kumparan
20 Mei 2019 13:58 WIB

Jelang Berbuka Puasa, IPB Angkat Isu Cendawan di Indonesia

Kolaborasi Departemen Biologi dan Departemen Proteksi Tanaman IPB
Cendawan atau umumnya disebut jamur, masih menyita sedikit perhatian baik secara akademis maupun non akademis. Padahal, cendawan yang tumbuh di mana saja dan mudah berkembang biak memiliki potensi tak terbatas. Berlandaskan pada hal itulah, Departemen Biologi dan Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Komunitas Mikoina Bogor menyelenggarakan social meeting untuk berdiskusi mengenai perkembangan cendawan di Indonesia. Acara ini mengundang Dr. Darmono dan Dr. Surono. Surono bersama tim peneliti dari IPB dan Indonesia Soil Research Institute (ISRI) telah mengembangkan penelitian mengenai cendawan Dark Septate Endophytic (DSE).
ADVERTISEMENT
DSE di Indonesia memacu pertumbuhan tanaman dan kontrol biologi dari penyakit tanaman. Surono dan tim telah mengumpulkan dan mencoba berbagai jenis variasi DSE untuk menguji manfaatnya. Salah satu hasil yang didapatkan adalah DSE dapat menjadi kontrol bagi penyakit pada tanaman tomat yang disebabkan oleh Fusarium sp. Selain itu, DSE diyakini dapat menekan pertumbuhan Ganoderma sp. yang telah menjadi masalah serius bagi para petani kelapa sawit.
Berhubungan dengan kemampuan DSE dalam menekan laju pertumbuhan cendawan merugikan, Dr. Darmono memaparkan bagaimana mengkhawatirkannya wabah Ganoderma bagi petani kelapa sawit. Serangan dari jamur ini mampu menghancurkan populasi kelapa sawit dan menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Dr. Darmono memaparkan bahwa penafsiran ukuran sakit pada lahan kepala sawit menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Selain itu, upaya sederhana yang dapat dilakukan dengan memastikan tanah sebagai media tanam bebas dari Ganoderma. Kolaborasi ini turut dihadiri oleh para mahasiswa, dosen, pengusaha, peneliti, dan pencinta jamur di daerah Bogor. (ASK/ris)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan