Penyintas Penyakit Mental Bipolar Tipe Dua

Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
30 Mei 2022 13:43
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari User Dinonaktifkan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kesehatan mental. Sumber foto: pexel.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kesehatan mental. Sumber foto: pexel.com
ADVERTISEMENT
Penyakit mental akhir-akhir ini menjadi pembahasan yang mulai dibicarakan, tetapi hingga kini penyakit mental masih dianggap remeh dan kurang perhatian oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Terkadang masyarakat Indonesia mengartikan penyakit mental itu ‘gila’, karena efek dari penyakit tersebut menyebabkan perubahan emosi yang drastis seperti tempramental.
ADVERTISEMENT
Penyakit mental bisa diderita semua kalangan mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, dan penyebab terbesar penyakit mental tersebut biasanya diakibatkan dari orang terdekat atau lingkungan sekitar yang berperngaruh dalam hidup. Seperti Kunthi Mulatsari seorang mahasiswi Universitas Indonesia yang didiagnosis oleh psikiater bahwa dirinya memiliki penyakit mental Bipolar (ODB).
Awal mulanya Kunthi tidak menyadari bahwa dirinya terkena penyakit mental, hingga akhirnya Kunthi menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya sendiri. Perubahan emosi yang sangat drastis mulai dirasa dari emosi yang susah dikontrol, bahagia yang belerbihan, kesedihan yang berkepanjangan, gelisah, dan sensitif.
Setelah mendengar masukan dari keluarga dan orang-orang terdekat, Kunthi akhirnya berobat di Puskesmas Peninggaran dengan tujuan Poli Jiwa dan didiagnosis memiliki gangguan kecemasan. Akhirnya Kunthi melakukan rawat jalan di rumah dengan mengonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh psikiater Puskesmas Peninggaran.
ADVERTISEMENT
Tidak sampai di situ saja, perempuan berusia 21 tahun ini emosinya semakin hari tidak dapat terkontrol lagi. Obat yang diberikan dari Puskesmas kurang berpengaruh untuk Kunthi, alhasil Kunthi dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) dengan tujuan Spesialis Kesehatan Jiwa.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, baru diketahui bahwa selama ini Kunthi salah didiagnosis sehingga efek obat yang diberikan kurang berpengaruh.
Setelah di rujuk ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), barulah diketahui bahwa Kunthi mengidap penyakit mental bipolar tipe dua dengan periode hipomanik yang di mana kehilangan kontrol dirinya sendiri, suasana hati tertekan, dan mudah marah. Obat yang diberikan memberikan dampak yang lebih baik untuk Kunthi, namun memiliki efek yang sangat keras bagi tubuh.
ADVERTISEMENT
“Kalau lagi kambuh terkadang saya bisa sampai ingin melakukan bunuh diri, namun keinginan tersebut bisa diminimalisir dengan mengonsumsi obat yang diberikan oleh psikiater saya untuk menstabilkan emosi,” ujar Kunthi.
Sebagai penderita Bipolar tentunya berdampak pada segala aktivitas dan kegiatan Kunthi mulai dari perkuliahan, lingkungan keluarga, hingga lingkungan pertemanan. Kunthi tidak hanya mengalami gejala psikologis saja namun juga gejala fisik seperti mual, sakit kepala, mudah lelah, dan tremor.
Beruntungnya Kunthi memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu ada, menemani dirinya dan memberikan dukungan agar cepat sembuh dari penyakit mental bipolar yang dideritanya. Hingga saat ini Kunthi masih berjuang dengan penyakit mental yang ia derita, dengan melakukan rawat jalan di rumah dan rutin mendatangi psikiater seminggu sekali untuk melakukan konseling.
ADVERTISEMENT
Kunthi kini mulai bangkit dari keterpurukannya dan berusaha berdamai dengan diri sendiri, dengan berusaha hidup normal di tengah lingkungan dengan berdampingan bersama penyakit mentalnya. Dan melakukan kegiatan positif serta produktif seperti melakukan aktifitas olahraga berenang, berjalan-jalan di taman pada sore hari, dan mencurahkan cerita melalui suatu karya tulisan.
(Nayshila Putri Ramadhina/Politeknik Negeri Jakarta)