Konten dari Pengguna

Dosen IPB University: Konflik Bertetangga Bisa Guncang Keharmonisan Keluarga

Berita IPB
Akun resmi Institut Pertanian Bogor
24 Oktober 2025 15:13 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dosen IPB University: Konflik Bertetangga Bisa Guncang Keharmonisan Keluarga
Dosen IPB University: Konflik Bertetangga Bisa Guncang Keharmonisan Keluarga
Berita IPB
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perseteruan antartetangga (freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perseteruan antartetangga (freepik)
ADVERTISEMENT
Kasus perseteruan antartetangga yang menyedot perhatian publik belakangan ini ternyata berdampak psikologis dan sosial yang jauh lebih dalam. Menurut Risda Rizkillah, SSi, MSi, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, konflik semacam ini bahkan bisa mengguncang keharmonisan keluarga.
ADVERTISEMENT
“Hubungan dengan tetangga memiliki peran penting dalam keseimbangan kehidupan rumah tangga. Jika kita melihat dari sudut pandang teori ekologi keluarga, hubungan dengan tetangga termasuk dalam mesosistem, yaitu lingkungan terdekat keluarga,” jelasnya.
Risda menjelaskan, konflik yang terjadi di lingkungan sekitar sering kali menimbulkan suasana rumah yang tidak nyaman. “Ketika hubungan antartetangga terganggu, apalagi sudah melibatkan emosi personal, efeknya tidak berhenti di luar pagar rumah. Konflik bisa masuk ke dalam keluarga dan memengaruhi dinamika internalnya,” ujarnya.
Situasi semacam ini, sebutnya, dapat memicu komunikasi dingin antaranggota keluarga, menimbulkan rasa curiga, bahkan menyebabkan perpecahan dalam keluarga besar karena adanya keberpihakan.
“Orang dewasa bisa mengalami stres sosial, merasa malu atau enggan keluar rumah karena menjadi sorotan lingkungan. Sementara anak-anak kehilangan rasa aman di lingkungannya,” kata dia menambahkan.
ADVERTISEMENT
Fenomena ini dikenal dengan istilah emotional spillover, yaitu kondisi ketika tekanan sosial dari luar rumah menetes ke dalam sistem keluarga. “Kalau berlangsung lama, keluarga bisa kehilangan resiliensi sosial, yakni kemampuan untuk bangkit dari tekanan,” imbuhnya.
Untuk mencegah dampak yang lebih luas, Risda menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai dasar dalam ilmu keluarga. “Ada empat hal yang perlu dijunjung tinggi, yaitu komunikasi terbuka dan asertif, empati, keadilan dan saling menghormati, serta mediasi berbasis kekeluargaan,” paparnya.
Ia menjelaskan, mediasi bisa difasilitasi oleh tokoh masyarakat, RT/RW, atau pemuka agama agar penyelesaian lebih damai dan diterima semua pihak. “Kuncinya membangun ekosistem sosial yang suportif. Aparat dan masyarakat dapat menyediakan ruang dialog bersama serta dukungan konseling bagi pihak yang terdampak,” katanya.
ADVERTISEMENT
Risda menegaskan bahwa konflik antar tetangga sejatinya wajar terjadi. Namun, hal itu harus dikelola dengan bijak. “Yang harus dijaga bukan hanya hubungan antarindividu, tetapi juga keseimbangan sistem sosial secara keseluruhan. Keluarga yang kuat adalah fondasi masyarakat yang harmonis,” pungkasnya. (AS)