Konten dari Pengguna

Ahli IPB University: Kurang Terpapar Sinar Matahari Gandakan Risiko Kematian

Berita IPB
Akun resmi Institut Pertanian Bogor
29 November 2025 6:27 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi paparan sinar matahari (freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paparan sinar matahari (freepik)
ADVERTISEMENT
Paparan sinar matahari ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap suasana hati, tetapi juga terhadap tingkat kesehatan dan harapan hidup seseorang.
ADVERTISEMENT
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, FINASIM, menjelaskan, seseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Menurut dr Christy, berbagai penelitian menyebutkan bahwa paparan sinar matahari yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan.
“Penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa kurangnya paparan sinar matahari mungkin bertanggung jawab terhadap 340.000 kematian di Amerika Serikat dan 480.000 kematian di Eropa setiap tahunnya,” ujarnya.
Kondisi ini, lanjutnya, juga berhubungan dengan meningkatnya kejadian kanker payudara, kanker kolorektal, hipertensi, penyakit jantung, sindrom metabolik, multiple sclerosis, Alzheimer, hingga autisme.
Lebih jelas ia membeberkan, sinar matahari berperan utama dalam membantu tubuh memproduksi vitamin D, yang dibutuhkan untuk menjaga kekebalan, kesehatan tulang, serta fungsi metabolisme.
ADVERTISEMENT
“Paparan sinar matahari yang cukup mampu memperbaiki status vitamin D seseorang. Sebaliknya, defisiensi vitamin D sering kali terjadi pada individu yang jarang beraktivitas di luar ruangan,” jelasnya.
Waktu Terbaik Berjemur
Terkait waktu terbaik untuk berjemur, dr Christy menyebutkan bahwa paparan sinar matahari ideal bergantung pada waktu, musim, garis lintang, kondisi cuaca, serta warna kulit individu.
“Melanin (pigmen alami) pada kulit berfungsi sebagai penghalang yang memengaruhi penyerapan sinar ultraviolet B. Umumnya, orang berkulit cerah membutuhkan 5–15 menit paparan sinar matahari sebanyak 2–3 kali seminggu,” katanya.
Studi di Inggris merekomendasikan paparan selama 9–13 menit pada waktu makan siang antara bulan Maret hingga September. Di Indonesia, hasil riset salah satu peneliti Prof Siti Setiati, menunjukkan bahwa paparan sinar ultraviolet B selama 25 menit dalam tiga kali seminggu selama enam pekan dapat meningkatkan kadar vitamin D secara signifikan.
ADVERTISEMENT
dr Christy juga memberikan pesan kepada masyarakat agar tidak takut beraktivitas di bawah sinar matahari. “Perbanyak aktivitas di luar ruangan dan biasakan berjemur setiap hari. Jangan lupa periksakan diri untuk mengetahui status vitamin D pada tubuh,” pesannya. (dr)