Pencarian populer
USER STORY
17 November 2018 2:31 WIB
5
0

Amazing Race ala Penembakan Massal

Suara letusan peluru berdesing ke berbagai arah. Orang-orang panik, berlarian, berteriak, dan berjatuhan. Anak-anak menangis, menjerit, hingga merintih. Anda tak tahu harus bagaimana. Bingung, takut, harapan, putus asa bercampur menjadi satu. Otak anda berputar mencari keselamatan, tetapi pada akhirnya hanya insting yang bisa menuntun.

Penembakan massal di Amerika Serikat

Jika Anda tidak pernah mengalami ini maka anda beruntung. Banyak penduduk di negara pada sisi lain samudera Pasifik, Amerika Serikat (AS), yang tidak seberuntung anda. Menurut data organisasi nirlaba Gun Violence Archive, hingga 12 November 2018, telah terjadi 308 kasus penembakan massal di Amerika Serikat selama tahun 2018.

Kasus penembakan di sebuah bar daerah Arizona pada tanggal 15 November 2018 menjadi penembakan nomor 309 di AS pada tahun ini. Dalam kejadian ini 3 orang meninggal dunia. Ini berarti terjadi penembakan massal hampir setiap hari di AS.

Foto: Gun Violence. Sumber: pixabay.com

Statistik ini ternyata tidak luar biasa untuk AS. Dalam kurun waktu tahun 2015-2018 telah terjadi lebih dari 300 kasus penembakan, yaitu terjadi 346 kasus penembakan massal pada tahun 2017, 382 kasus pada tahun 2016, dan 335 pada tahun 2015.

Kejadian penembakan massal di AS juga bukan hal yang baru terjadi beberapa tahun belakangan. Berbagai kasus penembakan massal telah terjadi di AS jauh sejak tahun 1949.

Hal yang cukup mencengangkan adalah beberapa kasus penembakan massal terjadi di sekolah dan kampus. Pada Desember 2012 penembakan massal terjadi di sebuah SD Sandy Hook Elementary School yang menewaskan 20 anak usia 6-7 tahun dan 6 orang dewasa karyawan sekolah. Pada April 2007 terjadi penembakan di kampus Virginia Tech di Blacksburg, Virginia, yang menewaskan 32 orang. Penembakan massal di SMA Columbine High School pada April 1999 yang menewaskan 12 murid dan 1 orang guru menjadi salah satu kejadian yang paling mengagetkan karena pelaku penembakan adalah 2 orang remaja pelajar di sekolah tersebut.

Ketika kita berpikir bahwa kejadian-kejadian ini tidak mungkin memengaruhi hidup kita, ternyata berdasarkan pengalaman, penembakan massal juga turut melukai warga keturunan Indonesia yang menetap di AS. Penembakan massal di dalam bioskop di Colorado pada Juli 2012 saat pemutaran film Batman: The Dark Knight Rises, menewaskan 12 orang dan melukai 58 orang termasuk 3 warga keturunan Indonesia.

Berbagai kasus penembakan massa yang terjadi di AS turut mempengaruhi alam pikiran saya saat kemudian pada tahun 2014 ditugaskan oleh kantor untuk menetap di New York selama 3 tahun. Dalam perjalanannya, hampir tiga tahun berlalu dan keadaan berjalan aman dalam penugasan. Hingga akhirnya menjelang kepulangan ke Indonesia pada awal tahun 2017 saya berada begitu dekat dengan kejadian penembakan massal.

Terjebak 12 jam di bandara

Saat itu pada tanggal 6 Januari 2017 siang hari, pesawat yang saya naiki dari Havana, Kuba, baru saja mendarat di Fort Lauderdale-Hollywood International Airport di Florida, untuk transit sebelum menuju tujuan akhir New York. Entah apa yang terjadi, pesawat kami berhenti di tengah landasan dan tidak diperbolehkan merapat ke bandara.

Penumpang pun tidak diperbolehkan meninggalkan pesawat. Beberapa penumpang mulai bertanya-tanya dan akhirnya mengaktifkan telepon genggam masing-masing.

Foto: Landasan bandara Fort Lauderdale-Hollywood International Airport. Sumber: Weri Yuhendra.

Tidak lama kemudian beredar informasi dari sesama penumpang bahwa sepertinya telah terjadi penembakan di dalam bandara, sesaat sebelum pesawat kami mendarat. Dari jendela pesawat kami dapat melihat orang-orang yang berlarian di landasan pesawat, ketakutan. Mulai muncul rasa was-was. Kami bertanya-tanya, apa yang terjadi? Penembakan apa? Apa ada korban? Apa pelaku sudah ditangkap? Apa mungkin terorisme? Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu pesawat dibuka dan beberapa pria berseragam bertubuh besar mengacungkan senjata laras panjang ke dalam pesawat sambil berteriak, “Hands up, hands up!”. Para penumpang pesawat segera mengangkat kedua tangan sambil semakin kebingungan dan ketakutan. Ternyata para pria itu adalah polisi yang memasukkan beberapa orang untuk mengamankan diri di dalam pesawat.

Dari berita online didapat informasi bahwa telah terjadi penembakan di ruang pengambilan bagasi di bandara. Beberapa orang telah terbunuh. Informasi lain yang diperoleh masih belum jelas.

Setelah sekitar dua jam dalam ketidakpastian, akhirnya para penumpang diperbolehkan masuk ke dalam bandara. Para penumpang dikumpulkan dalam sebuah ruangan dan diminta untuk antri mengular panjang dan duduk di lantai dengan alasan keamanan. Para petugas menjelaskan bahwa telah terjadi penembakan di bandara dan polisi masih menyelidiki kejadian untuk memastikan bahwa situasi telah benar-benar aman. Bandara telah ditutup sehingga tidak ada orang ataupun pesawat yang bisa keluar dan masuk bandara. Pesawat yang sekiranya membawa saya melanjutkan perjalanan ke New York pun telah dibatalkan. Kami diminta untuk menunggu.

Dalam penantian, saya mengabari atasan di kantor dan perwakilan KJRI Houston mengenai peristiwa yang terjadi. Dari internet semakin banyak mendapatkan informasi, bahwa peristiwa penembakan dilakukan oleh seorang pria di ruang pengambilan bagasi. Ia membunuh lima orang dan melukai sekitar enam orang. Tidak terbayang jika pesawat kami tadi mendarat setengah jam lebih cepat, bisa saja kami turut terjebak dalam situasi penembakan massal.

Beberapa saat kemudian, sedikit demi sedikit penumpang dipindahkan ke ruangan lain, sementara penumpang yang belum dipindahkan tetap diminta duduk di lantai. Akhirnya saya mendapat giliran pindah ke ruang berikutnya yang ternyata adalah ruang imigrasi. Para penumpang masih harus antri dalam keadaan duduk. Kami kembali menunggu antrian.

Selesai antri di ruang imigrasi, kami kembali digiring ke ruangan lain dan diminta untuk meninggalkan barang-barang bawaan di lantai.

Para penumpang kemudian dibariskan dalam beberapa barisan, yang masing-masing berupa dua jalur. Kami diminta untuk mengikuti seorang petugas yang memandu di depan. Dalam perjalanan, barisan kami berpapasan dengan beberapa barisan penumpang lain dari ruangan-ruangan lain yang ada di bandara. Ternyata kami diantarkan untuk keluar dari gedung bandara.

Kebingungan kembali melanda. Apakah sudah boleh keluar bandara? Apakah keadaan sudah aman? Bagaimana dengan barang-barang yang ditinggal di dalam?

Sekian jam dalam kebingungan, akhirnya para penumpang diperkenankan kembali masuk ke gedung bandara dan mengambil barang yang tadi ditinggalkan. Diumumkan juga bahwa di luar gedung telah dipersiapkan bis-bis yang akan mengangkut para penumpang yang terdampar keluar dari wilayah bandara. Kami pun kembali keluar gedung dan berbondong-bondong menuju titik-titik penjemputan.

Hari telah beranjak malam, sekitar pukul 10 malam lebih tepatnya. Informasi tentang antrian untuk naik kendaraan masih juga tidak jelas. Ribuan orang berkumpul di lokasi-lokasi yang dianggap menjadi titik penjemputan. Ribuan orang dari segala ras dan usia. Terlihat wajah-wajah lesu, lelah, lapar di sekeliling.

Foto: Ribuan orang mengantri bis. Sumber: Weri Yuhendra.

Saya pun berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain, naik tangga, turun tangga, ke kanan, ke kiri. Akhirnya saya menemukan lokasi penjemputan yang benar dan harus antri mendapatkan giliran masuk bis. Setelah terjebak selama sekitar 12 jam di bandara, lepas tengah malam akhirnya saya mendapatkan bis yang membawa rombongan keluar dari bandara. Kami tidak tahu akan dibawa ke mana. Keluar dari bandara itu yang utama.

Melanjutkan perjalanan

Ternyata bis membawa rombongan ke wilayah pelabuhan Port Everglades. Dalam kompleks pelabuhan, para penumpang diturunkan dan dimasukkan ke dalam sebuah hanggar yang sudah ramai terisi. Ada sekitar 10.000 orang yang dibawa ke hanggar itu. Setiap orang mendapat selimut serta pangan kecil dan minuman. Rasanya seperti menjadi pengungsi.

Tidak lama kemudian, saya dijemput oleh suami-istri asal Indonesia untuk keluar dari hanggar. Mereka adalah orang Indonesia yang telah lama menetap di Florida dan dihubungi oleh KJRI Houston mengenai keberadaan saya. Mereka mengajak saya makan malam di kota. Perut sangat bahagia rasanya, saya belum makan lebih dari 12 jam. Setelah makan dan berbincang-bincang selama beberapa jam, menjelang pagi hari mereka mengantarkan saya kembali ke bandara.

Saya mau mencoba peruntungan mencari tiket untuk kembali ke New York hari itu juga. Go show. Bagasi yang tertinggal di pesawat dari Kuba sudah tidak saya pikirkan. Pulang kembali ke New York paling penting saat ini.

Petugas maskapai yang menjaga pintu gate keberangkatan berkata akan bantu mengupayakan kursi kosong. Upayanya membuahkan hasil, saya diperbolehkan naik pesawat pertama pagi itu untuk kembali ke New York.

Bersyukur? Ya! Lega? Pasti! Apakah cerita berakhir? Ternyata belum!

Separuh perjalanan, kapten pesawat mengumumkan bahwa cuaca di New York sedang tidak bagus dan kami harus mendarat untuk sementara di Baltimore sambil menunggu cuaca membaik. Pesawat kami pun mendarat di Baltimore.

Sekian lama menunggu di bandara Baltimore, pengumuman baru muncul. Bandara John F. Kennedy (JFK) di New York ditutup karena badai salju yang melanda. Pesawat kami harus kembali ke Florida. Saya tertegun. Jika ada ilustrasi yang bisa menggambarkan suasana hati saat itu maka akan terlihat saya yang menengadahkan kepala sambil mengepal kedua telapak tangan dan berteriak, “NOOOOOOO!!!!!”. Saya tidak mau kembali lagi ke Florida. Trauma! Saya. Harus. Pulang.

Saya kemudian mengetahui bahwa ada kereta dengan rute Baltimore – New York dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan kereta. Bandara Baltimore menyediakan bis shuttle untuk ke stasiun kereta. Untungnya masih ada kursi kereta yang tersedia untuk ke New York. Ternyata hujan saljupun mulai datang di Baltimore, menemani perjalanan kereta Baltimore – New York. Rasa lega kembali menyergap. Saya. Bisa. Pulang.

Sekitar pukul 5 sore akhirnya saya tiba kembali di New York. Perjalanan Florida menuju New York harus ditempuh dalam waktu hampir 30 jam. Benar-benar lega. Rasanya seperti sedang mengikuti acara Amazing Race, Amazing Race ala penembakan massal.

Udara dingin menggigit New York tidak pernah terasa begitu hangat. Salju tebal yang berjatuhan dari langit dan menumpuk di atas trotoar tidak pernah terasa begitu bersinar. Saya. Sudah. Pulang.

Foto: Salju turun malam hari di Manhattan, New York. Sumber: flickr.com

----

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22