STAR AM Tawarkan Reksa Dana Pendapatan Tetap Terbaru di Tengah Dinamika Pasar
·waktu baca 3 menit

PT Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR Asset Management) resmi meluncurkan reksa dana tetap terbaru, STAR Fixed Income IV Kelas Utama, pada hari ini, Selasa (9/6). STAR Fixed Income 4 Kelas Utama kini dipasarkan melalui Bank Sinarmas sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
Direktur Utama STAR Asset Management, I Nengah Sukerja, menyatakan peluncuran produk ini dilakukan guna menjawab kebutuhan investor yang saat ini mencari instrumen investasi pendapatan tetap dengan pengelolaan yang lebih stabil, terutama di tengah dinamika pasar saat ini.
“Kami yakin saat ini instrumen Fixed Income masih memberi peluang yang menarik di tengah kondisi perubahan monitor dan keadaan pasar yang terus bergerak saat ini. Karena itu kami punya keyakinan bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat kalau kami meluncurkan produk,” kata Nengah dalam acara peluncuran di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (9/6).
Dalam pengelolaannya, produk ini memberikan potensi kinerja di atas benchmark Indonesia 1-Month IDR Deposit Rate + 1%, sehingga memberikan peluang optimalisasi pendapatan investasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan preservasi modal.
Nengah melanjutkan, melalui produk STAR Fixed Income IV Plus Utama yang mengusung tagline Grow with Confidence, perseroan ingin menghadirkan produk yang tidak hanya menawarkan potensi imbal hasil yang kompetitif, tetapi juga memberikan rasa aman dan keyakinan bagi investor dalam menempatkan dananya.
“Kami percaya saat ini ekonomi Indonesia walaupun kondisi yang boleh dibilang mengkhawatirkan tapi kami tetap optimis atas apa yang kebijakan dijalankan oleh kami,” ucap Nengah.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) STAR Asset Management, Rania Rahmundita, mengatakan pasar saham telah mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun, sementara instrumen lain seperti deposito juga menghadapi tantangan karena imbal hasil yang diperoleh setelah pajak relatif sejalan dengan tingkat inflasi sehingga nilai riil dana investor terus tergerus.
Oleh karena itu, Rania menilai produk ini dapat menjadi pilihan yang tepat karena memiliki profil risiko rendah hingga moderat dengan portofolio yang mayoritas terdiri dari obligasi korporasi berkualitas baik dan memiliki peringkat investasi yang kuat.
“Dan kalau dilihat dari kinerja nya pun ini sangat positif, year on year positive rating 7,7 persen dan ini semua di saat yang lainnya seperti equity komplikasi pemerintah semua turun cukup dalam,” ujar Rania dalam kesempatan yang sama.
Menurut Rania, dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, produk tersebut dapat berfungsi sebagai defensive anchor atau instrumen penyangga bagi investor. Selain itu, produk tersebut juga dinilai mudah diakses karena dapat dimulai dengan investasi minimum sebesar Rp 100 ribu.
Ia pun mencatat imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,5 persen, sementara beberapa obligasi korporasi menawarkan imbal hasil sekitar 9 hingga 10 persen.
“Jadi itu level-level yang sebenarnya sangat menarik apabila kita lakukan sekarang untuk income jangka panjang. Kami melihat ini merupakan peluang yang baik,” jelas Rania.
–
