kumparan
search-gray
Opini & Cerita16 Juni 2020 10:30

Taiwan Selama Pandemi: 180 Derajat Terbalik dengan Indonesia

Konten kiriman user
Taiwan Selama Pandemi: 180 Derajat Terbalik dengan Indonesia (316902)
Suasana Feng Chia Market, salah satu night market di Taiwan, yang masih dipadati pengunjung meskipun selama pandemi/ Sumber: instagram
Akhir Januari 2020, dunia dihadapkan ketakutan yang disebabkan oleh fakta penyebaran COVID-19 secara masif ke seluruh penjuru dunia. Dimulai dari Cina yang kemudian menyebar ke negara tetangganya, Jepang, Korea, dan beberapa negara di Asia Tenggara, hingga ke negara-negara di belahan benua lain seperti Amerika, Italia, dan Spanyol.
ADVERTISEMENT
Sebagai negara yang berjarak hanya kurang lebih 580 mil dari Wuhan, Taiwan menjadi salah satu negara yang diyakini akan menjadi salah satu negara yang paling terdampak dari pandemi sebagaimana negara tetangga lainnya.
Namun, tanpa disangka Taiwan justru diperhitungkan menjadi salah satu negara terbaik dalam penanganan wabah COVID-19.
Terhitung sejak 15 Juni 2020, kasus COVID-19 di Taiwan positif menginfeksi 445 pasien dari 74.409 orang yang sudah dites. Angka kematian pun tercatat sangat rendah yaitu 7 orang. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Indonesia yang mencapai angka 32.294 positif COVID-19 dengan 2.198 jumlah kematian.
Lebih jauh, Taiwan juga sudah melakukan testing dengan jangkauan penduduk yang lebih luas dibandingkan Indonesia. Tercatat jumlah rasio testing yang sudah dilakukan Taiwan mencapai 3.124 per satu juta penduduk, sedangkan Indonesia hanya 1.913 per satu juta penduduk.
ADVERTISEMENT
Cukup jauh sebelum pandemi menyebar secara ganas dan agresif ke seluruh dunia, Taiwan rupanya sudah lebih dulu mencuri start untuk melakukan upaya pencegahan.
Pembatasan Wisatawan Lebih Dulu
Berbeda dengan banyak negara lain di dunia yang ‘terlambat’, Taiwan sudah mulai memberlakukan health screening kepada para penumpang yang baru tiba dari Wuhan, tepat pada 31 Desember 2019. Upaya ini ditujukan untuk mengantisipasi adanya penularan virus yang mungkin saja dibawa oleh penumpang dari Wuhan.
Kebijakan itu kemudian diperluas oleh pemerintah Taiwan dengan menetapkan pembatasan wisatawan dari Wuhan pada 26 Januari 2020. Alih-alih melakukan pembatasan wisatawan, pada hari yang sama Indonesia justru melakukan sambutan kedatangan pada wisatawan dari Cina yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau.
ADVERTISEMENT
Ketersediaan Masker
Ketegasan upaya Taiwan juga terwujud secara gamblang melalui kebijakannya untuk turun tangan dalam memastikan cukupnya ketersediaan alat kesehatan termasuk masker. Jauh sebelum Indonesia kalang kabut kekurangan ketersediaan masker di pasaran, pemerintah Taiwan justru sudah lebih dulu mendorong perusahaan lokal setempat untuk memperbanyak produksi masker sejak awal Februari. Selain itu, sistem rasionalisasi pembelian masker juga secara tegas diterapkan.
Seperti dilansir dari artikel Focus Taiwan, penduduk Taiwan diperbolehkan membeli dua masker dalam satu minggu di apotek terdekat dengan membawa kartu identitas. Sejalan dengan penambahan produksi masker, kebijakan itu kemudian dilonggarkan menjadi sembilan masker tiap dua minggu dan masker dapat dibeli melalui sistem order online.
Cukupnya ketersediaan masker di Taiwan bahkan berhasil menjadikan Taiwan sebagai produser masker terbesar kedua dan sekaligus sebagai salah satu negara yang melakukan ekspor masker ke negara terdampak pandemi. Sepuluh juta masker secara langsung didonasikan kepada negara-negara yang membutuhkan bantuan.
ADVERTISEMENT
Sekolah dan Perkantoran Berjalan Normal
Fakta bahwa lebih dari 100 negara menetapkan lockdown baik separuh maupun total, ternyata tak berpengaruh pada kebijakan pemerintah Taiwan. Bukannya menetapkan lockdown atau PSBB seperti di Indonesia, aktivitas sehari-hari di Taiwan justru masih berjalan dengan normal dan terkendali.
Walaupun beberapa sekolah dan universitas di Taiwan sempat mengadakan pembelajaran secara daring untuk mengantisipasi penyebaran virus di beberapa minggu pertama, kini semua sekolah dan universitas sudah kembali melakukan pembelajaran tatap muka di kelas.
Pun dengan para pekerja yang masih bekerja seperti biasanya dengan datang ke kantor. Transportasi umum masih selalu dipadati khususnya di jam-jam berangkat dan pulang kerja layaknya situasi normal tanpa wabah.
Work From Home rupanya bukan menjadi ‘sesuatu’ di Taiwan sebagaimana layaknya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pusat Perbelanjaan dan Hiburan Tetap Beroperasi
“Dari klub malam sampai night market masih buka dan beroperasi dengan normal di sini. Bedanya hanya mungkin di beberapa tempat seperti mall, restoran, dan tempat hiburan mewajibkan health screening sebelum masuk” ujar Fathimah Azzahra, mahasiswa Indonesia yang sedang melaksanakan pertukaran pelajar di Asia University, Taichung, Taiwan.
Hal ini mungkin akan sulit diterima mentah-mentah oleh warga Indonesia karena tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan dan tempat hiburan adalah tempat yang paling rentan menjadi arena penyebaran wabah.
Namun, Taiwan dapat mematahkan pandangan tersebut. Tagar #DiRumahAja rupanya tak perlu diterapkan di negeri formosa itu. Para warga masih dapat bepergian ke luar rumah mengunjungi tempat keramaian yang saat ini justru dihindari oleh masyarakat Indonesia.
Setiap memasuki pusat perbelanjaan dan tempat hiburan atau restoran sekali pun, orang-orang selalu dihadang dengan health screening yang cukup ketat. Penggunaan masker pun tak boleh terlewatkan. Bahkan di beberapa tempat orang yang tidak mengenakan masker akan dikenakan denda yang cukup besar, sekitar tiga ribu TWD atau satu setengah juta rupiah.
ADVERTISEMENT
Pemandangan social distancing juga cukup mewarnai tempat-tempat tersebut. Di restoran misalnya, setiap tempat duduk diberi jarak agar pengunjung tidak terlalu berdekatan atau bersebelahan. Bahkan di beberapa tempat satu meja dibatasi hanya untuk dua orang saja.
Mendekati Kurva Datar
Bukan hal baru bagi kita melihat penambahan kasus di Indonesia yang terus mengalami kenaikan. Tercatat pada 15 Juni 2020 terdapat penambahan 1.017 kasus baru setelah lima hari sebelumnya, 10 Juni 2020, Indonesia mengalami puncak penambahan kasus terbanyak yaitu 1.241 kasus baru.
Sebaliknya, selama dua belas hari berturut-turut sejak 2 Juni sampai dengan 14 Juni 2020, tidak ada penambahan kasus baru di Taiwan. Tak heran, pemerintahan yang dipimpin oleh Tsai Ing Wen itu cukup percaya diri untuk menyatakan bahwa COVID-19 di Taiwan mendekati nol kasus.
ADVERTISEMENT
Jika digambarkan dalam sebuah kurva, dua situasi yang kontras tersebut makin terlihat jelas. Kita akan menemui bahwa Taiwan sudah menuju berhasil mendatarkan kurva penambahan kasus atau istilahnya flatten the curve. Lain hal di Indonesia, kurva tersebut justru digambarkan masih menjulang tinggi secara signifikan karena adanya penambahan kasus yang masih mencapai ratusan dalam setiap harinya.
Taiwan Selama Pandemi: 180 Derajat Terbalik dengan Indonesia (316903)
Statistik kasus baru harian di Indonesia terus menunjukan kurva yang fluktuatif/ Sumber: worldometers.info
Taiwan Selama Pandemi: 180 Derajat Terbalik dengan Indonesia (316904)
Statistik penambahan kasus baru di Taiwan cenderung menunjukkan kurva mendatar/ Sumber: wordlofmeters.info
Masyarakat Taat Peraturan
Keberhasilan Taiwan dalam menangani pandemi tidak terlepas dari partisipasi masyarakat yang ikut serta membantu pemerintah dengan mengikuti kebijakan yang ditetapkan.
Taiwan terkenal sebagai negara yang cukup tegas dalam menangani pelanggaran yang dilakukan warganya. Bentuk ketegasan itu biasanya berupa penetapan denda atau pun sanksi berupa hukuman penahanan.
Selama pandemi berlangsung, beberapa kebijakan baru pun ditetapkan pemerintah. Salah satunya adalah penetapan kewajiban menggunakan masker di dalam transportasi umum. Penumpang yang akan menaiki transportasi umum diwajibkan menggunakan masker agar mencegah penularan virus. Apabila penumpang tidak membawa masker, sopir atau petugas yang ada di transportasi tersebut akan secara tegas mengusirnya.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, jika tertangkap basah tidak menggunakan masker saat sudah di dalam kendaraan, penumpang akan dikenakan sanksi berupa denda maksimal NT$ 15.000 atau sekitar Rp. 7.500.000.
Tak heran jika warga pun menaati peraturan dengan sukarela. Tak hanya karena takut mendapat sanksi, warga juga menyadari kebijakan tersebut adalah upaya melindungi mereka.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white