Konten dari Pengguna

Saat Jadi Wartawan Biasa-biasa Saja Tak Cukup

Nabilla Fatiara

Nabilla Fatiaraverified-green

Assistant Editor kumparanMOM

clock
comment
13
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilla Fatiara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat Jadi Wartawan Biasa-biasa Saja Tak Cukup
zoom-in-whitePerbesar

Jadi wartawan tuh enggak enak. Capek, jam kerja enggak pasti, kerjaannya juga banyak. Meski begitu, lo akan banyak belajar. Yakin deh, yang penting kerja yang benar aja.

Begitulah ucapan salah satu seniorku saat kuliah. Dan itulah yang memang terjadi di pekerjaanku sekarang.

Meski sudah tahu banyak enggak enaknya, tapi tetap aja kerjanya jadi jurnalis (dan alhamdulillah masih sampai sekarang). Kemudian teringat pesan orang tua, "pekerjaan pertama tidak selalu enak", tapi di situlah kemampuan dan profesionalitas kita diuji.

Perjalananku jadi jurnalis di kumparan dimulai pada September 2017. Selama dua bulan pertama, aku belajar meliput di beberapa desk, dikasih berbagai macam agenda dan digeser ke sana kemari.

Capek? Iya. Diomelin redaktur karena lama bikin berita? Pernah. Dikritik karena angle berita enggak menarik? Pernah juga. Dibilang enggak peka jadi wartawan? Hmm, pernah. Tapi di situ esensinya. Pressure membuat kita jadi terlatih, tahan banting.

Saat Jadi Wartawan Biasa-biasa Saja Tak Cukup (1)
zoom-in-whitePerbesar

Tapi kerja jadi wartawan juga banyak enaknya. Pekerjaan ini juga membuatku menambah relasi. Mulai dari narasumber pejabat, sesama pewarta di lapangan, abang ojek online, mas-mas pasukan oranye, kang bubur dekat Stasiun Gondangdia, dan lainnya.

“Jangan lupa maintain contact narasumber. Bahkan tukang ojek bisa jadi sumber berita kita juga, dan terkadang mereka bisa ngasih kita bahan yang menarik untuk dikulik,” ucap salah satu redaktur di kantor.

Bekerja sebagai wartawan adalah tantangan. Kita dituntut untuk bekerja sesuai dengan etika jurnalisme dan kenyataan di lapangan. Tak lupa juga, bermain dengan data itu baik, tapi hati-hati karena salah masukin data biasa berefek fatal.

Selain itu, memberitakan dengan benar, jujur, apa adanya, lengkap, dan detail adalah sebuah kewajiban. Salah satu prinsip yang aku pegang, berita yang kita tulis tak hanya menyampaikan pesan, tapi bagaimana bisa mengedukasi para pembaca.

Saat Jadi Wartawan Biasa-biasa Saja Tak Cukup (2)
zoom-in-whitePerbesar

Dan narasumbernya juga enggak boleh sembarangan dipilih, harus terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan omongannya. Meski pernah dapat omongan narasumber yang meragukan, tapi wajib untuk check and recheck. Harus tahan-tahan pas ketemu sama narasumber (bahkan pejabat) yang ngomongnya ke mana-mana, atau banyak maunya.

Harus tahan godaan juga, apalagi kalau ada *cring cring*. Ingat ingat, tak boleh terima gratifikasi.

It's not about the money money money

We don't need your money money money

We just wanna make the world dance

Forget about the money

Dan satu yang aku syukuri bekerja di kumparan: Mereka enggak tanggung-tanggung lho untuk melatih wartawan-wartawannya agar menjadi yang terbaik. Ada kumparan onboarding (sesi pengenalan dengan kantor dan mengundang pembicara-pembicara kece) sampai uji kompetensi wartawan oleh Dewan Pers yang aku ikuti pada Juli 2018.

Dan satu yang aku syukuri bekerja di kumparan: Mereka enggak tanggung-tanggung lho untuk melatih wartawan-wartawannya agar menjadi yang terbaik.

Jadi, di kumparan, kita enggak cuma ke lapangan, bikin berita, kirim ke email, selesai. Enggak guys, kita dites kayak ujian praktik sekolah! Buat apa sih? Biar kita jadi wartawan yang kredibel dan terakreditasi.

Pada saat uji kompetensi, aku dites berbagai macam hal. Mulai dari seberapa paham dengan nilai-nilai dasar jurnalistik, kemampuan menulis dan menganalisis berita, menyunting berita, wawancara tatap muka atau doorstop, hingga seberapa kenal narasumber dengan kita.

Kayak….. "woy itu banyak tesnya!" Iya banyak sih, tapi jadi semacam reminder kalau kita kerja enggak sesimpel itu. Dan alhamdulillah, saya lulus uji kompetensi wartawan ini :’) karena sebenarnya yang dites enggak jauh-jauh dari yang kita lakukan hampir setiap hari di lapangan.

Saat Jadi Wartawan Biasa-biasa Saja Tak Cukup (3)
zoom-in-whitePerbesar

Jadi, buat yang masih memandang kerja sebagai wartawan sebelah mata, coba dipikir ulang. Kita kerja pagi sampai malam, ada deadline juga (atau ditungguin, "Ini mana beritanya woy? Udah belom beritanya?" Setelah selesai doorstop 20 menit lalu).

Yakinlah, kalian yang baca berita yang kubuat udah senang banget. Apalagi kalau dikasih feedback bagus.

Sementara bagi yang masih baca berita dari judulnya, coba dibiasakan untuk baca beritanya, sampai habis. Niscaya pengetahuan kalian akan bertambah. Yang beritanya tidak membuat enak di hati dan pikiran, enggak usah dimasukin hati.