Pencarian populer

Harusnya Komentator Itu Mendidik Penikmat Pertandingan

Para komentator beIN Sports. (Foto: Bili Pasha Hermani/kumparan)

Lineker membangun sebuah opini yang bisa jadi bahan pembicaran secara natural bagi para pandit dalam suatu gelaran pertandingan demi mengedukasi para penikmat (dailymail.co.uk).

Pascapertandingan bulu tangkis dan beberapa cabang olah raga di Asian Games yang dipandu oleh pemandu dan komentator sepak bola, netizen riuh dan gelisah dengan apa yang dipertontonkan oleh beliau. Anda bisa melihat thread curhat dari beberapa orang di media sosial yang menyuarakan kegelisahan soal tidak kompeten dan tidak relevannya gaya pembawaan pemandu dan komentator olahraga tersebut dalam pertandingan yang digelar.

“Aihhhh...”

“Jebret....”

“Ya ampun...”

“Umpan cuek... diawali dengan gocekan kelok sembilan dengan alur bola hasil gratifikasi.”

Itu adalah beberapa kata yang mengiringi pendengaran insan sepak bola Indonesia kala beliau menjadi host atau co-commentator dalam sebuah pertandingan. Tak dapat dimungkiri, rezeki dia mengalir dari ciri khasnya yang bagi sebagian orang terlihat aneh dan membingungkan dan jauh dari esensi pertandingan itu terkadang.

Namun bagi saya, tidak terlalu aneh mengingat olahraga kita, dalam hal ini terkhusus sepak bola yang jadi lahan beliau berkecimpung, masih memandang sepak bola sebagai hiburan.

Pola pikir kita masih jauh dari konsep bagaimana memandang sepak bola sebagai bisnis yang melahirkan aspek-aspek edukatif, baik bagi pelakunya maupun pemerhatinya sekalipun--dalam hal ini penonton layar kaca.

- -

Pada gelaran Asian Games 2018, salah satu stasiun televisi yang jadi pemegang hak siar pertandingan cabor yang dipertandingkan di Asian Games 2018 menempatkan beliau agak jauh dari 'lapaknya'. Saya bisa maklum dengan hal itu meskipun secara kualitas dia agak kurang kompeten sebagai pemandu siaran pertandingan tersebut.

Pemakluman saya mungkin karena ada butir dalam kesepakatan kerja sama atau kontrak yang tidak bisa beliau langgar atau bisa saja yang punya hak siar tidak menemukan harga nego yang pas bagi pemandu dan komentator yang berbanding lurus dengan kualitas yang akan diberikan kepada penonton. Alhasil, hal ini membuat beliau menabrak batasan pemahamannya dan juga menjadi buah cibiran bagi netizen di ranah media sosial.

Saya percaya beliau akan belajar dari kisah-kisah yang memanaskan telinga dan pikirannya. Mungkin dia bisa berkilah bahwa itu memberi semangat bagi para atlet negeranya sendiri meskipun terdengar norak belakangan ini. Bagi saya, dan juga beberapa orang yang memandang olahraga terlebih ranah sepak bola hendaknya juga sebagai wadah edukasi bagi penikmat, jika hal ini terlalu sering dimaklumi bisa menjadi masalah serius di masa depan.

Dota 2 sebagai Role Model

Saya mungkin terlalu jauh untuk membandingkan diri dengan jam terbang beliau kala memandu pertandingan sepak bola, namun saya bisa berpacu dengan beliau jika ditantang untuk memandu cabor yang sama-sama buta kami pahami.

Masih hangat bagi netizen bila gaya pemandu pertandingan beliau begitu kering dan minim edukasi (anda tahu apa cabor yang saya maksud). Hal-hal mendasar seperti H2H, usia, klub, gaya bermain, dan lainnya terkadang diabaikan oleh beliau. Hal ini terbawa dan menjadi keluhan tersendiri bagi penonton di layar kaca dan makin nelangsa karena ini dilakukan di event Asian Games 2018 dalam cabor yang sungguh merakyat bagi kita: bulu tangkis.

Kebanyakan kata-kata motivasi dan ribut sendiri adalah hal yang beliau bawa dari ranah sepak bola ke ranah bulu tangkis.

- -

Secara pribadi, saya melihat dalam memandu olahraga yang bertempo cepat, seorang pemandu harus dengan padat dan tepat secara momentum dalam menyampaikan aspek yang terjadi dalam permainan, mengingat waktu juga sedikit untuk mengutarakannya.

Sedangkan untuk permainan bertempo lambat, seorang pemandu harus memaksa kita untuk ikut dengan elegan memahami jalannya pertandingan itu lewat penyampaian yang sederhana, namun mampu mencakup momen yang sedang dijalani.

Dua hal di atas menurut saya adalah hal yang alpa beliau lakukan dan menjadi blunder kala memandu pertandingan di luar pertandingan sepak bola yang biasa ia pandu.

Hasilnya, seperti kita tahu, cibiran banyak melayang pada beliau. Sepak bola dan bulu tangkis itu berbeda. Jika beliau dalam sepak bola, hal tersebut dianggap wajar dan dimaklumi. Dalam bulu tangkis, Anda bisa lihat betapa pedasnya netizen dalam mengomentari cara beliau memandu. Saya sendiri lebih sering mengecilkan volume suara televisi kala Valentino memandu.

Menjadi pemandu pertandingan itu sangat susah bila modal nekat. Pemahaman mengenai jalannya pertandingan sampai aspek mendasarnya perlu dipersiapkan lebih dulu guna menghindari kening berkerut dan rasa muak bagi penikmat.

- -

Sehingga berimbas pada reputasi sang pemandu petandingan di mata khalayak.

Sebuah pertandingan olahraga juga dinikmati olah audara-saudara yang berkebutuhan khusus, seperti saudara kita yang tuna netra dan juga masyarakat yang terbatas secara perangkat informasi.

Anda bisa bayangkan, kebingungan saudara kita yang tuna netra rasakan bila menikmati pertandingan sepak bola dengan gaya bahasa jauh dari aspek dasar dari jalannya pertandingan. “Umpan membelah lautan.”

Bahkan, bagi saya yang sempat berkecimpung di dunai broadcast pun tidak bisa menemukan theater of mind yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Timnas sepak bola Indonesia vs Uni Emirat Arab (Foto: Antara/Ary Kristianto)

Saya akan memberi kisah bagaimana saya sangat menyukai hal-hal informatif pra dan pascapertandingan sepak bola dan tentu saja selama jalannya pertandingan. Saya akan menikmati bagaimana pandit merangkap komentator seperti Zen R.S., Sapto Haryo, Gary Neville, Jamie Reknap, atau Andy Gary dipasangkan dengan sosok seperti Gary Lineker atau Pangeran Siahaan.

Mereka begitu menghidupi konsep, saling membalas, dan natural dalam membahas suatu pertandingan. Meskipun Lineker atau Pangeran Siahaan adalah tuan rumah acara/pertandingan, dalam jalannya pertandingan Lineker dan Pangeran hanya sebatas co atau pemancing bagaimana pakar/pandit untuk lebih dalam mengomentari pertandingan dari sisi pandit.

Bukan berarti Lineker atau Pangeran tidak punya potensi untuk mengimbangi 'apa kata pandit'. Lineker dan Pangeran sadar bahwa apa yang disajikan ini perlu diketahui masyarakat yang menonton sekalipun mungkin Lineker-nya mengetahui apa jawaban dari sang pandit. Dengan kata lain, Lineker menanyakan hal yang sebenarnya ia ketahui demi bertambahnya pemahaman penikmat.

Anda akan tahu kenapa Pangeran diapresiasi sebagai presenter terbaik pada event di atas lewat pembawaannya di layar kaca. (Twitter Pangeran Siahaan)

Hal inilah yang tidak saya temukan dalam diri sang komentator hits tersebut. Sehingga kesan fatal dan berisik di ranah sepak bola yang biasa dia bawa menjadi blunder dan bahan cibiran dari pihak-pihak lain yang terbiasa dengan edukasi di cabor bulu tangkis.

Meskipun Valentino sebagi warga Indonesia rasa nasionalismenya luar biasa, harusnya dia berada pada titik seimbang kala memandu pertandingan. Setidaknya dia tahu nama-nama pemain lawan dan juga berpandangan sepadan kala tim negara sendiri ditekan tim lawan pada pertandingan. Beliau juga terkadang membuat pertandingan yang dipandu menjadi sebuah momen untuk menonjolkan dirinya.

Jika harus belajar dari nol bagaimana memandu pertandingan yang bukan dari 'lapaknya', cobalah komentator hits tersebut untuk menyaksikan bagaimana event Internasioanal seperti Dota 2 Major Event. Para caster dan announcer di sana begitu dalam dan elegan dalam memandang pertandingan.

Aspek profil pemain, item, taktik dan strategi, dan hero yang dikendalikan, serta movement pemain dalam pertandingan sangat dianalisis dan punchline pertandingan ditempatkan pada tempat yang tepat.

Saya sendiri belajar banyak soal sepak bola dan perkembangannya justru dengan pendekatan para caster seperti Tobi Dowson atau yang dikenal Toby Wan dan juga Kevin Godec alias Purge. Mereka adalah sosok yang selalu mempersipakan diri sebelum pertandingan dengan berbagai bahan, mengingat pertandingan yang mereka pandu sangat dinamis perubahannya.

Kombinasi mereka adalah kombinasi seorang master pemandu pertandingan dan juga analis serius. Toby Wan yang ceria dan penuh energi akan mengimbangi keseriusan Purge kala memandu pertandingan bagi khalayak Dota 2. Mereka ibarat seorang Ron Atkinson disandingkan dengan Paul Scholes dalam laga klasik antara Liverpool dan Manchester United.

Sebagai sosok yang dibesarkan oleh host legendaris seperti Ricky Jo, Donna Agnesia, dan Tamara Geraldine dengan kombinasi Bung Weshly atau Bung Ropan, apa yang beliau sajikan begitu jauh. Meskipun ini menyangkut selera tapi cobalah sedikit saja untuk lebih mengedukasi penonton sepak bola dengan hal-hal yang konkrit dalam sepak bola itu sendiri dan bumbu motivasinya diposisikan pada tempatnya.

Jika dalam 'lapak' sendiri saja komentator hits dan sejenisnya terlihat alpa dengan hal ini, tak heran bila ketus dan cibiran netizen di luar ranah sepak bola yang coba ia pandu hadir menyerbu seperti rentetan peluru AK47.

"Siapa kita?"

Siapa Kita? Kita adalah insan yang masih menempatkan olahraga dalam konsep dagelan dan kita masih terlalu sering maklum.

- -

Atau mungkin secara literal beliau lupa siapa dirinya, sehingga perlu meneriakkan hal itu berulang-ulang.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: