Konten dari Pengguna

Titik Buntu Diplomasi Damai Perang Rusia-Ukraina

Muh Khamdan
Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai Widyaiswara Balai Diklat Hukum dan HAM Jawa Tengah
4 Juni 2025 21:37 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Titik Buntu Diplomasi Damai Perang Rusia-Ukraina
Titik Buntu Diplomasi Damai Perang Rusia-Ukraina. Perundingan damai putaran kedua antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung di Istanbul pada 2 Juni 2025 berakhir dalam kebuntuan.
Muh Khamdan
Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Perundingan damai putaran kedua antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung di Istanbul pada 2 Juni 2025 berakhir dalam kebuntuan. Alih-alih menghasilkan terobosan signifikan, pertemuan tersebut hanya berbuah kesepakatan parsial terkait pertukaran tahanan. Sementara delegasi Ukraina mendesak gencatan senjata menyeluruh sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai, Rusia tetap pada posisinya, Kyiv menyerah adalah prasyarat perdamaian.
ADVERTISEMENT
Kegagalan ini memperpanjang daftar perundingan sia-sia yang telah menjadi ciri dari konflik bersenjata Rusia-Ukraina sejak invasi dilancarkan pada 24 Februari 2022. Perundingan yang hanya berlangsung satu jam tersebut menyiratkan bahwa kedua pihak datang bukan untuk berkompromi, melainkan untuk mempertahankan narasi dan posisi kekuatan masing-masing di meja diplomasi.
Dalam pendekatan teori perang modern, khususnya Clausewitzian yang melihat perang sebagai kelanjutan dari politik dengan cara lain, tindakan Ukraina meluncurkan Operasi Jaring Laba-laba di tengah pembicaraan damai menunjukkan bagaimana diplomasi dan serangan militer dapat berjalan bersamaan sebagai alat negosiasi yang agresif. Ukraina memanfaatkan kekuatan tempurnya sebagai tekanan diplomatik.
Sebaliknya, Rusia mempertahankan doktrin teritorial ofensifnya, dengan menuntut penarikan penuh pasukan Ukraina dari Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson sebelum gencatan senjata total bisa dibahas. Ini menunjukkan pendekatan zero-sum khas kekuatan besar yang memandang perdamaian sebagai bentuk dominasi, bukan rekonsiliasi.
ADVERTISEMENT
Delegasi Ukraina yang dipimpin Menteri Pertahanan Rustem Umerov menunjukkan kecakapan dalam memainkan isu kemanusiaan sebagai tumpuan moral. Permintaan pengembalian anak-anak yang diculik, pembebasan warga sipil, dan pertukaran tahanan menjadi komponen penting dari strategi soft diplomacy Kyiv yang menargetkan simpati internasional.
Namun, strategi tersebut belum mampu menembus tembok kekuasaan Kremlin. Delegasi Rusia yang dipimpin Vladimir Medinsky justru memanfaatkan celah kemanusiaan itu untuk merumuskan dua memorandum. Salah satunya menawarkan gencatan senjata terbatas selama dua hingga tiga hari di wilayah tertentu. Ini lebih merupakan manuver waktu ketimbang niat tulus berdamai.
Dalam konteks diplomasi damai di kawasan konflik, mediasi Turki di Istanbul menempatkan Ankara sebagai aktor regional yang relevan. Namun keberhasilan diplomasi kawasan sangat ditentukan oleh kesediaan pihak bertikai untuk berkompromi. Sayangnya, medan pertempuran yang masih aktif menunjukkan bahwa medan diplomasi masih sangat jauh dari stabil.
ADVERTISEMENT
Serangan udara Ukraina ke 41 pesawat pengebom strategis Rusia dan penghancuran Jembatan Crimea mempertegas posisi Kyiv bahwa kekuatan militer tetap menjadi alat utama untuk menyeimbangkan dominasi Rusia. Dalam perspektif teori deterrence, Ukraina mengadopsi strategi “pencegahan dengan serangan”, sebuah pergeseran taktik yang membuat dialog damai makin kompleks.
Tindakan Ukraina menghancurkan jembatan logistik utama Rusia bukan sekadar operasi militer, tetapi bentuk sabotase terhadap simbol dan infrastruktur kekuasaan Moskwa. Ini adalah pesan terbuka bahwa selama Moskwa menolak kompromi, Kyiv akan terus menargetkan urat nadi logistik lawan untuk memaksa perubahan kalkulasi.
Di sisi lain, Moskwa menggunakan narasi keamanan nasional untuk membenarkan serangan balasan dan kebuntuan diplomatik. Retorika resmi Kremlin menampilkan Ukraina sebagai ancaman eksistensial bagi wilayah-wilayah yang telah mereka aneksasi. Inilah dasar mengapa Rusia menolak menyebut gencatan senjata sebagai "kemenangan diplomatik Ukraina".
ADVERTISEMENT
Melihat dari teori protracted social conflict (Edward Azar), konflik Rusia-Ukraina telah masuk ke fase pembusukan struktural. Kepercayaan yang terkikis, trauma kolektif, serta campur tangan aktor luar membuat perdamaian tidak mungkin hanya diselesaikan melalui diplomasi formal tanpa pendekatan rekonsiliasi sosial-politik.
Dalam konflik berkepanjangan seperti ini, seringkali hanya dua jalan yang tersisa, yaitu kemenangan militer yang absolut atau mediasi multi-level dengan jaminan internasional. Sayangnya, selama NATO dan negara-negara Eropa tetap ambigu terhadap mekanisme jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina, Moskwa akan terus bermain di zona abu-abu diplomasi.
Kesepakatan pertukaran tahanan adalah satu-satunya titik terang dari pertemuan di Istanbul. Namun, itu tidak cukup untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Pertukaran tahanan lebih merupakan konvensi perang ketimbang tanda perubahan paradigma. Dengan perang yang telah berjalan 1.196 hari, kedua pihak tampak semakin terjebak dalam narasi nasionalisme yang keras kepala. Presiden Zelensky memimpin langsung operasi militer terbaru, sementara Presiden Putin masih mengontrol ritme eskalasi dan deeskalasi, menjadikan perundingan lebih sebagai pertunjukan diplomatik daripada proses substantif.
ADVERTISEMENT
Pertanyaan krusial kini adalah, apakah pihak ketiga seperti PBB, China, atau bahkan Vatikan mampu mendorong fase baru dari diplomasi internasional? Jawabannya tergantung pada keberanian mereka mengakui bahwa mediasi netral membutuhkan lebih dari sekadar ruang perundingan, karena dibutuhkan tekanan moral dan politik kolektif yang lebih keras.
Selama Ukraina dan Rusia masih menjadikan keunggulan militer sebagai bargaining chip utama, setiap meja perundingan hanya akan menjadi etalase dari kebuntuan. Tanpa upaya konkret menuju confidence-building measures (CBMs), perdamaian akan tetap jadi wacana kosong.
Turki telah memainkan peran strategis sebagai tuan rumah, tetapi harus lebih dari sekadar fasilitator. Ankara bisa menghidupkan kembali pendekatan "Astana-style" yang lebih kolektif, melibatkan Iran, Uni Eropa, dan bahkan negara-negara BRICS untuk menciptakan diplomasi multilateral yang lebih seimbang.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, perdamaian tidak bisa hanya didasarkan pada penghitungan wilayah yang dikuasai atau jumlah pasukan yang gugur. Perdamaian sejati lahir dari kesediaan menerima narasi lawan dan bersepakat untuk hidup berdampingan, bukan berdominasi. Di Istanbul, narasi itu belum menemukan panggungnya. Dan selama itu pula, konflik Rusia-Ukraina masih akan menulis bab-bab kelam berikutnya.