Opini & Cerita12 September 2020 9:48

Menciptakan Pasar, Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Konten kiriman user
Menciptakan Pasar, Meningkatkan Kesejahteraan Petani  (181371)
Petani di area persawahan cabai TaniGroup di kawasan Bogor, Jawa Barat. Foto: Bhisman/TaniGroup
Sektor pertanian Indonesia dihadapkan pada berbagai persoalan. Mulai dari keterbatasan lahan, banyaknya petani memasuki usia tua, minimnya sarjana yang mau terjun ke pertanian, hingga sulitnya akses pasar dan tak stabilnya harga.
ADVERTISEMENT
Dua persoalan terakhir yang disebutkan di atas, menjadi kian parah sejak merebaknya pandemi virus corona. Wabah asal Wuhan, China, itu telah menghambat aktivitas segala sektor dan berujung pada anjloknya perekonomian. Akibatnya, penurunan daya beli masyarakat mau tidak mau tak bisa dihindari.
Menurunnya daya beli ini membuat para petani kesulitan memasarkan hasil panen mereka. Kondisi tersebut menjadi kian berat lantaran tak stabilnya harga pangan.
Terlebih lagi masalah itu hampir merata dialami oleh petani di berbagai daerah. Ganjil misalnya, petani jeruk asal Banyuwangi ini mengeluhkan bahwa hasil panennya sekarang hanya dihargai Rp 3.000 per kilogram. Harga tersebut bahkan tak mampu menutupi biaya produksi yang mesti dikeluarkan Ganjil.
"Sekali memupuk menghabiskan dana Rp 4 juta. Satu pohon jeruk, perawatan mulai pengolahan lahan hingga awal panen menghabiskan biaya berkisar Rp 1,5 juta. Jika harga jeruk di bawah Rp 3.000, saya kurangi asupan pupuk dan obat-obatan. Nah ini akan berisiko pada tanaman karena tidak mau berbuah," cerita Ganjil dikutip dari partnert kumparan, Jatim Now.
ADVERTISEMENT
Kondisi tak jauh berbeda diungkapkan oleh Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan, Winarno Thohir. Winarno bercerita bahwa sulitnya pasar itu, membuat banyak petani akhirnya lebih memilih membagikan hasil kebun mereka. Bahkan ada yang menjadikan hasil panennya sebagai pakan ternak.
"Pasar, ini yang kami perlukan, karena saat ini ya terung aja sekarang jadi panganan sapi. Harga wortel itu 1 kilogram Rp 2.000, ada yang dibagikan karena enggak laku," ujar Winarno dalam virtual conference membahas penguatan sektor pangan saat pandemi, Selasa (25/8).
Di tengah situasi demikian, agaknya digitalisasi menjadi jalan keluar yang cukup bisa diharapkan. Digitalisasi ini juga sering disinggung oleh pemerintah hingga kalangan pengusaha, sebagai langkah yang harus diambil untuk menyelamatkan dunia usaha. Hal itu juga terbukti dengan fakta bahwa bisnis-bisnis yang telah mengadopsi sistem online, lebih mampu bertahan dan bahkan meningkat penjualannya di masa pandemi.
ADVERTISEMENT
Di sektor pertanian, sebetulnya konsep digital itu sudah mulai diadopsi sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya yakni dengan kehadiran agritech startup TaniGroup di tahun 2016. Platform penghubung petani dan konsumen ini, berhasil menunjukkan bahwa pasar digital yang mereka ciptakan, mampu bertahan dan bahkan meroket penjualannya di masa-masa pandemi.
Dalam wawancara khusus bersama kumparan Juni 2020 lalu, CEO dan Co-Founder Tahihub Group, Ivan Arie, mengaku bahwa penjualan TaniHub melejit hingga 300 persen selama masa pandemi.
Menciptakan Pasar, Meningkatkan Kesejahteraan Petani  (181372)
CEO dan Founder TaniHub Group, Ivan Arie. Foto Nurul Nur Azizah/kumparan
Peningkatan itu juga dibarengi dengan bertambahnya jumlah user TaniHub hingga 100 persen. Adapun total konsumen mereka saat ini, tercatat mencapai 115.000 individu plus 5.000 unit bisnis.
"Selama kondisi outbreak ini, penjualan buah, sayur, sembako, dan hasil tani lainnya pada TaniHub Group mengalami peningkatan tajam," aku Ivan.
ADVERTISEMENT
Mimpi TaniHub Rangkul 100 Ribu Petani
Kehadiran Tanihub Group cukup menjanjikan perbaikan nasib para petani. Memasuki usianya empat tahun beroperasi, platform menaungi e-commerce TaniHub, TaniFund, dan TaniSupply ini telah merangkul hingga 30.000 petani dan 1.000 petani di bawah binaan mereka.
Di kesempatan berbeda, Ivan mengakui kepada kumparan, bahwa menjadikan petani lebih berdaya, sejahtera, dan akrab dengan teknologi, memang merupakan visi munculnya TaniHub Group. Hal itu, tetap konsisten ia jalankan hingga saat ini. Selain menyerap hasil panen, mereka juga memberikan pendampingan hingga akses modal untuk para petani binaan TaniHub.
"Jadi kita tidak semata-mata menjadi jembatan lender dan borrower (TaniFund), tapi kita juga mengedukasi petaninya," tutur Ivan.
Ke depan, TaniHub punya harapan merangkul lebih banyak lagi petani. Ivan berharap mereka bisa menjangkau hingga 100 ribu petani.
ADVERTISEMENT

Kita tidak semata-mata menjadi jembatan lender dan borrower (TaniFund), tapi kita juga mengedukasi petaninya.

CEO TaniHub Group, Ivan Arie.

Keinginan itu sudah hampir pasti bisa dengan gampang mereka realisasikan. Pasalnya, baru-baru ini TaniHub Group mendapatkan pendanaan Seri A sebesar USD 17 juta, setara dengan Rp 261,8 miliar (kurs 15.400).
Pendanaan itu dipimpin oleh Openspace Ventures bersama Intudo Ventures, dengan partisipasi dari para investor baru yaitu UOB Venture Management, Vertex Ventures, BRI Ventures, Tenaya Capital dan Golden Gate Ventures.
“Kami berkomitmen memperkuat kerja sama kami dengan para mitra di B2B, termasuk usaha kecil dan menengah. Kami berharap dapat mencatat pertumbuhan yang lebih baik tahun ini dan dapat menjangkau seluruh kota di Indonesia pada 2022,” ujar Ivan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white