Hari Ketika Kita Tidak Lagi Mengenali Diri Sendiri

ASN dan praktisi kesehatan yang menulis tentang reformasi birokrasi, health governance, dan kesehatan mental kerja dalam pelayanan publik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nenden Nuraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada peristiwa besar pada hari itu.
Hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. Pekerjaan diselesaikan, tanggung jawab dipenuhi, dan dari luar tidak ada yang tampak berbeda.
Namun entah mengapa, ketika bercermin, ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.
Seperti melihat seseorang yang dikenal… tetapi tidak lagi terasa dekat.
Bukan wajahnya yang berubah.
Bukan pula hidupnya yang tiba-tiba runtuh.
Yang berubah adalah rasa keterhubungan dengan diri sendiri.
Dan sering kali, itulah kehilangan yang paling sunyi.
Ada fase dalam hidup ketika seseorang begitu terbiasa menjadi kuat, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa.
Terbiasa memahami orang lain.
Terbiasa bertahan.
Terbiasa tidak mengeluh.
Sampai akhirnya, tanpa disadari, kita menjalani hidup lebih sebagai peran daripada sebagai diri.
Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.
Tetapi di dalam, ada jarak yang pelan-pelan melebar. Jarak antara siapa kita sebenarnya dan siapa yang selama ini kita tampilkan.
Awalnya hampir tak terasa.
Hingga suatu hari muncul pertanyaan yang menggetarkan:
“Sejak kapan aku menjadi sejauh ini dari diriku sendiri?”
Momen seperti itu sering tidak dramatis.
Tidak ada tangisan besar.
Tidak ada pengakuan terbuka.
Justru ia hadir dalam keheningan.
Dalam lelah yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Dalam hampa yang datang tanpa alasan jelas.
Dalam perasaan berjalan… tetapi tidak benar-benar hidup.
Sebagian orang mencoba mengabaikannya.
Meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan biasa.
Bahwa semua orang juga mengalaminya.
Namun suara batin jarang benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu untuk didengar.
Merasa tidak lagi mengenali diri sendiri bukanlah tanda kelemahan.
Sering kali, itu adalah sinyal bahwa ada bagian dari diri kita yang terlalu lama diabaikan.
Bagian yang lelah menyesuaikan.
Lelah memenuhi ekspektasi.
Lelah menjadi kuat tanpa jeda.
Dan seperti tubuh yang akhirnya memberi tanda saat terlalu lama dipaksa, jiwa pun memiliki caranya sendiri untuk berbicara.
Kadang melalui kegelisahan.
Kadang melalui keheningan.
Kadang melalui rasa kosong yang sulit diterjemahkan.
Yang jarang kita sadari, momen keterasingan terhadap diri sendiri sering menjadi awal dari kesadaran yang lebih dalam.
Kesadaran bahwa hidup tidak seharusnya dijalani secara otomatis.
Bahwa menjadi kuat tidak berarti harus terus-menerus mengabaikan kebutuhan batin.
Dan bahwa kita berhak merasa utuh di dalam kehidupan yang kita jalani.
Kesadaran seperti ini memang tidak selalu nyaman.
Ia kerap datang bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang arah hidup.
Tetapi justru dari sanalah perubahan sering berawal.
Barangkali, kehilangan kedekatan dengan diri sendiri bukanlah akhir dari perjalanan.
Mungkin itu adalah cara hidup memperlambat langkah kita:
agar kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya.
Sebab pada akhirnya, perjalanan paling penting dalam hidup bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah.
Melainkan tentang apakah kita masih berjalan bersama diri kita sendiri.
Dan jika suatu hari Anda merasa asing terhadap diri sendiri…
mungkin itu bukan tanda bahwa Anda tersesat.
Mungkin itu adalah undangan paling jujur untuk pulang.
Kembali.
Bukan ke masa lalu,
tetapi ke diri yang selama ini menunggu untuk ditemukan kembali.
