Buzz
·
19 Juli 2021 10:20
·
waktu baca 4 menit

Kisah Perjuangan Menggapai Mimpi Perguruan Tinggi Negeri

Konten ini diproduksi oleh Muhammad Haryo Pambudi
Kisah Perjuangan Menggapai Mimpi Perguruan Tinggi Negeri (150060)
searchPerbesar
sumber gambar : unsplash.com
Halo , di sini saya akan membagikan sedikit cerita mengenai perjuangan meraih perguruan tinggi negeri. Sebelum itu mungkin saya awali terlebih dahulu dengan perkenalan dan biografi singkat diri saya. Perkenalkan nama saya Muhammad Haryo Pambudi, kelahiran Kota Batam, dan merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Saya hidup dalam keluarga yang sederhana dan didikan yang keras untuk bisa hidup mandiri.
ADVERTISEMENT
Kisah ini bermula ketika saya baru memasuki sekolah menengah atas, layaknya siswa pada umumnya saat kegiatan belajar mengajar dimulai, saya semangat sekali belajar dan mencari teman baru. Saya merupakan siswa jurusan IPA, alasan memilih jurusan ini karena saya bercita-cita menjadi seorang tentara, jadi saat kelas 10 dan kelas 11 saya berfokus pada kegiatan fisik, psikotes, dan lain-lain untuk persiapan tes tentara setelah lulus sma. Saya sama sekali tidak kepikiran untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.
Tetapi setelah naik ke kelas 12, pemikiran saya tiba-tiba berubah 180 derajat, saya baru mendapatkan informasi seputar seleksi dan informasi perguruan tinggi negeri di penghujung masa sekolah menengah atas. Singkat cerita, pada bulan februari muncul lah pengumuman siswa-siwa yang memenuhi syarat untuk mendaftar perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN ( Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ) Dari jurusan IPA, terpilihlah sekitar 70 siswa untuk bisa mendaftar perguruan tinggi negeri melalui jalur nilai rapor atau disebut juga SNMPTN. Sayangnya nama saya tidak muncul dalam pengumuman tersebut karena nilai rapor saya yang kalah saing dengan 70 siswa yang terpilih.
ADVERTISEMENT
Memang sedikit sedih saat mengetahui hal tersebut, tetapi saya menganggap itu hanya angin lewat saja. Semenjak itu saya mulai mempersiapkan diri untuk SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya belajar dan latihan soal setiap hari, selain itu, sekolah saya juga menyediakan bimbel gratis untuk membantu siswa dalam menghadapi SBMPTN dengan waktu sekitar 10 pertemuan dalam satu bulan.
Saya sangat antusias mengikuti apa yang ditawarkan sekolah mengenai bimbel gratis tersebut. Saya berpikir jika belajar dari bimbel dan belajar mandiri akan lebih berpeluang lolos SBMPTN karena persiapan yang lebih matang. Tetapi tuhan berkehendak lain, saat pengumuman SBMPTN saya masih ditolak juga, dan tertulis “Jangan Putus Asa dan Tetap Semangat!”
Setelah pengumuman SBMPTN tersebut, saya semakin direndahkan, dihina, dan dicaci maki bahwa saya memang tidak pantas untuk bisa studi di Perguruan Tinggi Negeri oleh orang terdekat. Saya merupakan orang yang pantang menyerah sebelum berhasil dan akan semakin bersemangat apabila dijatuhkan dengan hinaan dan caci maki. Mereka salah jika bertindak seperti itu kepada saya, karena itu merupakan sumber utama kekuatan saya. Ketika mereka berkata seperti itu saya hanya diam dan mendengarkan saja tetapi tidak melawan.
ADVERTISEMENT
Masih ada satu jalur lagi untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri , yaitu jalur mandiri. Saya berpikir ini merupakan jalan terakhir agar bisa masuk perguruan tinggi negeri sehingga saya harus mengorbankan apa yang saya punya tanpa bantuan orang tua. Karena saya tau bahwa jalur mandiri ini memang biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak dibandingkan jalur SNMPTN dan jalur SBMPTN.
Saya nekat mendaftar 4 universitas sekaligus, membayar biaya pendaftaran dan mengurus pemberkasan sendiri dan melakukan ini diam-diam tanpa diketahui orang tua dan orang terdekat.
Beberapa minggu setelah pendaftaran, satu per satu universitas pun mulai menerbitkan pengumuman hasil mandiri, dan alhamdulillah saya diterima di universitas pilihan pertama dengan prodi yang sesuai keinginan saya. Jika kalian tahu jaket almamater berwana kuning dan daerahnya banyak yang menggunakan bahasa ngapak, berarti kalian tahu saya diterima di mana.
ADVERTISEMENT
Saat diterima, saya baru memberi tahu kepada orang tua dan orang terdekat saya, dan tentu saja mereka terkejut melihatnya karena masih tidak percaya. Alhamdulillah orang tua saya bangga dan bersyukur sedangkan orang terdekat saya masih tidak bisa berkata apapun. Dari sini saya bisa memetik pelajaran yaitu untuk membungkam perkataan orang yang selalu menghina dan mencaci maki ialah dengan membuktikannya bukan mengikutinya.
Dari 4 universitas negeri yang saya daftar melalui jalur mandiri, hanya satu saja yang diterima, sedangkan tiga nya lagi ditolak. Jadi jika ditotal kegagalan saya dalam mencapai perguruan tinggi negeri hingga 5 kali.

Penutup

Itulah cerita pengalaman saya dalam meraih perguruan tinggi negeri. Jadi buat teman-teman jika ditolak perguruan tinggi negeri, jangan menyerah dan tetap semangat. Salah satu kata-kata yang memotivasi saya untuk semangat adalah “Gagal coba lagi, Jatuh bangkit lagi”. Semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran dan motivasi untuk teman-teman semua, terima kasih.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white