kumparan
29 Mei 2018 22:39 WIB

Menyimak Sukarno Punya Cerita (1)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”

- Soekarno

ADVERTISEMENT
Seperti kutipan Bung Karno di atas, barangkali ini adalah salah satu upaya untuk menghargai presiden pertama kita itu. Sebelumnya, tulisan ini merupakan bentuk pembacaan terhadap buku berjudul Soekarno Poenja Tjerita karya SejarahRI.
Secara keseluruhan isi buku ini memuat sisi humanis Bapak Proklamator, bercerita hal-hal sederhana yang menarik untuk disimak. Roso Daras, dalam pengantar mengatakan begitu banyak sisi kehidupan, perjuangan, dan kepribadian Putra Sang Fajar yang barangkali belum diketahui masyarakat, apalagi generasi muda. Tiga dasawarsa lebih penghapusan Sukarno dari memori bangsa secara sistematis, betapapun akhirnya--menempatkan sosok Bung Besar pada sudut temaram hikayat negeri.
Soekarno Punya Cerita (Foto: Ajo)
Catatan ringan di dalam buku tersebut dibagi dalam lima subjudul: Politik Jalan Pedang, Sisi Lain Sang Presiden, Yang Spiritual dan yang Profan, Keping-Keping Diplomasi, dan Romantika Masa Revolusi.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana judul, saya memosikan diri sebagai orang yang menyimak sebuah cerita. Sehingga beberapa yang saya simak, coba ceritakan lagi dalam tulisan ini-- tanpa bermaksud merusak isi keseluruhan-- dengan membaginya jadi beberapa bagian tulisan.
Tan Malaka dan Kontroversi Surat Wasiat Politik Bung Karno
Hubungan antara Sukarno dengan Tan Malaka menjadi salah satu yang mencuri perhatian saya di sini. Keduanya sama-sama revolusioner, bahkan Bung Karno telah lebih dulu mengenal dan mengagumi pemikiran Tan Malaka, tanpa pernah bertemu langsung.
Soekarno dan Tan Malaka (Foto: Ajo)
Pertemuan pertama mereka pun cukup unik, sebab Sukarno didebat oleh Tan yang waktu itu hanya buruh dengan nama samaran Ilyas Hussein. Peristiwa tersebut terjadi saat ia bersama Bung Hatta berkunjung ke Bayah, Banten. Sang orator ulung ini didebat ketika menyampaikan pidatonya yang kurang lebih soal memperoleh kemerdekaan dari Jepang.
ADVERTISEMENT

Kalau tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya, kemenangan terakhir dahulu dan di belakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesialah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir?

- Tan bertanya pada Soekarno

Tan berseberangan dengan Bung Karno soal kemerdekaan diperoleh atas pemberian. Baginya, kemerdekaan itu diperjuangkan dan direbut. Perdebatan ini menjadi awal mula perbedaan pandangan keduanya, bahkan setelah Tan menggunakan identitas aslinya.
Pertemuan langsung keduanya tanpa samaran terjadi 9 September 1948 secara rahasia.
Alhasil dari diskusi mereka, Bung Karno semakin mengagumi sosok Tan. Hingga ia membuat surat wasiat tentang Tan yang akan jadi penggantinya.

“Kalau saya tiada berdaya lagi, kelak pimpinan revolusi akan saya serahkan kepada saudara”

- Wasiat Soekarno untuk Tan

ADVERTISEMENT
30 September 1945, Sukarno membuat testatemen politik mengenai keinginan tersebut. Namun Bung Hatta menolak kalau hanya Tan seorang yang jadi pengganti. Berbagai polemik yang muncul akibat testatemen politik tersebut, membuat Bung Karno akhirnya membakar surat itu tahun 1964.
Begitulah hubungan kedua tokoh revolusioner ini, mengagumi pemikiran di satu sisi dan juga sering berseberangan di sisi lainnya. Keduanya sama-sama tonggak pemikiran kemerdekaan Indonesia.
Sumber: SejarahRI. 2016. Soekarno Poenja Cerita. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan