kumparan
30 Okt 2018 9:58 WIB

Tidak Ada Pledoi Bagi Angkat Kakinya Julen Lopetegui dari Real Madrid

Julen Lopetegui kala berseragam Barcelona (pinterest)
ADVERTISEMENT
Jika ada judul sinetron kekinian yang layak disematkan untuk menandai kiprah Lopetegui di Real Madrid, saya akan menyematkan judul “ Azab Pelatih Kemaruk yang Meninggalkan Timnas H-1 Piala Dunia : Setiap Menghadapi Match Otak Mengalami Stunting”
Meskipun terdengar sangat jauh dari latar belakang sebenrnya terjadinya stunting, namun hal ini bagi saya lebih tepat. Bayangkan di tangan Lopetegui tim sekelas Real Madrid hanya berharap mendulang point dari tim-tim semenjana, itu pun sangat beruntung jika tidak mengalami kekalahan. Tidak ada Isco dalam skema bermain Lopetegui membuat Real Madrid di tangan Lopetegui tidak lebih tim sekelas Monteplier di Liga Prancis, Torino di Italia, Kaiserlautern di Bundesliga, atau Swansea di Inggris.
ADVERTISEMENT
Teranyar adalah ajang elclasico yang tidak benar-benar menggmabarkan sebuah pertandingan agung, sebagai catatan baru kali ini saya merasakan kebahagiaan yang teramat sangat kala Real Madrid kalah. Jujur sejak pertama kali melihat Lopetegui akan mengambil tampuk kepelatihan di Real Madrid, setitikpun tidak ada keyakinan bakal meraih capaian Zidane mengingat kiprah kepelatihan Lopetegui di level klub terpampang nyata dalam lembah kemirisan. Di level timnas yang akan menghadapi turnamen, ia terbantu akan jadwal yang longgar dan bisa ia akali demi komposisi winning teamnya, namun itupun tidak benar-benar terjadi pada klimaksnya mengingat gonjang-ganjing dan huru-hara di kubu Timnas Spanyol yang salah satu muara terbesarnya adalah Lupetegui.
Sedari awal saya selalu menganggap apa yang Lopetegui cari di Real Madrid hanya sebuah tambahan di CV kepelatihan bahwa ia pernah menukangi Real Madrid. Kita tahu dalam CV tidak perlu disampaikan secara detail bagaimana Lopetegui menjadikan Real Madrid menjadi seperti klub kelas kambing atau kelas ayam sayur yang begitu dermawan memberi point kepada tim-tim lain.
ADVERTISEMENT
Semua yang terjadi di Real Madrid ini juga tidak bisa dilepaskan dari betapa absurdnya jalan pikiran seorang Perez, kepergian Ronaldo dan juga perang urat syaraf yang kesekian dengan Zidane membuat madridista kompak mengarahkan lampu sorot kepadanya. Perez seolah begitu kecanduan membuar Zidane kecewa, membuang Makelele, menjual Cristiano Ronaldo, dan terakhir begitu menganakemaskan Bale, hal terakhir konon membuat Zidane mengajukan talak tiga kepada Real Madrid.
Belum larut dalam lambung antalgin sebagai sebuah analgesik dalam kepala untuk mencoba menerima keadaan kalau Zidane keluar, Perez membuat madridista meraih antalgin lain karena membawa Julen Lopetegui dengan huru-hara yang baginya seperti sangat enteng dan bermoral. Di lain waktu, Madridista harus menambah lagi antalgin itu dengan bodrex karena kedatangan Courtois dan juga tidak membeli pengganti sepadana atau minimal sama setelah Ronaldo pergi, yang ada adalah kedatangan fusion di MARIA +roNaldO. Rasanya saya sebagai Madridista hendak semaput kala lini depan harus diserahkan kepada Benzema dan Bale. Serta bagaimana Vinisius di tempatkan di Castilla.
ADVERTISEMENT
Dalam gelapnya malam, saya terbangun dan bertanya, “ Real Madrid macam mana pula yang harus aku tonton semusim ke depan? “ sembari mencari pasokan magic musroom.
Bayangkan, sebagai madridista, saya dipaksa untuk mencari kejutan dari pelatih yang mengandalkan pemain seperti Isco atau Thiago di lini tengah dan pemain macam Iago Aspas di lini depan.
Isco dan Cabellos
Bagi Lopetegui adanya Isco dan Cabellos dalam skuad memiliki kesenangan tersendiri karena dua pemain tersebut adalah tipikal pemain yang sangat cocok untuk skema bermain yang ia inginkan. Dapat dikatakan 75 persen pekerjaan sebagai pelatih sudah tepat dalam anggapannya sendiri. Tinggal mengomposisikan pemain-pemain mana yang cocok untuk dihadirkan dengan skema adanya Isco atau Cabellos. Bagi Lopetegui qoutes legendaris di dunia maya “ No Isco, No Disco” adalah sebuah kemutlakan.
ADVERTISEMENT
Hal ini adalah salah satu bentuk keheranan bagi saya dari seorang Lopetegui. Qoutes di atas bisa terjadi dan tidak diambil pusing oleh Lopetegui bila ia menakhodai tim di level Timnas, setidaknya itulah yang terjadi dengan Spanyol di tangannya, sebelum menuju Piala Dunia Russia 2018, Spanyol adalah salah satu tim paling menakutkan dan Isco adalah salah satu protagonisnya. Bahkan hal yang paling saya ingat saat Isco bermain di timnas dan begitu bersinar adalah bagaimana seorang Zidane dianggap menyia-nyiakan bakatnya yang luar biasa, tapi seperti yang kita tahu performa Lopetegeui di Piala Dunia 2018 amblas ke perabuan H-1 dengan huru hara dan gonjang-ganjing.
Seandainya Isco atau Cabellos menjadi core player dari Lopetegui selama semusim penuh, saya bertanya tanya
ADVERTISEMENT
“ Apa bisa Isco atau cabellos sanggup bermain semusim penuh dengan performa maksimal seolah-olah tim lawan mengabaikan potensi dari dua anak emas Lopetegui ini?”
Hal ini belum termasuk dengan kondisi fisik, akumulasi kartu, atau kasus lain di luar lapangan yang membuat kehadiran 2 nama di atas tidak bisa hadir di lapangan.
Sorotan saya sejak Lopetegui datang ke Bernabeu mengarah juga bagaimana sebenarnya proyek Lopetegui untuk pemain-pemian macam Isco dan Cabellos.
Terkhusus Isco, dia diberikan kebebasan selayaknya Riquelme kala bekerjasama dengan Pellegrini dibawah panji-panji Villareal atau Scholes di tangan SAF kala menjalankan rezimnya di Old Traford, atau Zidane kala berpadu padan dengan Del Bosque.
Namun nyatanya kapasitas Isco untuk mencapai kemampuan legenda-legenda tersebut belum teruji bahkan masih jauh dari harapan yang harus ia pikul. Kenyataan malah menunjukkan bahwa kondiisi tersebut membuat Isco mengalami penurunan kualitas bermain di lapangan.
ADVERTISEMENT
Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal ini. Tidak jarang pos yang menjadi area Isco beroperasi menjadi titik awal bagaimana Real Madrid harus mengalami momen-momen krusial. Bola yang direbut dari Isco atau passing yang tidak jelas adalah beberapa hal yang menjadi latar belakang saya mengatakan hal ini.
Sangat ironis bila melihat Real Madrid dinkahodai oleh pelatih yang hanya bisa memainkan satu pola bermain dengan kehadiran sosok sentral, sialnya sosok sentral itu terkadang kebingungan sendiri di lapangan dan membuat kita menambah stok pasokan antalgin di kotak obat (pasokan yang lain untuk Benzema).
Pemilihan Pemain dan Team Talk
Terlepas dari cidera atau akumulasi pertandingan, Lopetegui memiliki kecendrungan untuk membuat komposisi tim yang semakin membuat pening. Sudahlah kita berurusan dengan rasa pening karena Benzema dan juga Bale, kadang juga peningnya kambuh karena Isco. Kepeningan yang lain juga hadir dalam memadukan pemain-pemain di pos lain.
Contoh kasus nya adalah dalam laga Elclasico, Nacho dipasang sebagai bek kanan, hal ini membuat Nacho meladeni Coutinho dan Alba. Sebelum pertandingan, di WAG sudah saya sampaikan kalau Nacho akan menjadi kartu mati dan poros paling rapuh pada laga kali ini dan pandangan ini juga disuarakan oleh kolega kolega yang lain.
ADVERTISEMENT
Nacho sebagai pemain belakang multiposisi memang bagus, namun menghadapi Alba dan Coutinho Nacho begitu medioker. Ruang yang ia tinggalkan karena secara spontan bergerak ke area tengah pertahanan berhasil dimanfaatkan oleh Alba dan kesalahan-kesalahan mendasar dari Ramos dan Varane sedikit banyak karena Nacho yang terkadang out of possesion atau melakukan covering area yang tidak perlu.
Sejak awal, Barcelona sudah bersiasat bahwa Nacho akan jadi sektor paling harus dirusak. Bukan mereka tidak bisa merusak dari sisi kiri yang dijaga oleh Marcelo, namun persentase paling banyak untuk mencetak goal kala mengacak-acak sisi kanan Real Madrid lebih tinggi dan lebih efisien serta efektif.
Heatmaps Barcelona vs Real Madrid via whoscored
ADVERTISEMENT
Sungguh aneh bila melihat Odriozola harus duduk dibangkucadangan, Lopetegui bisa memainkan Odriozola sejak awal. Bagi saya itu lebih realistis, daripada harus melihat Nacho seperti amatiran pada suatu pertandingan Sunday League.
Efisiensi Lini Depan
Memiliki bek yang lihai mencetak goal itu baik, namun lebih baik bila memiliki striker atau lini depan yang lihai mencetak goal. Siapa sih yang tidak senang bila memiliki bek haus goal macam Sergio Ramos atau Marcelo, Barcelona pun pasti senang. Ramos dan Marcelo terkadang menjadi penyelamat tim atau penentu kemenangan pada momen-momen krusial. Namun jika sebuah tim bergantung pada goal-goal pemain belakang pada sebuah kompetisi, maka bisa dipastikan ada yang salah dengan lini depan tim tersebut. Real Madrid saat ini tidak bermain seperti era Facchetti atau Koeman menggila. Sekali lagi " Memiliki bek haus goal itu baik, namun memiliki stiker haus goal adalah hal yang lebih baik."
ADVERTISEMENT
Benzema, Bale, Asensio, dan Mariano adalah nama-nama yang diharapkan mengembalikan argo goal yang beberapa musim alu dimonopoli oleh Cristiano Ronaldo. Namun ironisnya justru nama Ramos dan Marcelo yang nangkring di 5 besar pencetak goal Real Madrid musim ini dan jumlahnya hanya beda 1 goal dengan Benzema dan juga Bale yang notabene adalah stiker.
Shoot per game 17.9
Passing complete 89.5 %
Adalah statistik utama bagaimana tim ini mengkreasikan serangan, namun statistik itu bermuara pada pertanyaan, “ Ada apa dengan kualitas pemain depan Real Madrid dalam melakukan penyelesaian akhir?’
Semua pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dalam benak sedikit banyak sudah terjawab kala Lopetegui angkat kaki dari Santiago Bernabeu, namun pertanyaan yang sudah terjawab ini kembali melahirkan pertanyaan?
ADVERTISEMENT
“ Apa yang akan pelatih baru lakukan terhadap Isco?”
“Bagaimana potensi Bale selanjutnya?
Dan yang paling utama adalah
“Apakah Benzema masih sosok untouchable dan tetap menjadi sosok stiker utama di Real Madrid?”
Hala Madrid
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan