Departemen Proteksi Tanaman IPB Bahas Peluang BSF dalam Circular Food Economy

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
2 Juni 2022 9:47
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Guest Lecture Departemen Proteksi Tanaman IPB University Bahas Peluang BSF dalam Circular Food Economy
zoom-in-whitePerbesar
Guest Lecture Departemen Proteksi Tanaman IPB University Bahas Peluang BSF dalam Circular Food Economy
ADVERTISEMENT
Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University hadirkan CEO PT Biomagg Sinergi Internasional dalam Guest Lecture Series Ke-16 (24/5). Ia adalah Aminudi, CEO PT Biomagg Sinergi Internasional, sebuah perusahaan pengelola pupuk organik sampah perkotaan yang juga alumnus IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman.
ADVERTISEMENT
Bertemakan "Mengenal Lalat Hitam (Black Soldier Fly/BSF) yang Berguna dan Berjasa", Aminudi membawa peserta webinar menggali lebih dalam tentang Circular Food Economy dengan memanfaatkan BSF. Menurutnya, dengan membiarkan sampah organik, sampah-sampah tersebut akan menimbulkan efek buruk pada kota.
“Sampah organik proporsinya mencapai 60 persen dari total limbah sampah di Indonesia. Tanpa pengolahan yang lebih baik dan lebih efektif, sampah-sampah tersebut akan menimbulkan efek buruk pada kota,” ujarnya. Ia menjelaskan, maggot (larva/belatung/maggot) BSF ini memiliki segudang keunggulan. Selain aman bagi manusia, maggot juga dapat memproses sampah organik dari berbagai tempat. Mulai dari petani, pasar induk, pasar tradisional, hotel, resto hingga rumah tangga.
Aminudi juga menambahkan bahwa dengan model pengolahan sampah organik ini, petani juga dapat memperoleh input pupuk dan pakan, sehingga integrasi antara kawasan desa dan kota akan terbentuk. "Dari 60 persen sampah organik itu, lebih dari setengahnya adalah sampah-sampah makanan. Kalau dikelola dengan baik, marketnya besar,” katanya.
ADVERTISEMENT
Ia menambahkan, dari satu gram telur BSF, bisa mengolah sampah organik 15-20 kilogram. Dari jumlah sampah yang diproses dapat dikonversi menjadi 74 persen berupa penguraian sampah, 15 sampai 20 persen berupa magot, 10 persen pupuk dan 1 persen residu.
“Metode pengolahan sampah menggunakan BSF dapat dilakukan di rumah. Alat-alatnya sederhana, seperti ember bekas dan kandang lalat juga bisa digunakan,” tambahnya. Adapun bahan organik yang bisa diolah maggot, menurut Aminudi adalah sayuran, buah, sampah makanan dapur (catering, hotel), limbah perikanan dan limbah Rumah Potong Hewan (RPH), limbah kotoran hewan (ayam petelur, babi, dan puyuh), limbah agroindustri, produk-produk consumer good (kecap, mi instan).
Ia menyarankan bahwa limbah kotoran ayam broiler tidak efektif digunakan untuk diolah oleh maggot karena limbah kotoran mengandung sekam. “Informasi lebih lanjut tentang cara pengolahan sampah organik dengan BSF dapat dilihat di akun sosial media Magobox. Melalui pengelolaan sampah organik dengan BSF, saya percaya Indonesia bisa menciptakan sumber pangan yang berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat serta lingkungan,” imbuhnya. (**/Zul)
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020