kumparan
search-gray
Mom23 Desember 2018 5:48

Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Drama Ibu dan Putrinya

Konten kiriman user
Ilustrasi ibu dan anak berpelukan.
Ilustrasi ibu dan anak berpelukan. (Foto: Shutterstock)
Menyaksikan ibu kita menua, melepaskan anak kita menjadi dewasa, adalah salah satu pelajaran hidup yang bermakna. Mengobservasi perbedaan tubuh dan keluhan fisiknya, jauh lebih mudah - dibanding memahami proses psikologis yang dialami dalam hubungan kita.
ADVERTISEMENT
Anak dan orang tua sering punya kacamata yang berbeda. Tantangan peran kita saat ini - di sekolah dan kampus, tempat kerja dan rumah, membuat kita punya harapan tinggi akan hubungan ibu pada anak perempuannya. Yang kita sering lupa, harapan dalam hubungan selalu dua arah. Sebagaimana anak ada di tahapan perkembangan yang berbeda, ibu juga berproses dalam kehidupannya.
Yang seringkali membuat komplikasi, ibu maupun anak perempuannya, sama-sama ingin mendapat validasi tetapi di sisi lain merasa terintimidasi. Banyak perempuan berbagai usia, yang terombang-ambing diantara dua emosi ini, sampai puluhan tahun lamanya.

Menyaksikan ibu kita menua, melepaskan anak kita menjadi dewasa, adalah salah satu pelajaran hidup yang bermakna.

- -

Anak yang mengupayakan kebebasan mengambil keputusan, merasa terpenjara oleh ibu yang khawatir saat melepaskan sebagian tanggung jawabnya. Ibu yang sangat memperhatikan reputasi dan apa kata orang, merasa terinvasi privasi dan harga dirinya saat melihat ekspresi anak yang dianggap berlebihan dibanding masanya.
ADVERTISEMENT
Anak yang menikmati luasnya pergaulan dengan teman, berhadapan dengan ibu yang kesepian. Ibu yang ingin melibatkan diri dan membuktikan cintanya pada cucu, bersebrangan dengan anak yang sedang bersemangat membangun keluarga ideal yang baru. Alih-alih berkolaborasi dalam mendukung peran masing-masing sebagai perempuan - diakui atau tidak, hubungan anak perempuan dengan ibu seringkali penuh tantangan.
Bukan, ini bukan tentang anak durhaka pada ibunya, apalagi ibu yang berkurang cintanya pada anaknya. Ini tentang kita yang sama-sama menjalani krisis yang wajar terjadi - tetapi tidak pernah mencoba cara baru menuju solusi. Ini tentang ibu yang cemas bahwa anak perempuannya akan mengulang kesalahan yang sama - kecemasan yang niscaya pasti ada, dan diinterpretasi oleh anaknya sebagai bentuk tidak percaya.
ADVERTISEMENT
Sehingga membuat keduanya lupa, bahwa upaya intervensi ibu sebenarnya tanda cinta. Ini tentang anak perempuan yang selalu mengidolakan dan ingin sekuat ibunya, tetapi disalahpahami ibu sebagai tanda tidak lagi membutuhkannya. Sehingga membuat keduanya lupa, bahwa upaya mandiri anak sebenarnya tanda cinta.

Sehingga membuat keduanya lupa, bahwa upaya intervensi ibu sebenarnya tanda cinta.

- -

Tanpa kompromi dan introspeksi, pertanyaan tentang pola makan sampai calon pasangan bisa dianggap ketidaksetujuan. Tanpa negosiasi dan refleksi, kritikan pada pilihan pakaian atau dukungan pengasuhan, bisa dianggap sebagai tuduhan.
Ambisi pribadi dan ambisi kepada putri sendiri, perlu dibedakan sejak dini. Agar cita-cita jadi bermakna untuk yang bersekolah dan bekerja, bukan hanya untuk menyenangkan orang tua. Prediksi tentang anak maupun pemahaman tentang reaksi orang tua, belum tentu tepat adanya.
ADVERTISEMENT
Kita masing-masing punya sifat bawaan dan kebiasaan yang berbeda, walau sedarah. Kondisi yang menjadi kesepakatan keluarga, perlu terus dibicarakan bersama. Zaman berubah, definisi tentang apa yang wajar dan tidak bagi anak dan orang tua bisa tidak 100 persen sama.
Cinta antara ibu dan anak perempuan di usia balita, menginjak remaja dan sudah berumahtangga - bukan saja mungkin - tetapi memang seharusnya muncul dalam bentuk yang berbeda.
Peringatan dan perlindungan tidak pernah cukup, karena anak kita butuh mengalami, butuh berdaya menolong dirinya sendiri. Permohonan izin dan penghormatan tidak pernah berlebihan, karena ibu kita butuh mengantisipasi, butuh percaya bahwa anak bisa memilih jalannya sendiri.
Menjadi dewasa bersama Ibu, bukan hanya soal bertukar baju dan sepatu - tetapi saling meminjamkan hati, di saat yang lain butuh. Menjadi tua bersama putri sendiri, bukan hanya soal berbagi memori atau mimpi - tetapi saling menumbuhkan percaya diri, di saat yang lain belum berani.
ADVERTISEMENT
#hariperempuan #hariibu #cintauntukperempuanyangtidaksempurna #semuamuridsemuaguru
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white