• 7

USER STORY

Semua Murid Semua Guru: 9 Hal Salah Kaprah Tentang Sekolah Usia Dini

Semua Murid Semua Guru: 9 Hal Salah Kaprah Tentang Sekolah Usia Dini


Sekolah Dasar

Sekolah Dasar (Foto: Thinkstock)
Setiap belajar tentang pendidikan, Insyaallah, saya berusaha melihat substansi dari berbagai sudut pandang, bekerja dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan; mengajar di perguruan tinggi di bidang Psikologi Perkembangan, melakukan konseling dan terapi anak dan keluarga, mendirikan prasekolah sampai sekolah menengah dan kampus guru, bergiat dengan relawan pendidikan keluarga dan penggerak guru belajar (termasuk guru PAUD) di ratusan daerah, peneliti di pusat studi pendidikan dan kebijakan. Dalam semua proses ini, banyak percakapan tentang sekolah usia dini yang saya dengar. Sayangnya, kebanyakan opini berdasar asumsi, bukan dengan data dan bukti.
Berikut ini saya mengumpulkan beberapa pertanyaan yang rentan salah kaprah, dan sering sekali diajukan di berbagai kesempatan.
1. Kenapa Anak usia dini harus belajar, dan apakah harus di sekolah?
Anak sudah siap belajar sejak lahir. Banyak perbedaan pendapat tentang tujuan dan cara dalam pendidikan, yang semuanya perlu dipahami dan dihargai. Tetapi, satu dari sedikit hal yang disepakati berdasarkan data dan bukti adalah pentingnya stimulasi usia dini. Riset tentang pesatnya perkembangan otak, pentingnya kelekatan (attachment) hubungan, pembiasaan rutinitas dan komunikasi yang positif sejak anak di usia dini sudah sangat amat banyak*.
Pencapaian tujuan pendidikan, bukan hanya memerlukan sekolah (lembaga pendidikan), tetapi juga peran keluarga, makanan, bacaan dan tontonan, teladan dari lingkungan bahkan sampai kebijakan pemerintah. Anak usia dini bisa terdidik dan stimulasi tanpa sekolah, bahkan anak usia menengah dan dewasa pun bisa saja dididik di jalur non formal dan informal lewat pusat belajar masyarakat, sekolah jarak jauh dengan teknologi atau homeschooling.
Situasi setiap anak dan keluarga ataupun negara bisa berbeda. Hak anak untuk dididik sejak dini harus dilindungi, keputusan orangtua tentang anaknya, yang sudah melalui banyak pertimbangan, harus dihormati.
2. Siapa yang paling membutuhkan pendidikan usia dini?
Yang paling diuntungkan dengan pendidikan di usia dini adalah anak-anak yang berada di tingkat sosial ekonomi menengah-bawah, mereka yang selama ini tidak mendapat kesempatan stimulasi sebelum pendidikan dasar, dan sering datang di usia sekolah dengan ketertinggalan capaian. Sebagian besar kesenjangan antara anak, misalnya kosa kata yang terbatas, gizi yang tidak tepat, tidak mampu dikejar seumur hidup setelah usia 3 tahun.
3. Benarkah orangtua yang menyekolahkan anak di usia dini adalah orangtua yang tidak berilmu, sekadar ikut tren, atau hanya menyerahkan tanggung jawab?
Semua orangtua punya modal cinta pada anaknya, menghakimi intensi orangtua bukan tindakan yang terpuji. Menjadi orangtua adalah proses belajar yang terus-menerus untuk mencintai dengan lebih baik.
Data menunjukan, keterlibatan orangtua dalam pendidikan adalah faktor penentu keberhasilan anak. Orangtua adalah pendidik pertama dan utama. Dukungan bagi orangtua bisa datang dari berbagai pihak; keluarga besar, petugas kesehatan atau guru, sesama orangtua. Semakin banyak yang terlibat dalam pendidikan anak, semakin besar jaringan kekuatan, baik untuk anak maupun orangtua yang bersangkutan.
Adanya kebiasaan saling menilai atau merasa lebih benar antar orangtua, menakut-nakuti atau melabel berlebihan dari ahli adalah bagian dari budaya yang harus kita lawan, bukannya disuburkan.
Beberapa penelitian berkait orangtua yang menyekolahkan anak di usia dini, justru menunjukkan pemahaman tentang pentingnya stimulasi, usaha untuk memberikan rangsangan yang optimal, juga upaya menerapkan apa yang didapatnya di sekolah dalam situasi rumah. Ini tentu saja bukan berarti orangtua yang tidak menyekolahkan anaknya adalah yang ketinggalan zaman atau lebih tidak peduli. Mari berhenti menggeneralisasi.
4. Apakah benar anak usia dini tidak perlu dikembangkan motorik halusnya sampai motorik kasarnya “selesai” dan tidak perlu stimulasi aspek kognitifnya, cukup aspek emosi dulu?
Stimulasi dan tahap perkembangan anak perlu dilakukan bersamaan. Misalnya, tidak benar bahwa anak usia dini tidak perlu dilatih motorik halusnya. Baik perkembangan motorik kasar maupun motorik halus dimulai sejak dini, bentuknya memang berbeda tetapi saling berkaitan dalam tahapannya. Coba amati anak usia 1 tahun - ia berlatih jalan dan naik undakan (motorik kasar) , tetapi juga berhenti mengambil benda kecil yang ada di lantai dengan hati-hati (motorik halus). Di usia remaja pun keterampilan motorik kasar seperti kekuatan, ketahanan dan kelenturan tetap perlu dilatih, sambil mengeksplorasi motorik halus lewat kegiatan prakarya dan seni.
Perkembangan emosi anak berhubungan dengan perkembangan kognitif (dan juga aspek lainnya). Mari kembali ke contoh anak 1 tahun tadi. Saat ia makan bersama teman dan orangtua- ia mendapat kesempatan stimulasi semua aspek perkembangan. Melatih memegang sendok (motorik), menjatuhkan sendok dengan sengaja yang diambilkan orangtua (kognitif - sebab akibat), menutup mulut atau menangis saat kenyang atau tidak suka (ekspresi emosi), mengenal kata sederhana yang diucapkan orang lain seperti enak dan mulut (bahasa), juga berdoa sebelum mulai (spiritual). Perkembangan anak bagaikan bangunan yang memiliki berbagai sisi dan tidak bisa dipisahkan dengan sekadar urutan, tetapi sirkular saling berkaitan.
5. Benarkah semua anak yang bersekolah di bawah usia 7 tahun akan bosan belajar?
Hasil sintesa dari berbagai penelitian menunjukkan kebosanan belajar tidak ditentukan oleh kapan masuk sekolah, tetapi oleh apa yang terjadi di dalam sekolah. Apakah sekolah tersebut mempunyai guru yang menjalin hubungan hangat, memberikan program yang menumbuhkan keingintahuan, materi yang berhubungan dengan kehidupan, memberi tantangan pada anak berkait minat dan bakatnya adalah prediktor utama dari motivasi belajar yang terus tumbuh.
Satu hal yang penting digarisbawahi, belajar adalah fitrah manusia dari buaian hingga liang lahat. Sekolah yang baik, menguatkan disposisi ini. Sekolah yang mematikan motivasi belajar dengan beban hafalan yang membosankan, menempatkan nilai ujian (walau harus curang) sebagai satu-satunya tujuan, membiasakan hubungan yang saling mengancam adalah penyebab anak menolak belajar. Hal ini perlu dicegah di segala jenjang pendidikan dan usia.
Saat individu (atau kelompok dan organisasi) belajar, kurva yang kita inginkan adalah kurva S yang berkelanjutan. Tidak ada point menurun seperti tapal kuda tetapi justru semangat “performa unggul” sepanjang hayat.
6. Apakah ada faktor resiko sekolah di usia dini dan bagaimana cara mencegahnya?
Beberapa data menunjukkan ada kemungkinan efek negatif dari prasekolah, tetapi resiko ini bisa dicegah. Beberapa di antaranya;
A - Dalam proses sosialisasi, anak bisa meniru perilaku dari teman sebaya yang tidak tepat, misalnya menggunakan kata kasar. Kita bisa mencegah perilaku buruk apabila guru dan orangtua menerapkan disiplin positif, membiasakan kesepakatan; tanpa kekerasan dan memperbanyak dukungan. Pada akhirnya yang ditumbuhkan justru perilaku baik yang menjadi dominan dan anak-anak yang masih punya masalah perilaku belajar berinteraksi dengan lebih baik.
B - Anak di usia dini bisa terbebani secara akademis dan mengalami stress berlebihan. Karenanya kita perlu memastikan bahwa tujuan program bukan nilai dan keterampilan akademis yang dipaksakan, misalnya memaksa anak duduk terlalu lama atau latihan mengeja saat belum siap. Selain itu aktivitas bermain di sekolah maupun rumah perlu sesuai tahapan perkembangan, ada keseimbangan antara permainan individual dengan kelompok, aktivitas fisik yang melatih daya tahan dengan aktivitas tenang yang membiasakan konsentrasi. Di usia dini, jumlah kegiatan tidak berstruktur di mana anak diberi kebebasan juga harus lebih banyak, misalnya bermain pura-pura dan memilih mainan atau bacaan yang akan dieksplorasi.
C - Anak mungkin menjauh hubungannya dengan orangtua bila sering berpisah saat sekolah. Kualitas hubungan dengan orangtua tetap paling penting dalam kehidupan anak, karenanya pilih jadwal di sekolah yang tidak terlalu panjang dan tidak setiap hari. Orangtua juga perlu terlibat dalam mengantar/jemput serta mendampingi anak, serta terus berkomunikasi aktif dan bertukar informasi dengan guru.
7. Bagaimana panduan memilih sekolah usia dini?
Panduan utama memilih sekolah (di usia berapapun) berkait dengan lima faktor utama. Di usia dini, secara spesifik begini implementasinya.
A - Kebutuhan Anak
Setiap anak punya sifat bawaan, yang akan mempengaruhi stimulasi yang dibutuhkan. Misalnya ada anak yang tingkat aktivitasnya tinggi sehingga butuh banyak kegiatan bergerak, ada yang lebih sulit beradaptasi sehingga butuh transisi lebih lama saat perpisahan, ada yang lebih mudah terdistraksi sehingga butuh latihan dini untuk konsentrasi.
Pilih sekolah yang programnya sesuai dengan tahapan perkembangan anak, tidak hanya menstimulasi satu aspek, misalnya hanya motorik saja atau hanya emosi saja. Tetapi pastikan juga sekolah memahami kebutuhan anak yang unik dan kesiapannya yang mungkin berbeda dengan teman sebaya.
B - Kebutuhan Orangtua
Salah satu yang paling dibutuhkan orangtua di usia dini adalah dukungan dari lingkungan dan teman sesama orangtua untuk berbagi cerita.
Pilih sekolah yang memfasilitasi proses belajar antar orangtua dan memberi panduan orangtua untuk mempraktikkan apa yang dilakukan di rumah.
C - Tujuan Kurikulum
Aspek terpenting yang dibiasakan di usia dini adalah kesiapan belajar. Stimulasi berkait bahasa dan literasi, seperti kebiasaan bercerita, membacakan dan mempercakapkan buku adalah bagian yang esensial dari belajar di usia ini. Selain itu anak perlu dibiasakan dengan rutinitas dan kesepakatan - termasuk mandiri dalam berbagai tugas sehari-hari, berbagi perhatian dan barang dengan orang lain, interaksi dengan berbagai usia (sebaya, lebih kecil dan lebih tua).
D - Budaya Sekolah
Apakah sekolah memperhatikan aspek kesehatan (misalnya membiasakan makanan sehat), apakah interaksi antar guru terlihat hangat, anak-anak di usia dini banyak tertawa dan tidak tertekan, semua hal ini bisa diamati.
Pilih sekolah yang anak maupun orangtua merasa nyaman dalam suasana kelas maupun luar kelas. Referensi dari orangtua lain yang sudah menjadi bagian dari komunitas seringkali menjadi sumber informasi berarti.
E - Sarana dan Prasarana
Fasilitas yang baik bukan berarti mewah dan berlebihan, tetapi yang digunakan maksimal.
Pilih sekolah usia dini yang suasana ruangannya semirip mungkin dengan rumah. Pastikan fasilitas memperhatikan aspek keamanan, misalnya ada alat pemadam kebakaran, besar jeruji tangga dan letak rak buku yang sesuai. Rasio guru dan anak juga penting, di usia dini pastikan jumlah anak dalam kelas juga tidak terlalu banyak.
8. Apa keuntungan sekolah di usia dini?
Anak-anak yang melalui masa prasekolah mendapatkan manfaat bukan hanya di usia dini, tetapi bertahan sampai ke usia dan jenjang sekolah berikutnya, bahkan berefek juga bagi keluarganya. Beberapa dampak positif yang ditemukan penelitian, antara lain:
A - Anak yang mendapat pendidikan di usia dini, lebih optimal tahap perkembangannya.
Data menunjukkan bahwa perkembangan kognitif dan bahasanya lebih baik, kesiapan sekolah seperti minat baca dan daya tahan menyelesaikan tugas lebih terlatih. Selain itu beberapa kebiasaan baik seperti makan sehat (termasuk pemberian ASI lebih lama), kemampuan beradaptasi dan kemandirian lebih tinggi.
B - Mendukung peran orangtua
Orangtua mendapat dukungan dari lingkungan sekolah, guru maupun sesama orangtua dalam interaksi dan proses belajarnya. Tekanan dan kesehatan emosional orangtua, termasuk karena adanya waktu “berpisah” dengan anak selama beberapa jam, memberi kesempatan orangtua (terutama Ibu) mengeksplorasi minat (membaca dan studi tambahan) juga peran lain dalam aktivitas sosial (POMG atau di rukun tetangga) maupun ekonomi yang fleksible (wirausaha, kerja paruh waktu) sesuai kondisinya.
C - Deteksi dan Intervensi Dini
Salah satu kunci kesuksesan sekolah dasar, di usia 6-7 tahun adalah kesiapan belajar anak tanpa hambatan. Beberapa masalah belajar seperti masalah sensoris, konsentrasi, sosialisasi sampai anak berkebutuhan khusus dengan diagnosa psikologi seperti spektrum autisme atau keterlambatan akan lebih mudah diatasi bila dilakukan deteksi dan intervensi dini. Masuk sekolah di usia dini, bertemu dengan guru dan sekolah yang ahli serta memiliki pengalaman dengan beragam anak, membantu proses diagnosa dan penanganan untuk anak-anak ini dan dukungan bagi orangtuanya untuk lebih siap menghadapi masalah.
9. Apakah sekolah yang bagus haruslah sekolah mahal?
Bagus tidak didefinisikan dengan uang sekolah, tapi lewat kualitas yang diberikan oleh pendidikan. Biaya yang besar mungkin saja dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan mutu dan anak, misalnya untuk membangun laboratorium yang jarang digunakan, padahal akan lebih berdampak bila terus meningkatkan kompetensi guru yang beinteraksi dengan anak.
Bagus juga berkaitan dengan konteks, sekolah yang bagus memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar untuk membuat anak mengenal lingkungan. Jadi sekolah bagus di pedalaman Sumba akan nampak berbeda dan mengajarkan hal yang unik dibanding sekolah bagus di lingkungan perkantoran di Jakarta.
Mencegah masalah sejak usia dini sebelum sekolah jauh lebih efektif dan efisien dibanding memperbaiki masalah setelah anak putus sekolah, remaja melakukan kejahatan dan orang dewasa tidak mendapat kerja. Menggalakkan pendidikan usia dini dalam bentuk program yang baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal adalah salah satu bagian dari Sustainable Development Goals Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang didukung Indonesia. Karenanya, kemajuan bangsa lewat pendidikan sedini mungkin, seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah lewat program prioritas, kita di masyarakat lewat dukungan bukan justru saling menyalahkan.
Mari melawan miskonsepsi dan menghindari simplifikasi. Mohon ingat hal ini, sebelum anda berkomentar atau membagi tulisan ini. Semoga pertanyaan dan jawaban di atas memantik percakapan lanjutan di antara kita.
*James Heckman, peraih Nobel yang mengadvokasi pendidikan usia dini dan Howard Gardner (pelopor teori Multiple Intelligences) dan tim dari Project Zero- Harvard University adalah dua tokoh dengan reputasi baik yang datanya selalu saya rekomendasikan untuk dipelajari lebih jauh.

PendidikanSekolahKesehatan AnakKesehatanBalitaPengasuhan AnakPendidikan KarakterPAUDBayi

presentation
500

Baca Lainnya