Dosen IPB Menyebut Prediksi Kehilangan Hasil Panen Akibat Serangan Hama

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
20 April 2022 13:00
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dosen IPB Menyebut Prediksi Kehilangan Hasil Panen Akibat Serangan Hama (241585)
zoom-in-whitePerbesar
Dosen IPB University Menyebut Prediksi Kehilangan Hasil Panen Akibat Serangan Hama dan Penyakit Kian Penting
ADVERTISEMENT
Indonesia mulai memasuki musim tanam di tahun ini. Petani harus bergerak ekstra agar terhindar dari gagal panen, terutama di tengah musim yang tidak menentu sehingga dapat meningkatkan risiko serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penyakit.
ADVERTISEMENT
Dr Ali Nurmansyah, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, mengatakan serangan hama dan penyakit tanaman memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap tanaman termasuk penurunan hasil panen. Ia menyebut, menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2021, serangan penyakit tanaman dan hama menurunkan produksi tanaman global hingga 40 persen.
Setiap tahun, katanya, kerugian ekonomi global ditaksir mencapai lebih dari 220 miliar dolar akibat penyakit tanaman. Nilai tersebut masih ditambah dengan kerugian akibat serangga invasif yang mencapai 70 miliar dolar.
"Cuaca yang tidak menentu terkait pemanasan global menciptakan kondisi ideal bagi serangga hama," kata Dr Ali Nurmansyah, Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB University.
Ia melakukan survei langsung di wilayah Sumba Timur yang mengalami ledakan hama belalang kembara di lahan padi dan jagung. Ledakan hama ini telah terjadi di beberapa kecamatan yang mengakibatkan gagal panen.
ADVERTISEMENT
Dari kasus tersebut, dosen IPB University itu melanjutkan, “Analisis dan pemodelan kehilangan hasil tanaman sebagai sistem peringatan dini sangat penting untuk perlindungan tanaman sehingga kerugian hasil tanaman dapat ditekan."
Lebih lanjut ia menjelaskan, analisis secara umum dilakukan untuk mengetahui penyebab dan mekanisme kehilangan hasil, keputusan pengendalian OPT, perencanaan produksi, serta alokasi sumber daya logistik dan manusia di musim yang akan datang. Perbedaan hasil optimum dan hasil aktual panen dapat menggambarkan faktor hama dan penyakit. Kedua nilai tersebut digunakan FAO untuk merumuskan kehilangan hasil.
"Serangan OPT dapat menimbulkan luka pada tanaman dan mempengaruhi kesehatan tanaman. Ujungnya dapat menyebabkan kehilangan hasil karena banyak tanaman yang rusak atau mati," tambahnya dalam Webinar dan Bimbingan Teknis ProPakTani dengan tema “Pengelolaan OPT, Menyongsong Musim Tanam 2022” yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, 18/04.
ADVERTISEMENT
Ia melanjutkan, semakin tinggi intensitas serangan OPT, maka luka pada tanaman semakin banyak. Hubungan ini bernilai positif sehingga kehilangan hasil semakin tinggi apabila serangan OPT meningkat. Sedangkan, hubungan tingkat kerusakan dan hasil panen bernilai negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat kerusakan tanaman, hasil panen akan semakin menurun.
"Kehilangan hasil panen ini dapat berupa kehilangan biomassa, kehilangan kosmetik (penampilan), dan estetik (keindahan). Keempat jenis kehilangan ini tentu akan menyebabkan kehilangan finansial," tambahnya.
Terkait penentuan kehilangan hasil, ia menjelaskan, penentuan kehilangan hasil dapat dilihat dari empat level yakni petakan, hamparan, wilayah, dan nasional. Kehilangan hasil tanaman juga memiliki batasan yakni kuantitatif dan kualitatif. Biasanya, yang dilihat hanya segi kuantitatifnya saja, namun seharusnya mencakup keduanya.
ADVERTISEMENT
“Kita perlu menganalisis prediksi kehilangan hasil berdasarkan indikator-indikator yang berkaitan dengan serangan hama dan penyakit maupun berkaitan dengan terjadinya kehilangan hasil,” tambahnya.
Dosen IPB University itu menyebut, pemodelan prediksi kehilangan hasil seharusnya tidak hanya memasukkan tingkat serangan OPT saja, namun memasukkan praktek budidaya tanaman dan kondisi lingkungan biotik maupun abiotik. Ia menilai, masih belum banyak dilakukan analisa hubungan yang lebih komprehensif. (MW/Ra)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020