahulu aku mengeluarkan sapi dari kandang dan memastikan ia berada di tempat yang bisa memberinya cukup rumput untuk dimakan selama aku di sekolah. Maka tak jarang juga aku memautkan sapiku itu di sekitar tempat yang akan kulalui menuju sekolah.
ADVERTISEMENT
Pekerjaan mencari kayu atau pakis kulakukan sepulang sekolah sembari menggembalakan sapi. Sementara, mencangkul rumput pekarangan tetangga biasanya kulakukan di hari libur. Dari sanalah disiplin dalam diriku terbentuk, aku berupaya menghargai setiap waktuku untuk belajar dan bekerja.
Aku lulus sekolah dasar dengan membawa nilai Ujian Nasional 45 atau rata-rata 9 pada tahun 2006. Nilai itu sebenarnya cukup untuk membuatku diterima di SMP 1 Pariaman yang pada saat itu merupakan SMP terbaik, namun aku memilih untuk melanjutkan pendidikan di SMP 2 dengan alasan jaraknya lebih dekat dari rumah.
Jadi, bisa sedikit menghemat biaya transportasi karena aku cukup berjalan kaki saja ke sekolah. Bagiku tidak terlalu penting apakah kita sekolah di tempat terbaik atau tidak, tetapi selama kita menjalani dengan sungguh-sungguh adalah hal yang terpenting.
ADVERTISEMENT

Disiplin, kerja keras, menghargai dan mensyukuri apa yang dimiliki, bisa menjadi bekal yang membuat kita optimistis dalam menjalani suka-duka kehidupan.

- Ajodarisman

Selama duduk di kelas satu SMP, aku sekolah sambil melakoni pekerjaan baru sebagai pengantar galon di depot air minum. Pekerjaan ini tidak mengganggu rutinitasku untuk sekolah dan menggembala sapi. Urusan menggembala sapi, aku juga sudah cukup kuat untuk menyabitkan rumput setiap libur. Sedangkan, mengantar galon kukerjakan setiap pulang sekolah selama dua sampai tiga jam. Aku mengantar galon ke rumah-rumah menggunakan motor becak dengan upah seribu rupiah satu galon yang kuantarkan. Biasanya, dari pekerjaan ini aku bisa mendapat penghasilan Rp 15-25 ribu.
Memasuki kelas dua SMP, aku bekerja sebagai tukang cuci motor dan mobil. Penghasilan dari pekerjaan ini sedikit lebih besar daripada mengantar galon, rata-rata tiap harinya aku bisa mendapat uang Rp 30-50 ribu. Dari uang pekerjaan-pekerjaan itu serta ditambah beasiswa yang kudapatkan tiap tahunlah aku bisa memenuhi kebutuhan selama sekolah.
ADVERTISEMENT
Sementara, mengenai pencapaian belajarku selama di SMP, meskipun aku tidak pernah mendapat juara, aku selalu bertahan dalam sepuluh besar pemeringkatan di kelas. Hal ini karena setiap malam aku menyempatkan mengulang pelajaran hari ini, serta membaca sedikit pelajaran esok hari.
Aku menamatkan SMP dengan nilai UN 31,95 atau rata-rata 8 pada tahun 2009. Nilai yang mengantarku untuk diterima di SMA 1 Pariaman (sekolah unggulan yang juga dekat dengan rumahku).
Selama di SMA, pekerjaanku tetap sebagai tukang cuci mobil dan aku juga tetaplah seorang bocah penggembala sapi. Hasil belajarku yang cukup baik membawaku untuk mendapat kesempatan mengikuti seleksi sebagai salah satu siswa undangan untuk masuk perguruan tinggi. Aku lulus SMA pada tahun 2012 membawa nilai UN rata-rata 8 dan diterima kuliah di jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang, sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dari negara.
ADVERTISEMENT

Ketidakberuntungan bukan sesuatu yang harus kita sesalkan dan dijadikan alasan untuk menyerah dalam meraih cita-cita.

- Ajodarisman

Bermodalkan uang yang kusisihkan dari pekerjaan mencuci mobil dan hasil penjualan sapi, aku berangkat menuju Padang untuk memulai proses pendidikan sebagai mahasiswa. Beruntungnya, sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi aku tidak perlu membayar uang kuliah dan mendapat uang saku tiap bulan sebanyak Rp 600 ribu. Jadi, aku hanya perlu berusaha menjalani kuliah dengan sebaik-baiknya.
Selama kuliah, selain rutinitas akademik di ruang kelas, aku juga aktif dalam unit kegiatan mahasiswa di bidang teater. Proses perkuliahan dan berorganisasi inilah yang menambah wawasanku dan memberikan pengalaman yang amat berharga bagiku dalam menjalani hidup. Pelajaran yang kudapatkan di ruang kelas merupakan momentum untuk mengasah pemikiran. Sedangkan pengalaman di organisasi menjadi momentum untuk membentuk karakter, belajar memanajemen waktu, serta berkomunikasi dengan orang lain.
ADVERTISEMENT
Selain itu, beberapa bulan terakhir menjalani masa kuliah, aku sempat melakoni pekerjaan sebagai tukang foto untuk acara resepsi pernikahan, dan juga mendapat penghasilan tambahan dari menulis esai di koran.
26 April 2017 menjadi tanggal bersejarah dalam hidupku, aku menamatkan studi dan memperoleh gelar Sarjana Humaniora dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Meskipun sedikit terlambat, setelah menjalani studi 4 tahun 8 bulan, tetapi merupakan titik balik kehidupan yang pantas untuk disyukuri.
Seorang bocah penggembala sapi bisa merasakan jenjang pendidikan sampai pada perguruan tinggi hingga memperoleh gelar sarjana menjadi pencapaian yang sangat berarti bagiku.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan