Konten dari Pengguna

Membaca di Sudut Kampung: Kisah Motor Baca Keliling

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah sudut kampung yang sederhana, belasan anak duduk melingkar di atas karpet merah sambil memegang buku di tangan. Tidak ada ruang kelas yang megah, tidak ada pendingin ruangan, bahkan semuanya datang dengan berjalan kaki dari rumah masing-masing. Menghampiri Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka. Namun di tempat itulah, anak-anak menemukan sesuatu yang berharga: kesempatan untuk membaca dan mengenal dunia yang lebih luas. Setiap halaman yang dibaca, membawa mereka pada cerita, pengetahuan, dan mimpi-mimpi yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.

Sebut saja, Rani, siswi kelas 4 SD yang awalnya tidak suka membaca. Baginya, buku hanya kumpulan tulisan yang membosankan. Namun sejak rutin membaca di MOBAKE pandangannya mulai berubah. Ia mulai mengenal tokoh-tokoh inspiratif, belajar tentang hewan, alam, dan berbagai tempat yang belum pernah ia kunjungi. Dari buku-buku itu, Rani mulai berani bermimpi menjadi seorang guru yang kelak dapat membantu banyak anak belajar seperti dirinya.

Di tengah aktivitasnya, anak-anak itu menunjukkan bahwa semangat belajar tidak selalu bergantung pada fasilitas yang mewah. Cukup duduk di tukar merah, membaca, bertanya, dan berdiskusi tentang cerita yang dibaca. Mendengarkan relawan yang memotivasi. Sebuah perilaku dan kebiasaan sederhana. Membaca perlahan membentuk rasa ingin tahu, menambah kosakata, serta melatih untuk berpikir dan berimajinasi. Terlihat kecil tapi penuh makna ...

motor baca keliling

Tidak ada perubahan besar tanpa dimulai dari langkah kecil. Seorang anak yang hari ini membaca satu buku bisa menjadi pemimpin, guru, penulis, atau tokoh masyarakat di masa depan. Karena setiap buku yang dibaca anak-anak bukan sekadar lembaran kertas yang dibuka. Melainkan jendela harapan untuk masa depan mereka. Dan Ari membaca lahir pengetahuan, dan dari pengetahuan lahirlah peradaban.

Sederhana saja, cukup sediakan akses baca. Agar anak-anak tetap bisa membaca di sudut kampung. Salam literasi! #MotorBacaKeliling #RelawanTBM #TBMLenteraPustaka

anak-anak yang membaca di kampung