Pencarian populer

Hati yang Lapang untuk Kekalahan Tim Thomas Indonesia

Tim Thomas Indonesia (Foto: Dok. PBSI)

Dua tahun lalu, kiranya sekitar Mei 2016, seorang mahasiswi UI semester 6 sedang menangis di depan laptop hitamnya. Perasaannya kacau dan kakinya pun seketika lemas. Bukan karena proposal skripsi yang dihabisi oleh dosen atau karena penelitiannya yang ditolak oleh rektorat karena dia seorang ketua UKM penelitian dan pengkajian.

Ya, statusnya yang mungkin sedikit ilmiah itu nyatanya tak sesuai dengan apa yang ditangisi. Dia menangis melihat tim bulu tangkis jagoannya ditumbangkan Denmark di partai final.

Menyakitkan. Bagaimana tidak, sudah selangkah lagi piala Thomas yang dirindukan akan segera kembali. Tapi nyatanya, Ihsan Maulana, sebagai amunisi terakhir tim Thomas kala itu, tumbang di tangan HK Vittingush. Denmark meraih piala Thomas untuk pertama kalinya dan Indonesia pun harus puas di posisi kedua.

Lebih sedihnya lagi adalah melihat wajah sang kapten, Hendra Setiawan. Dia yang sedang berada di peak performance kala itu, bersama Mohammad Ahsan, belum juga mampu memboyong piala Thomas. Entah sampai kapan dia akan bisa bermain bagus seperti itu, pikir dia dulu.

Piala Thomas 2016 (Foto: Dok. BWF)

Sedih sekali rasanya. Dia menangis ke sana ke mari, mengetok pintu teman kosan dan curhat apa yang terjadi. Mereka menenangkan meski sedikit geleng-geleng dan dia pun seketika hilang nafsu makan. Ya, ketika sedih atau perasaan sedang kacau balau biasanya dia tidak doyan makan. Waktu itu, hampir sepekan dia tak nafsu makan. Hanya makan seadanya dan tak seberlebihan biasanya.

Dia pun bilang ke para partner di UKM, mungkin satu atau dua hari ke depan, pikirannya tidak jernih karena kekalahan tim Thomas. Dia mohon dibantu banyak untuk meng-handle UKM.

Lantas siapa mahasiswi cengeng itu? Ya itu saya sendiri. Bila diingat, saya hanya senyam-senyum, pada umur 21 tahun saya ternyata belum dewasa menghadapi kekalahan tim Indonesia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kecengengan itu sedikit pudar seiring banyaknya ujian yang datang. Yang membuat hati jadi kebal.

Baru saja, asa untuk jadi juara piala Thomas kembali hilang. Sedikit menurun dari tahun lalu, kali ini tim kebanggaan Indonesia itu kalah di semifinal melawan China.

Anthony Ginting dan Jonatan Christie yang diperkirakan akan matang sejak kekalahan 2016, nyatanya belum mampu menjadi penyumbang poin tetap bagi Indonesia. Pun, Hendra/Ahsan yang selalu jadi jaminan dua tahun lalu, saat ini sudah menurun dimakan usia. Angga/Ricky yang dulu selalu berjaya di nomor beregu, justru kini berpisah dan Ricky pun migrasi ke nomor campuran. Malahan, Marcus/Kevin, yang menghadapi gelaran sebelumnya dengan kagok, kini telah bertransformasi menjadi monster.

Jonatan Christie di Piala Thomas 2018. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Saya tidak mau lagi memprediksi ini itu, inginnya berdoa dan dukung saja. Biar tidak ada beban. Toh, secemerlang apa pun saya beri prediksi, kalau Tuhan tidak berkehendak, terus mau apa?

Tentang Kekuatan

Tidak bisa dimungkiri, di nomor individual skuat tunggal putra tim Thomas Indonesia lebih baik dari 2 tahun silam. Ginting bisa juara Super Series dan Jonatan bisa menguntitnya di belakang. Bahkan keduanya bergantian menyentuh peringkat 10 dunia.

Tapi sekali lagi, prestasi menanjak di nomor individual belum menjadi jaminan di nomor beregu. Tentu, bila sedikit kembali ke belakang, Indonesia punya sosok Adriyanti Firdasari. Di kategori individual, bisa dibilang prestasinya 'adem ayem'.

Namun, bila sudah bermain di beregu, Firda kerapkali menjadi penyelamat Indonesia. Contohnya, di piala Uber 2008 lalu, berkat penampilan apik Firda Indonesia mampu melangkah ke final meski harus dikalahkan China 3-0 langsung. Ya begitu lah, memang ada beberapa pemain yang cenderung bagus di salah satu atau dua kompetisi saja.

Terlepas dari itu, baik Ginting dan Jonatan harusnya sudah sadar. Mereka adalah tumpuan dan harapan 250 juta lebih masyarakat Indonesia di nomor tunggal putra. Sudah lama rasanya nomor ini cukup mengkhawatirkan selepas ditinggal sang maestro, Taufik Hidayat.

Anthony Sinisuka Ginting di Piala Thomas 2018. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Ginting, netting ajaib, footwork lincah, dan pandai mengatur serangan, sedangkan Jonatan, punya serangan mematikan, itulah modal mereka untuk terus maju. Jangan lagi berlindung pada usia muda, soal gagalnya merengkuh gelar juara, karena juara tidak juara tidak mengenal usia.

Selain nama Ginting dan Jonatan, masih ada Ihsan Maulana dan Firman yang menjadi harapnya. Bisa diakui gapnya memang masih jauh dengan dua tunggal utama Indonesia. Tapi mereka harus ingat, tiga tahun lalu mereka adalah sama, the fantastic four. Kini, sudah saatnya mereka kembali kompak dan berjuang layaknya trio Taufik, Sony, dan Simon dulu.

Taufik kala meraih medali emas Olimpiade 2004. (Foto: Getty Images)

Tidak ada yang tidak mungkin, konsistensi dan motivasi harus terus dijaga. Ke depan, masih ada beregu Asian Games 2018. Bermain di rumah sendiri, medali emas adalah obat kekalahan dari lolosnya lagi piala Thomas dari kejuaraan Indonesia.

Sementara, di nomor ganda putra, pelatih naga api aka Herry IP memang luar biasa. Seakan-akan tak ada hentinya menghasilkan racikan ganda putra top dunia. Akan tetapi, masih ada gap yang sedikit jauh antara Marcus/Kevin dengan ganda kedua dan seterusnya.

Ganda putra memang dari dulu sudah berdinamika, tapi Marcus/Kevin adalah cerminan dari sebuah konsistensi. Itulah yang patut dikerjar baik oleh Fajar/Rian, Berry/Hardi, Wahyu/Ade, maupun oleh ganda-ganda lainnya.

Marcus dan Kevin di Final All England 2018 (Foto: Bergas Agung/kumparan)

Untuk Ahsan/Hendra, bisa kembali ke peak performance sepertinya agak susah. Mereka bukanlah Mathias Boe/Carsten Mogensen yang tetap jaya meski di usia tua. Pemisahan seperti Fu Haifeng/Cai Yun yang dilakukan China beberapa tahun lalu mungkin bisa ditiru. Fu Haifeng yang kemudian dipasangkan dengan Zhang Nan, siapa yang sangka bisa merebut medali emas Olimpiade Rio 2016.

Memang, pemisahan sudah dilakukan tahun lalu. Tetapi, yang menjadi masalahnya, mereka mendapatkan pasangan yang bila diibaratkan tak sebagus Zhang Nan sehingga prestasi terus stagnan. Yang dibutuhkan oleh Ahsan dan Hendra adalah mereka yang mempunyai senjata spesial.

Ingat lagi, dulu sebelum dipasangkan dengan Hendra, Ahsan prestasinya cukup biasa saja kala berpasangan dengan Bona Septano. Padahal dia memiliki serangan yang spesial. Tak pelak, setelah dicerai dan dipertemukan, dua kali juara dunia adalah prestasi terbaik yang pernah direngkuh duo berjuluk The Daddies itu.

History repeats itself, itu yang harus diingat. Bila boleh memberikan kandidat, saya akan memilih Praveen Jordan dan Rinov Rivaldy sebagai pasangan Ahsan dan Hendra. Dua pemuda itu memiliki senjata spesial. Praveen memiliki smash halilintar dan placing bola ajaib, sedangkan Rinov mempunyai kecerdasan bermain dan semangat juang tinggi.

Debby & Praveen kalah dari pasangan Denmark (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Lepas dari uraian di atas, yang paling penting untuk saya saat ini adalah hilangnya kecengengan itu. Ketika Li/Liu menghempas Ahsan/Hendra di partai ke-4 piala Thomas kemarin, saya tidak menangis. Saya justru senyum dan menenangkan teman yang terus mengumpati Li Junhui. Saya rasa saya sudah naik kelas ke taraf pecinta badminton yang lebih dewasa.

Saya tetap doyan makan, dan malah menyantap sepiring sate sapi selepas pertandingan itu. Bahkan bisa menulis uraian ini, bukti pikiran masih jernih.

Tidak apa-apa piala Thomas belum kembali tahun ini. Masih ada beregu Asian Games 2018. Jangan sampai terlena, mari kita raih medali emas dan perdengarkan lagu Indonesia Raya di rumah sendiri.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.40