Opini & Cerita
·
16 Juli 2019 9:47

Sentakan 'Dua Garis Biru' yang Menyadarkan

Konten ini diproduksi oleh Najelaa Shihab
Sentakan 'Dua Garis Biru' yang Menyadarkan (19431)
Jumpa pers film 'Dua Garis Biru', di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/6). Foto: Giovanni/kumparan.
'Dua Garis Biru' bukan sekadar film tentang dua remaja, tapi juga tentang perasaan yang tidak sederhana. Pilihan 'kecil' yang membawa seluruh anggota keluarga pada keputusan yang berbeda. Gina S Noer, sahabat saya tercinta, membuat skenario dan menjadi sutradara film 'Dua Garis Biru' dengan sepenuh hatinya. Saat menonton, saya seolah sedang berpikir dan merasa bersamanya.
ADVERTISEMENT
Menjadi orang tua memang tidak mudah. Saya tidak pernah bertemu seseorang yang mengatakan bahwa perjalanannya sebagai anak maupun ibu dan ayah, adalah proses yang sempurna. Walau tentu saja, kalau kita hanya melihat unggahan di media sosial, susah untuk tidak terpana melihat hijaunya rumput tetangga. Tak heran, walau tahu betapa menantangnya kehidupan anak, remaja, dan keluarga, salah satu delusi terbesar yang 'melindungi' kita adalah keyakinan bahwa segala keburukan 'hanya akan terjadi pada keluarga yang berbeda, bukan pada anak dan saya'.
Menjadi mudah untuk sebagian kita, menilai orang lain sebagai anak durhaka atau orang tua yang tidak bersikap bijaksana. Di sisi lain menjadi mudah pula untuk sebagian kita, mengabaikan kondisi anak sendiri yang ada di pelupuk mata, atau mendiskon kesalahan sendiri sebagai orang tua dengan alasan 'sekali ini saja'. Tidak ada satu hubungan pun di dunia yang begitu penuh pembenaran dan pemakluman, namun juga penghakiman dan pengharapan, sebagaimana hubungan orang tua pada anak dan anak pada orang tua.
ADVERTISEMENT
Satu hal yang terus berulang di kepala saya, yaitu anak yang baik dari orang tua yang baik, akan menjadi orang tua yang baik dari anak yang baik, dan anak baik tersebut akan punya anak yang lebih baik lagi, dan seterusnya dalam lingkaran keluarga yang diturunkan dari masa ke masa. Kata 'baik' yang berulang pada kalimat sebelum ini, bisa anda ganti dengan sejuta kata sifat dan keterangan lainnya seperti terhormat, pintar, kaya, atau nakal, gagal, dan sengsara. Begitu banyak yang diwariskan dan dipertahankan dalam keluarga. Karenanya, apapun dan siapapun yang melanggar kesepakatan bersama tentang apa dan siapa yang bisa diterima, akan selalu dianggap musuh bersama.
Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi pada Dara dan Bima yang membuat 'kejutan' dalam pola masing-masing keluarga. Dalam situasi normal saja, punya anak remaja sering kali membuat orang tua merasa sama galaunya.
ADVERTISEMENT
Dalam cerita ini, karakter-karakter yang luar biasa membuat kita semua yang menontonnya tersadar akan beberapa hal tentang diri dan keluarga. Setiap anggota keluarga adalah manusia, yang terlepas dari status dan perannya, punya mekanisme beragam dan orbit berbeda.
Ayah dan ibu sebagai pasangan dan sebagai orang tua, bisa punya nada bicara yang lebih tinggi atau lebih rendah. Remaja perempuan kepada ibu dan ayah, bisa menyatakan sayang dengan lebih terbuka atau tertutup ekspresinya. Pasangan remaja dengan cinta yang muda, pasangan matang dengan cinta yang dewasa, yang memandang tanggung jawab (pada tetangga dan pada Allah) dengan banyak makna.
Para orang tua merasa kehilangan kendali atas anak-anak dan dunianya, begitu mendengar berita bahwa anak-anaknya akan punya anak. Sentakan yang menyadarkan, bahwa sejatinya kendali mereka pada anak-anaknya 'tidak pernah ada' bahkan sejak hari pertama. Tugas terberat orang tua adalah menumbuhkan anaknya untuk berdaya. Memberi informasi, mempraktikan komunikasi dan konsistensi, memfasilitasi kesempatan mengekspresikan emosi, serta meneladankan pengendalian diri. Semua ini adalah esensi dari pendidikan seks dan reproduksi.
ADVERTISEMENT
Remaja kita butuh lebih dari sekadar tahu betapa berdosanya berzina, atau betapa rentannya persalinan di usia muda. Balita kita, butuh lebih dari sekadar mengenali nama alat kelamin pria dan wanita, atau betapa pentingnya mengatakan 'tidak' saat ada yang menyentuhnya. Semua anak dan orangtuanya butuh bukti setiap hari, bahwa berada dalam keluarga berarti beredar dalam orbit yang sama, serta secara sukarela berkomitmen pada norma dan nilai yang dipercaya dan dijaga.
Semoga semakin sedikit anak dan orang tua yang terisolasi dalam sel-sel berbeda dengan rumah sebagai penjaranya. 'Dua Garis Biru' sesungguhnya adalah film yang akan melintasi banyak garis waktu. Bukan hanya durasi menonton di bioskopnya (mulai hari ini di ratusan layar di seluruh Indonesia), tapi juga memantik percakapan di ruang kelas dan keluarga yang sangat susah ditembus temboknya, melampaui sekat kecanggungan dan ketakutan lintas generasi yang menghantui topik seksualitas dan edukasi.
ADVERTISEMENT