• 4

USER STORY

Mencicipi Jamuan Istana

Mencicipi Jamuan Istana


Politik memang unik. Bahasannya merentang luas dari soal citra sampai soal negara. Mediumnya pun beragam, dari debat panas di ruang parlemen, sampai pada jamuan hangat di meja makan. Semuanya sama, politik bicara soal kepentingan dan kekuasaan.
Baru-baru ini, berita politik nasional disegarkan lewat sebuah pertemuan. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), berkunjung ke istana kepresidenan dengan tujuan bertemu kepala negara. Namun, yang lebih menyita perhatian, adalah perjumpaannya dengan si anak sulung, Gibran Rakabuming Raka (Gibran).
Kunjungan AHY ke istana cukup mengejutkan. Bagaimana tidak, sebelumnya, pertemuan ayahanda Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto di Cikeas, dinilai banyak kalangan sebagai bentuk unjuk kekuatan pada sang empunya kekuasaan.
Beranjak dari anggapan ini, kehadiran AHY di istana tentu bisa menyiratkan banyak pesan dan dugaan. Apakah kedatangan AHY adalah sebentuk upaya rekonsiliasi politik? Sepertinya terlalu sederhana jika itu jawabannnya.
Yang jauh lebih menarik adalah kehadiran Gibran siang itu. Gibran sebelumnya jarang unjuk muka di istana. Alih-alih mengekor sang bapak di layar media, Gibran lebih memilih fokus berniaga dengan usaha kulinernya.
Dalam keterangan pers, Gibran mengatakan sengaja datang guna menghidangkan santapan gudeg dan bubur lemunya bagi AHY. Namun, apakah iya, hanya sebuah kesengajaan dengan tujuan menghidangkan makanan semata adalah alasan dibalik kehadiran Gibran? Dalam politik, alasan ini bisa dianggap sebagai retorika kosmetik di permukaan saja.
Apa yang dilakukan Gibran dan makanan yang disajikannya, dapat dibaca sebagai sebuah respon politik. Ketika SBY bertemu Prabowo, komunikasi politik diwakilkan pada simbol kuliner “nasi goreng” Cikeas, yang diklaim menyaingi nasi goreng Hambalang ungkap Prabowo kala itu.
Begitupun gudeg bubur lemu yang disajikan istana. Dengan kehadiran Gibran, Jokowi seolah hendak mengirim pesan. AHY sebaiknya bicara dengan anaknya saja. Sebagai sesama putera mahkota, mereka setara untuk dapat duduk "semeja" . Beda kalau yang datang sang ayahanda (SBY), seperti sebelumnya, mungkin Jokowi langsung yang akan menghidangkan “makanan”, tentu dengan cara yang berbeda.
Fenomena Nasi Goreng Cikeas dan Gudeg Bubur Lemu Istana, sebagai sebuah simbol, mengajak kita ingat kembali fungsi meja makan sebagai media komunikasi politik.
Secara lebih dalam, meja makan sebenarnya adalah sebuah representasi penerimaan akan kesetaraan. Artinya, orang yang duduk bersama dengan tuan rumah dalam meja yang sama, adalah sebentuk pengakuan pada ekualitas kedudukan.
Menjadi penting, melihat pertemuan AHY dan Gibran siang itu sebagai sebuah peragaan bekerjanya simbol-simbol dalam sebuah komunikasi politik.
Ke depan, tukar-menukar pesan dalam bentuk lain, kiranya akan semakin jamak ditemukan. Mengingat, kendati hari ini kita berdiri dan hidup di tahun 2017, untuk banyak aktor politik, hati dan pikiran mereka sudah ada di 2019.
Bagi publik, yang sudah membayar mahal tiket melalui pemilu, menyaksikan sebuah pertujukan dan pagelaran politik yang menarik adalah hal yang sepadan. Oleh sebab itu, setiap aktor sejatinya harus dapat tampil maksimal dalam setiap kesempatan.
Tampilan melalui citra, tutur bicara, dan tentu macam-macam akrobat lainnya, semoga dapat memuaskan dahaga publik. Kalau tidak, jangan salahkan mereka mencari penebusan rasa hausnya pada mata air yang berbeda.
Makanan boleh saja menjadi wacana dan simbol dalam hingar-bingar politik kaum elit. Tapi, bagi sebagian manusia Indonesia, makanan terlalu berharga dan langka untuk diperlakukan sebagai simbol belaka. Makanan, bagi mereka, adalah soal kehidupan yang harus nyata: makan ya makan! Dan pada politik, mereka titipkan anak-anaknya kelak, agar tetap tidak akan kekurangan makanan dan tentu hiburan. []










Istana PresidenPolitikJoko WidodoSusilo Bambang YudhoyonoAgus Harimurti Yudhoyono

500

Baca Lainnya