News
·
14 September 2021 9:11
·
waktu baca 3 menit

Produktivitas Pertanian Ditentukan Ilmu pengetahuan dan Teknologi

Konten ini diproduksi oleh Berita IPB
Produktivitas Pertanian Ditentukan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (15390)
searchPerbesar
Pakar IPB University: Produktivitas Pertanian Bukan Ditentukan Luas Lahan Tapi Ilmu pengetahuan dan Teknologi
Makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Seiring pertumbuhan penduduk dunia, maka kekhawatiran terhadap ketidakmampuan alam untuk menyediakan kebutuhan pangan turut timbul. Hal tersebut disikapi dengan program pengendalian jumlah penduduk. Namun datang ancaman baru. Yakni revolusi industri yang menyumbang laju pengurangan lahan pertanian.
ADVERTISEMENT
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB University, Prof Dwi Andreas Santosa yakin bahwa dunia tidak akan mengalami kekurangan pangan. Ia menyebutkan bahwa saat ini, produktivitas pertanian sudah semakin meningkat dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Selama riset dalam dunia pertanian terus dilakukan maka harapan akan pangan masa depan akan terus ada. Ini terlihat dari menurunnya jumlah kebutuhan lahan untuk memproduksi satu kuantitas pangan tertentu. Yakni dari satu hektar menjadi hanya 0,3 hektar saja,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Dewan Guru Besar IPB University, (11/09).
Dalam diskusi bertajuk "Pertanian Saat Ini dan Perkiraan Kinerja Pertanian Masa Depan" tersebut Prof Dwi memaparkan berbagai fakta yang menarik. Menurutnya, selama ini negara maju dikaitkan dengan revolusi industri yang artinya akan memiliki produktivitas pertanian rendah.
ADVERTISEMENT
“Namun nyatanya negara maju di Amerika Utara dan Eropa saat ini semakin lama semakin memainkan peranan besar sebagai penyedia pangan penduduk dunia. Amerika Utara dan Eropa menjadi negara-negara dengan nilai ekspor pangan dan importir terbesar,” paparnya.
Peneliti IPB University yang sempat mengambil gelar doktoral di University of Technology Jerman ini menunjukkan data yang memperkuat pernyataannya bahwa sekitar 50,1 persen pangan yang diperdagangkan di dunia diserap Asia. Dan 21,5 persen pangan yang diperdagangkan di dunia diserap oleh Afrika.
“Dilihat dari produktivitas padi saja Indonesia mengalami stagnasi bahkan penurunan. Tahun 2001 sampai tahun 2020 pertumbuhannya hanya 0,73 persen dan kini mengalami penurunan 0.34 persen,” imbuhnya.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengkhwatirkan karena meski produksi padi mengalami penurunan tetapi indeks ketahanan pangan dalam posisi aman. Hal tersebut terjadi, rupanya karena kebutuhan pangan dipenuhi melalui impor.
ADVERTISEMENT
“Saat ini 26,6 persen kebutuhan gandum Indonesia berasal dari impor. Impor kedelai mencapai 92 persen kebutuhan, impor gula tebu 70 persen, bahkan bawang putih mencapai 100 persen,” ujarnya.
Ia menunjukkan bahwa penggunaan lahan di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 8,4 juta hektar lalu di tahun 2019 tersisa 7,4 juta hektar. Artinya selama tujuh tahun terakhir, luas lahan yang beralih ke luas lahan bukan sawah mencapai satu juta hektar. Itu satu angka yang sangat besar,” tandasnya.
Melihat angka tersebut, Prof Dwi beranggapan bahwa seharusnya hal ini membuat bangsa Indonesia kembali berpikir untuk sesegera mungkin mengambil langkah yang lebih konkrit. Langkah konkrit tentu tidak hanya menstabilkan ketahanan pangan namun juga kemandirian pangan. Artinya ketahanan pangan Indonesia diwujudkan dari produktivitas dalam negeri.
ADVERTISEMENT
Untuk itu ia mendorong para lulusan pertanian tidak hanya mengambil posisi di tengah. Akan tetapi juga berani mengambil posisi di ujung atau on farm yang langsung berkaitan dengan aktivitas bertani.
“Indonesia pasti akan mampu menyusul keberhasilan negara-negara maju dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui praktik pertanian yang memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tandasnya. (SWP/Zul)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020