Konten dari Pengguna

Fenomena Hustle Culture di Kalangan Mahasiswa

Ni Made Dian Karina

Ni Made Dian Karina

Bahasa dan Sastra Inggris, Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ni Made Dian Karina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels.com

Hustle culture, atau budaya gila kerja, telah menjadi fenomena yang semakin sering ditemukan di kalangan mahasiswa. Demi mendapatkan hasil yang baik dalam bidang akademis maupun organisasi, mahasiswa seringkali merasa terdorong untuk bekerja keras tanpa memperhatikan kapasitas dirinya. Penting untuk mahasiswa menyadari lebih lanjut mengenai perilaku ini supaya mereka bisa memiliki kehidupan yang seimbang. Artikel ini akan mengeksplorasi hustle culture di kalangan mahasiswa, melihat faktor-faktor yang mendorongnya, serta implikasi positif dan negatif yang mungkin terjadi.

Mahasiswa seringkali merasa bahwa mereka harus mengikuti banyak kegiatan untuk memenuhi title mereka sebagai seorang manusia yang bisa berkuliah. Tidak jarang mahasiswa ditemukan mendaftar banyak kegiatan sekaligus seperti UKM, magang, hingga bekerja paruh waktu di waktu yang bersamaan. Kalau dilihat dengan sekilas, hustle culture bisa jadi terlihat positif, namun dari segi mental serta fisik fenomena ini merupakan pedang bermata dua bagi Mahasiswa.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuhnya budaya gila kerja di kalangan mahasiswa. Salah satunya adalah standart yang

Sumber: Pexels.com

ditetapkan oleh masyarakat serta lingkungan sekitar. Mahasiswa seringkali berpikir mereka harus memenuhi standart tersebut supaya bisa diterima oleh orang tua, teman-teman, hingga lingkungan yang mereka hadapi. Adanya perubahan dalam teknologi dan media sosial juga memainkan peran penting dalam terciptanya budaya ini. Mahasiswa bisa dengan mudah terpapar informasi mengenai tingkat kesuksesan yang harus mereka semua capai dalam jangka waktu tertentu. Haus akan pengakuan, mahasiswa pun mulai menjadikan standart tersebut sebagai sebuah target tanpa mempertimbangkan kapasitas serta batas kemampuan diri mereka sendiri. Padahal, sebagai manusia kita seharusnya punya kebebasan untuk menentukan kesuksesan macam apa yang sebenarnya ingin kita gapai, terlepas dari pandangan masyarakat mengenai hal itu.

Pada satu sisi, sebenarnya hustle culture memiliki beberapa dampak yang cukup positif. Mahasiswa jadi terdorong untuk bekerja keras sehingga mereka bisa meraih prestasi yang diinginkan. Budaya ini menyadarkan mereka kalau tidak akan yang berubah dari kehidupan mereka kalau mereka tidak berusaha sendiri untuk mengubahnya. Manusia harus bekerja untuk menghasilkan sesuatu adalah benar adanya. Namun, di sisi lain, ada kelelahan, stres berlebihan, dan masalah kesehatan mental yang menunggu Mahasiswa di sisi gelap budaya gila kerja. Mahasiswa yang terjebak dalam budaya ini seringkali mengorbankan waktu tidur, relasi sosial yang sehat, dan waktu luang yang penting untuk pemulihan demi memenuhi harapan masyarakat.Mengingat potensi dampak negatif yang terkait dengan hustle culture, penting bagi mahasiswa untuk memperhatikan beberapa hal ini:

  1. Prioritaskan kegiatan yang paling relevan dan dapat bermanfaat bagi perkembangan diri.

  2. Menjaga serta merawat kesehatan diri sudah sepatutnya dilakukan. Mengorbankan waktu tidur hingga berhenti memperhatikan kondisi tubuh merupakan hal yang fatal.

  3. Dalam hal mencari relasi, kualitas selalu lebih penting daripada kuantitas.

Sumber: Pexels.com

Hustle culture kini telah menjadi tren di kalangan mahasiswa, sehingga mereka terdorong untuk selalu bekerja keras demi mencapai cita-cita. Namun, perlu diingat bahwa keseimbangan antara prestasi akademik dan kesejahteraan pribadi adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Dalam menyadari dampak negatif serta positif budaya ini, Mahasiswa diharapkan bisa memanfaatkan poin positif dari hustle culture untuk menjadikan diri mereka jadi lebih baik tanpa terpengaruh doktrin yang salah.