News
·
28 Juli 2021 11:34
·
waktu baca 2 menit

Menengok Sekilas Kisah Pilu Penderita Buta Warna

Konten ini diproduksi oleh Dea Amelia Putri
Menengok Sekilas Kisah Pilu Penderita Buta Warna (1256174)
searchPerbesar
https://pixabay.com/id/photos/kulit-mata-iris-biru-remaja-lipat-3358873/
Pernah membayangkan bagaimana rasanya saat kamu memiliki segudang kemampuan, namun masyarakat dengan mudahnya menyepelekan hanya karena satu kelemahan?
ADVERTISEMENT
Mungkin kira-kira itulah yang dirasakan teman-teman penyandang buta warna di luar sana, khususnya di negeri tercinta ini. Drama buta warna di Indonesia jarang dianggap menarik, namun jika dilihat dari dekat, banyak sekali kisah pilu yang dirasakan penderita buta warna. Di Indonesia, dari 225 juta jiwa, sebanyak 0,7% mengidap kondisi ini. Itu artinya sekitar satu setengah juta warga Indonesia mengidap penyakit buta warna. Banyak kan?
Lalu apa sih drama yang dialami oleh para penderita? Benarkah sangat memilukan?
Menengok Sekilas Kisah Pilu Penderita Buta Warna (1256175)
searchPerbesar
https://pixabay.com/id/photos/pria-putus-asa-sakit-kepala-dewasa-513529/
Aku bukan penderita, tapi aku menyaksikan kesedihan yang dirasakan temanku sebagai penderita. Sebenarnya, aku tidak memiliki rasa simpati yang begitu besar. Hanya saja karena aku pernah melihat sendiri kesedihan yang dirasakan temanku sebagai penderita buta warna membuatku sedikit tertarik untuk mengulas kisah ini.
ADVERTISEMENT
Temanku ini pernah mencurahkan kegalauannya tentang bagaimana ia harus menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Menjadi penyandang buta warna jelas bukan kemauannya. Aku bahkan pernah membaca artikel yang mengatakan banyak orang yang salah paham dan menganggap penyakit ini sama dengan buta huruf. Saat membaca cerita inilah entah mengapa aku terbawa emosi, "rasis banget", dalam benakku. Bayangkan saja, dihina mentah-mentah tanpa tahu subjeknya. Pernah suatu kali, aku dan temanku ini mengikuti seleksi sebuah kompetisi yang syaratnya mengharuskan pesertanya memiliki kemampuan bagus dalam segi intelektual maupun fisik serta memiliki kesehatan yang mumpuni. Yah, katakanlah, harus perfect. Aku gagal di tahap pengukuran kemampuan fisik, sedangkan temanku lolos hingga ke tahap akhir dari kompetisi ini, yang mana membuatku mengakui kemampuannya. Namun siapa sangka, temanku gagal di tahap terakhir karena ketahuan mengidap buta warna.
ADVERTISEMENT
Ironis memang, karena teman yang sudah kuakui begitu hebatnya ini harus dinyatakan gagal karena buta warna. Setelah jauh-jauh mengukur kemampuan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan juga pikiran, temanku ini harus menerima kenyataan pahit karena gagal melalui tes yang menyebabkan kekurangannya diketahui.
Gimana dengan keberuntungan?
Aku pernah mengobrol dengan temanku ini, membayangkan bagaimana jika tiba-tiba temanku mendapatkan beberapa keberuntungan. Katakanlah temanku ini secara ajaib lolos dari sebuah tes kesehatan mata saat sedang mendaftar di sebuah perusahaan. Tapi dia tetap saja pesimis. "Kamu kira cuma sampai situ masalahnya?", begitu ucapnya. Aku heran, aku hanya berasumsi barangkali ada sebuah keajaiban. Saat aku bertanya masalahnya, ini jawaban yang dia berikan. "Coba, nih, misal aku disuruh nyabut satu kabel yang ada di sebuah ruangan. Kabel yang harus dicopot warna merah katanya. Nah, gimana aku tau yang warna merah coba". Benar juga, bagaimana kalau temanku tidak sengaja mencabut kabel yang salah lalu tiba-tiba ada suara ledakan. Haduh.
ADVERTISEMENT
Walau begitu, aku tidak menyerah. Aku ingin mencari jawaban lain yang dapat menjadi solusi untuknya. Lalu akupun mengatakan ini, "gimana kalau pebisnis, kan gak perlu tes". Lagi-lagi temanku ini menunjukkan wajah pesimis sambil berkata "berarti aku harus pinter-pinter bisnis, dan nyerah sama mimpi aku dong?". Oh iya, aku hampir melupakan hal itu. Aku lupa kalau semua orang punya mimpi, bahkan diriku.
Tentu saja aku belum menyerah. Yah, walaupun usahaku hanya sekadar untuk menghiburnya, tapi aku pikir apa salahnya. Solusi lain yang datang dari kepalaku adalah "gimana kalau kacamata? emang gak ada kacamata buat buta warna?". Temanku hanya tertawa sambil menjelaskan mengapa kacamata buta warna bukan solusi untuknya. Ia berkata, "kamu tahu, kenapa orang yang matanya min boleh kerja di mana-mana? karena ada kacamata. Kalo buta warna? oh tentu ada, cuma, harganya gak semurah kacamata rabun. Bisa aja, seratus kali lipat harganya." Kalau harus melihat dari kondisi ekonomi negara kita, yah, memang bukan solusi yang bagus. Alhasil percakapan kami berakhir dengan helaan napas panjang dari kami berdua.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini, penelitian untuk menciptakan alat yang bisa memudahkan orang-orang seperti temanku ini sudah banyak. Hanya saja tidak banyak lembaga khusus yang berfokus memberikan perhatian lebih kepada orang-orang seperti temanku ini. Selain itu, kesulitan yang dialami penderita tidak hanya mengenai fisik namun juga psikisnya. Cibiran dan diskriminasi nyata yang diberikan masyarakat bisa mempengaruhi kondisi psikis seorang penderita, hal itu juga menjadi alasan utamaku untuk bersimpati kepada temanku. Menurutku, mata bukanlah satu-satunya alat untuk melihat perbedaan, karena hanya dengan hati yang terpenting justru terlihat.