News
·
19 Oktober 2020 8:26

Fahutan IPB Sampaikan Pandangan Kritis Kampus terhadap Spesies Dilindungi

Konten ini diproduksi oleh Berita IPB
Fahutan IPB Sampaikan Pandangan Kritis Kampus terhadap Spesies Dilindungi (99475)
Fahutan IPB University Sampaikan Pandangan Kritis Kampus terhadap Spesies Dilindungi
Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University belum lama ini menggelar serial Fahutan Talk ke-8 dengan tema “Pandangan Kritis Kampus terhadap Spesies Dilindungi Indonesia". Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi dalam rangka memberikan masukan kritis kepada Pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI terkait kebijakan penetapan spesies dilindungi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Fahutan Talk ke-8 ini diikuti tidak kurang dari 200 orang peserta daring dari berbagai lembaga, baik pemerintah, swasta, perguruan tinggi maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dalam kegiatan ini hadir drh Indra Exploitasia, MSi dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dalam kesempatan ini ia menyampaikan materi terkait Kebijakan dan Strategi KLHK dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati. Ia menyampaikan paradigma yang perlu diperhatikan saat ini adalah cara mengelola keanekaragaman hayati sebagai aset negara, bukan sebagai komoditas.
Selanjutnya, dalam pertemuan ini, hadir tiga narasumber yaitu Prof Dr Yanto Santosa (Divisi Ekologi dan Manajemen Satwaliar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University), Ria Saryanthi, MSc (Conservation Partnership Adviser Burung Indonesia) dan Drs Toni Sumampauw (Direktur Taman Safari Indonesia).
ADVERTISEMENT
Prof Yanto menyampaikan paparan mengenai Pandangan Kritis Kampus terhadap Spesies Dilindungi: Status Perlindungan Spesies Berbasis Dinamika Populasi di Tingkat Tapak. Dalam paparannya disampaikan bahwa konservasi jenis merupakan konservasi populasi, tidak bisa disamakan antara populasi satu tempat dengan populasi di tempat lain. Dengan demikian, kriteria perlindungan dilakukan pada populasi bukan jenis.
Sementara, Ria Saryanthi membahas mengenai Status Kelangkaan Spesies Burung dan Implikasinya terhadap Upaya Perlindungannya. Ria Saryanthi mengatakan selain status perlindungan melalui pemerintah pusat, diperlukan perlindungan di tingkat lokal yakni peraturan daerah, peraturan desa, peraturan adat, dan kesepakatan masyarakat.
Adapun Drs Toni Sumampauw memaparkan mengenai Peran Konservasi Ex-Situ terhadap Penyelamatan Spesies Langka dan Terancam Punah. Dalam kesempatan ini ia menceritakan mengenai lesson learn kesuksesan lembaga konservasi eksitu dalam mendukung pemulihan spesies insitu.
ADVERTISEMENT
“Upaya konservasi juga perlu mengawasi perlakuan kawin silang pada beberapa jenis satwaliar agar tidak terjadi pencemaran genetik spesies,” katanya.
Di akhir pertemuan Prof Dr Ani Mardiastuti menyampaikan kesimpulan penting dari kegiatan Fahutan Talk ke-8 yang harus menjadi perhatian bersama. Kesimpulan tersebut antara lain: Pertama, satwa dan tumbuhan merupakan aset sumberdaya hayati yang perlu dimanfaatkan secara lestari. Dengan kata lain bahwa sumberdaya ini tidak hanya dilindungi dan diawetkan saja. Kedua, fakta yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa banyaknya spesies satwa dan tumbuhan yang populasinya menurun, perdagangan dan perburuan liar terhadap satwa semakin marak, jumlah spesies dilindungi semakin bertambah. Ketiga, terkait penetapan dan upaya perlindungan satwa, opsi pertama yang dapat ditawarkan adalah pendekatan populasi, yang berbeda-beda setiap lokasi atau titik, sementara untuk opsi kedua adalah melalui pendekatan habitat, sehingga beberapa spesies yang berada pada habitat yang sama dapat pula terlindungi. Keempat, terhadap populasi yang sudah sangat langka, kegiatan penangkaran perlu ditingkatkan sebagai back-up stok populasi, namun demikian masih perlu penyesuaian terhadap kebijakan peredaran agar masyarakat umum turut bersemangat untuk melakukan konservasi melalui pendekatan ex-situ. (DAR/RA)
ADVERTISEMENT
keyword: konservasi, konservasi in-situ, konservasi exitu, satwa dilindungi
kategori: SDGs-15