Opini & Cerita
·
2 September 2020 17:21

Adopsi Teknologi, Akselerasi Paedagogi

Konten ini diproduksi oleh Najelaa Shihab
Adopsi Teknologi, Akselerasi Paedagogi (552921)
Siswa mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Pekanbaru, Riau, Kamis (16/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Teknologi belum membudaya di ekosistem pendidikan Indonesia. Buat sebagian kita, bahwa teknologi sejatinya adalah kebutuhan, bukan kemewahan, masih sulit diterima. Fakta ini terus terjadi, bahkan sesudah wabah corona yang menunjukkan bahwa perlu perubahan di pembelajaran, saat seluruh aspek kehidupan dilakukan dengan pembatasan sosial.
ADVERTISEMENT
Kecemasan pada teknologi, sebelum dan sesudah pandemi, adalah hal yang sangat dianggap lumrah oleh begitu banyak pendidik di rumah dan di sekolah. Memang banyak potensi risiko yang datang saat teknologi memperdaya kehidupan. Banyak juga informasi yang tidak sesuai nilai, yang menjadi lebih mudah ditemukan (dan menemukan) anak, saat teknologi memanipulasi proses belajar-mengajar.
Bagaikan membiasakan anak ke pasar, kebersamaan teknologi dan pendidikan, butuh latihan dan pendampingan. Kapasitas untuk mendayagunakan teknologi, butuh pengembangan. Banyak dari kita yang melihat pembelajaran jarak jauh sebagai kesempatan perubahan. Kita yang terus berupaya melakukan percepatan perbaikan pendidikan - setelah melalui proses ini berbulan-bulan lamanya, perlu menyelaraskan cita dan menyepakati cara.
Perjalanan di pendidikan selama ini menunjukkan, bahwa keterpaksaan (apalagi dipaksakan) bukan berarti akan jadi kebiasaan. Kita semua, perlu sangat berhati-hati dengan miskonsepsi, pada saat inovasi tidak punya cukup waktu untuk dipahami. Kekhawatiran ini perlu refleksi, apakah ini yang sedang terjadi dengan teknologi dan pendidikan di era pandemi.
ADVERTISEMENT
Pemahaman di permukaan, justru membuat banyak praktik paedagogi yang salah kaprah yang diperbesar skalanya. Pembelajaran jarak jauh dengan teknologi memungkinkan terjadinya kolaborasi antar guru. Tetapi, tanpa proses kurasi yang mumpuni, yang terjadi rencana pengajaran dan penilaian yang dibagi, menjadi replikasi setengah hati.
Pendidikan jarak jauh dengan teknologi menuntut desain pembelajaran yang menggabungkan karakteristik terbaik dari aktivitas luring dan daring sesuai tujuan pembelajaran. Namun, kewajiban memilih hanya satu aplikasi, mensimplifikasi perbedaan kegiatan online versus offline tanpa memahami esensi paedagogi - justru jadi jebakan yang menghambat meningkatnya kualitas pendidikan yang seharusnya menjadi kesempatan saat pandemi.
Senyatanya, krisis pembelajaran sudah terjadi puluhan tahun di ekosistem pendidikan. Prinsip memanusiakan hubungan tidak dipraktikkan; contohnya: guru gagal melihat perbedaan minat murid serta memberikan tugas yang seragam. Prinsip Memahami konsep tidak dipahami bahkan oleh guru sendiri; penjejalan informasi masih jadi prioritas bukan fokus pada esensi materi. Prinsip Membangun Keberlanjutan, mengaitkan antara apa yang dipelajari hari ini dengan esok hari, satu pelajaran dengan yang lainnya - minim sekali dilakukan. Murid hanya mendapat tugas dan tugas berikutnya tanpa melihat peta dan tahapan belajarnya. Prinsip memilih tantangan, menyesuaikan tingkat kesulitan pelajaran dengan tingkat kesiapan anak serta prinsip memberdayakan konteks, membangun relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari - tidak umum dilakukan.
ADVERTISEMENT
Sekali lagi, krisis dalam proses belajar mengajar tidak hanya terjadi dalam pembelajaran selama pandemi. Menjadi lebih nyata diobservasi di saat ini, tetapi sejatinya kondisi awal kapasitas satuan pendidikan dan kompetensi guru kita, memang masih disini. Teknologi secanggih apa pun, tidak akan bisa menggantikan pentingnya paedagogi. Teknologi meningkatkan kualitas pembelajaran, dan akan mendukung semua pemangku kepentingan melakukan lompatan, hanya bila prinsip paedagogi sudah efektif dipraktikkan.
Ada begitu banyak contoh sekolah dan guru dalam kuadran yang berbeda selama wabah. Sebagian jalan di tempat, krisis pembelajaran berlanjut, karena cara belajar mengajar yang dipraktikkan tidak efektif, dengan penggunaan teknologi yang juga terbatas.
Sebagian lagi, sesungguhnya sangat butuh afirmasi. Lembaga yang sudah teruji punya kemerdekaan dan kompetensi belajar-mengajar dengan cara yang baik - namun punya akses teknologi sangat terbatas. Pada kelompok ini kami di Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar, juga Keluarga Kita dan Sekolah.mu telah melakukan upaya transformasi bersama satuan pendidikan yang berdaya. Walau perjalanan mengatasi kesenjangan pendidikan masih akan butuh waktu cukup lama, lembaga-lembaga ini akan menjadi penggerak pertama saat memilih teknologi sebagai solusi utama (Baca tulisan saya yang lain untuk mendapat gambaran tentang integrasi digital yang dilakukan Sekolah Merdeka Belajar untuk menjadi Sekolah Merdeka Berkolaborasi dan Merdeka Berkarya).
ADVERTISEMENT
Sebagian lembaga pendidikan di Indonesia saat ini terlihat canggih diluar, namun rapuh di dalam karena esensi paedagoginya tidak terpenuhi walau akses teknologi sudah memadai. Buat banyak pihak di luar sana, “keren” di permukaan ini seolah sebuah solusi, walau sebenarnya tidak mengantar kita pada integrasi digital yang mampu mendisrupsi ekosistem ini.
Memberikan akses bukan berarti mencapai kualitas, hal ini sudah terbukti menjadi akar dari puluhan tahun krisis pembelajaran. Memiliki gawai bukan berarti murid melalui proses yang terpersonalisasi apalagi memegang kendali atas pembelajarannya sendiri.
Seringkali teknologi hanya menjadi substitusi. Memindahkan kelas yang isinya ceramah dan berbagai instruksi satu arah ke layar aktivitas synchronous di waktu yang sama. Tidak ada umpan balik yang bermakna, paling banter ada aktivitas tambahan berupa kolaborasi sederhana dengan teman sekelas yang itu-itu saja.
ADVERTISEMENT
Penguatan proses pasif dalam belajar, hal yang sebenarnya secara paedagogis tidak baik dilakukan, secara tidak sadar pun kita pertahankan dengan berbagai alasan. Teknologi kita puji karena mampu melakukan efisiensi - menyebarkan dengan cepat satu resep yang sama lewat video atau bacaan pada ribuan kelas dan jutaan murid. Kita lupa bahwa semua materi dan informasi, perlu kontekstualisasi, menjadi lebih efektif bila sumber inspirasi dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sudut pandang paedagogi yang sedikit berbeda, dan terdengar lebih “mulia” adalah kegemaran anak terhadap konten “pendidikan” yang mampu menghiburnya. Animasi yang lucu, rumus cepat untuk menjawab soal yang jitu, begitu banyak gratifikasi instan untuk penjejalan pengetahuan atau deretan bahan yang wajib dituntaskan. Kita lupa, bahwa pembelajaran bukan hanya perlu menyenangkan, tapi perlu tantangan bermakna. Memastikan materi membahas esensi, dikonsumsi secara aktif dengan urutan dan struktur yang sesuai, menjadi fondasi yang pada akhirnya mendorong anak berkreasi - semua ini adalah kriteria pembelajaran berkualitas dengan atau tanpa teknologi. Namun indikator-indikator ini jarang diperbincangkan saat kita mengevaluasi pembelajaran daring atau blended dengan teknologi.
ADVERTISEMENT
Variasi aktivitas sesuai berbagai tujuan pembelajaran, modifikasi kegiatan dalam bentuk sumber daya beragam, interaksi dengan teman belajar dan narasumber berbeda yang jarang bisa diakses lewat tatap muka di sekolah, sesungguhnya adalah keunggulan desain dengan teknologi yang harus kita kuasai.
Diferensiasi strategi dan durasi pembelajaran tatap muka, berstruktur dan mandiri, sesuai dengan tahap perkembangan, tujuan pembelajaran dan kebutuhan lingkungan - seharusnya dipelajari di masa pandemi, untuk kemudian bisa terus diimplementasi sesudah kegiatan sekolah dimulai kembali.
Yang dibutuhkan ekosistem ini adalah perubahan paradigma yang nyata, redefinisi tujuan belajar untuk menumbuhkan kompetensi masa depan.
Teknologi pasti bisa menjadi salah satu pengungkit dari kegawatdaruratan pendidikan, tetapi mari berharap lebih banyak lagi pada teknologi sebagai solusi - jangan bahagia karena kemampuannya menyelenggarakan pembelajaran yang lebih murah dan mudah saja.
ADVERTISEMENT
Dalam banyak hal, kekaguman pada kebaruan kemasan memang bagaikan pisau bermata dua bagi kita.
Di satu sisi, adopsi inovasi butuh keinginan mencoba (juga dasar percaya) sebelum sampai pada kematangan adaptasi menggunakannya. Memberi waktu lebih pada semua komunitas dan organisasi dalam penggunaan teknologi pendidikan ini menjadi sesuatu yang perlu sama-sama kita advokasi.
Di sisi lain, klarifikasi aspirasi, konsistensi implementasi serta kesempatan refleksi, pemetaan dampak dan konsekuensi adalah syarat mutlak keberhasilan inovasi yang seharusnya juga menjadi kriteria mutlak dalam semua proses inovasi pendidikan, termasuk yang berbasis teknologi. Umpan balik berkelanjutan, membiasakan budaya data dalam pendidikan, adalah tujuan jangka panjang yang perlu kita upayakan.
Ekosistem pendidikan perlu punya harapan sekaligus tuntutan yang tinggi saat melakukan adopsi teknologi. Bukan hanya karena pandemi, tetapi karena kita semua percaya bahwa yang dibutuhkan puluhan juta anak Indonesia bukan hanya perubahan sementara.
ADVERTISEMENT
Memahami tantangan ke depan, mengupayakan perbaikan, adalah tujuan utama pendidikan - kita perlu menolak pasrah menerima krisis pembelajaran sebagai situasi “apa adanya”, kita perlu percaya bahwa teknologi DAN PAEDAGOGI adalah kombinasi kunci dari solusi. Dan kalau ada satu hikmah terbesar dari wabah, kita perlu menyadari bahwa rasa berdaya untuk beraksi, melakukan lebih di berbagai situasi, adalah modal utama untuk keluar dari masalah.