kumparan
12 November 2019 10:03

Kementan: Saya Butuh IPB

DSC_8621.JPG
Kementan: Saya Butuh IPB
Kementerian Pertanian (Kementan) berkolaborasi dengan IPB University untuk membangun pertanian 4.0. Dalam kunjungannya, Rektor IPB University beserta tim diterima langsung oleh Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo untuk membicarakan tentang kerjasama yang akan dilakukan antara IPB University dengan Kementan dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT
Mentan mengungkapkan bahwa kementerian sangat membutuhkan peran serta kampus dalam memberikan saran untuk perkembangan pertanian ke depannya.
“Saya butuh bapak rektor, saya butuh teman teman dari IPB University semua. Jangan tinggalkan saya sendiri di sini. Pak Rektor dan teman teman IPB University tentu lebih tahu secara akademik perihal pertanian dari yang saya pahami. Saya mau kerja Pak, tentu saya harus punya sandaran,” ungkap Syahrul saat menerima Tim IPB University sewaktu berkunjung ke Kantor Pusat Kementan, Senin (11/11).
Mentan juga mengungkapkan perasaan senangnya melihat kedatangan langsung Rektor IPB University beserta Tim yang tujuannya untuk membicarakan kolaborasi program Kementan yang bisa disinergikan dengan program IPB University.
“Saya besar hati hari ini karena ternyata saya tidak sendiri, ada IPB University. Jadi selama ada IPB University bersama saya, kalau andaikata Kementerian Pertanian salah berarti IPB University yang salah. Kita bisa senantiasa bersama-sama. Saya 25 tahun jadi kepala. Selalu perguruan tinggi yang jadi sandaran saya, karena memang biasa saya kombinasikan antara teori yang ideal yang hitungannya biasanya mahal dengan kondisi seperti yang kami temui dilapangan seperti itu. Saya tidak biasa jalan sendiri, pasti ada perguruan tinggi di belakang saya,” tutur Syahrul.
ADVERTISEMENT
Mentan mengakui jika saat ini hasil di lapangan akan menjadi skala prioritas yang penting. Hasil yang didapatkan di lapangan dari kinerja yang dilakukan juga harus cepat apalagi di era revolusi industi 4.0 ini.
“Saya orang lapangan dan seperti apa implementasi dan kelemahannya, saya ingin cepat lihat hasilnya. Jadi tidak bisa kita hanya komit tapi tidak tau kondisi lapangannya seperti apa,” tambahnya.
Syahrul juga meminta seluruh jajarannya untuk selalu belajar melihat kondisi lapangan negara maju saat ini. Ia juga meminta untuk memperhatikan kondisi pertanian di negara tersebut sehingga Kementan bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.
“Kita sudah di level mana nih dan itu yang harus dikejar. Saya butuh kampus untuk mem-backup saya. Kita kejar ketertinggalan kita. Mulai dari supporting mekanisasi yang baik, juga bijaksana melihat demografi kita yang juga sangat besar,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Dalam waktu yang sama, Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria mengatakan Mentan sangat luar biasa dalam menyambut kedatangannya bersama rombongan. Menurutnya karena Mentan punya keinginan besar agar data-data ke depan yang ditampilkan oleh Kementan memiliki basis saintifik yang demikian kuat.
“Oleh karena itu, IPB University akan berusaha men-support data-data dan program pemerintah. Tadi sudah saya sampaikan juga bahwa era ke depan adalah era dimana data itu menjadi kekuatan dan kebetulan ini sinergis dengan apa yang dilakukan Pak Menteri bahwa kita sama sama bicara akurasi data yang penting untuk mengambil keputusan yang tepat,” ungkap Prof Arif.
Dosen IPB University dari Fakultas Ekologi Manusia ini mengungkapkan akan terus menggali data dan memperkuat data yang sudah ada. Termasuk di dalamnya perihal perkembangan regenerasi petani yang saat ini petani Indonesia rata-rata sudah berumur 47 tahun keatas.
ADVERTISEMENT
“Petani di Indonesia akan terjadi krisis 10 tahun lagi sampai 15 tahun lagi. Apabila tidak diantisipasi maka akan benar benar krisis. Kementan dan IPB University memiliki program membangun petani milenial untuk memperkuat ketahanan pangan dari sisi hulu dan pelaku usaha di lapangan,” tambahnya.
Di samping itu, Prof Arif mengatakan saat ini IPB memiliki program untuk mencetak technopreneur serta mencetak sociopreneur secara terstruktur dan terarah sehingga lulusannya dapat terjamin.
“Technopreneur adalah pelaku usaha, sosiopreneur adalah orang-orang yang memanfaatkan inovasi untuk pendampingan masyarakat, apalagi di era revolusi industri 4.0 yang menggunakan teknologi berbasis artificial intelligence dan blockchain. Nah ini akan kita perkuat dan semoga akselerasi penerapan industri 4.0 ini akan bisa kita lakukan pada saat yang sama sehingga kita akan lakukan proses percepatan transformasi masyarakat di pedesaan supaya masyarakat benar-benar siap dengan teknologi baru ini,” kata Prof Arif.
ADVERTISEMENT
Ia juga mengungkapkan bahwa IPB University dalam waktu dekat akan men-support warroom yang akan segera dibentuk oleh Kementan.
“Dalam waktu dekat ini IPB University akan men-support Warroom jadi pusat pengendalian data pertanian nasional dan Pak menteri meminta agar penguatan teknologi informasi dan penguatan substansi aspek digitalisasi,” imbuhnya.
Prof Arif juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat Mentan beserta jajarannya akan datang ke IPB untuk mendiskusikan lebih jauh perihal kerjasama untuk menyongsong 2020.
“Yang harus disinergikan itu risetnya, dan saya sampaikan juga bahwa saatnya Litbang Kementan dengan IPB University ini harus makin kuat sinerginya. Jadinya seperti yang terjadi di Belanda dan Jepang dimana perguruan tinggi besar punya sinergi kuat untuk riset dengan pemerintahan. Dan di sana tidak ada dualisme lagi namun sudah menyatu. Kita berharap sinergitas ini saling menguntungkan, saling memberikan manfaat , saling membesarkan dan lebih terarah dan teratur karena fokus pada hal yang bisa kita lakukan bersama," pungkasnya. (*/RA)
ADVERTISEMENT
Keyword: IPB University, Rektor IPB, pertanian 4.0, dosen IPB
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan