Pencarian populer

Literasi sebagai Kunci Kekuatan Perempuan di Era Digital

Photo by Perfecto Capucine from Pexels
Jika kekuatan perempuan hanya ditengok dari raut jelita, bibir merekah, dan lekuk tubuh memikat, mungkin sepanjang hidup, aku tak kan pernah bisa jadi perempuan kuat. Pun jika kekuatan perempuan hanya dinilai dari kehebatannya menekuni bidang karier yang umumnya dikuasai kaum lelaki. Rasanya akan banyak perempuan kecewa dianggap lemah oleh sebab sepanjang hidup menekuni keahlian yang mungkin hanya dipandang sebelah mata.
ADVERTISEMENT
Lalu, di mana kekuatan perempuan itu dinilai? Kalau bukan dari fisik atau kecerdasan, lalu dari mana menilainya?

Menurutku, perempuan menunjukkan kekuatannya ketika berhubungan dengan kata.

Secara alamiah, makhluk berkromosom XX ini mampu dan butuh mengeluarkan sekitar 20.000 kata dalam sehari. Nyaris tiga kali lipat lebih banyak dari rata-rata yang dikeluarkan oleh para laki-laki, yang hanya menyampaikan sekitar 7.000 kata dalam sehari.
Ilmu pengetahuan mengungkapkan otak kaum Hawa mengandung lebih banyak “Protein Bahasa” dibandingkan kaum Adam. Protein Foxp2 khas diidentifikasi para ilmuwan sebagai protein yang berperan dalam memengaruhi kebiasaan berbicara kaum perempuan.
Para perempuan lebih banyak berkata-kata, lebih cerewet, baik lisan maupun tulisan, karena sudah menjadi kebutuhannya. Jika tak dipenuhi, akibatnya bisa beragam. Mulai dari depresi ringan hingga yang berat.
ADVERTISEMENT
Kebutuhan berbicara, mengeluarkan isi hati dan pikiran lewat verbal, menyampaikan rasa lewat kata adalah sisi mata uang yang bersatu pada diri perempuan. Di satu sisi, menjadi kekuatan, sementara di sisi lain menjadi kelemahan.
Kekuatan Kata Kaum Hawa
Ilustrasi kamus kata. Foto: Pixabay/congerdesign
Baiklah, kita akan lebih fokus pada memandang kemampuan verbal kaum Hawa sebagai kekuatan daripada kelemahan. Sebab, ketika kemampuan verbal itu dibarengi dengan kesadaran berliterasi, maka otomatis akan menjadi kekuatan.
Sebaliknya, tingkat literasi yang rendah akan membuat perempuan hanya berbicara seputar hal menye-menye unfaedah. Minim kualitas. Sejatinya, yang begini ini yang bisa dikategorikan perempuan lemah.
Aku bisa bicara seperti ini karena merasakan dan melewati fase lemah itu. Adalah satu masa di mana aku cuma pandai mengeluhkan keadaan, membicarakan kesedihan dan kemalangan, tanpa memikirkan apa yang bisa aku perankan di tengah semesta raya.
ADVERTISEMENT
Betul-betul hanya bicara menye-menye unfaedah. Kesadaran untuk jadi bermanfaat mulai tumbuh sejak lahirnya bocah-bocah mungil dari rahimku. Sejak aku jadi ibu. Bicaraku, verbalku, dan literasiku mulai lebih tertata.
Menjadi ibu otomatis membuatku terpacu mendefinisikan apa dan bagaimana perempuan kuat itu. Sebab, aku sadar ada anak-anak yang sangat tergantung pada ibunya untuk mencari teladan. Aku pernah sampai pada dialog dengan diri sendiri, “Wahai diri, di mana kekuatan perempuan?“

Perempuan kuat bukanlah mereka yang tidak pernah menangis saat terluka atau yang selalu bisa melawan rasa sakit. Bagiku, perempuan kuat itu adalah mereka yang walau menangis saat terjatuh, namun kuat untuk bangkit kembali setiap kali terpuruk.

Perempuan kuat tetap meneteskan air mata sejenak, tapi tidak membenamkan jiwa untuk meratapinya. Perempuan kuat itu mampu menerima rasa sakit dan mengelolanya secara sadar.
ADVERTISEMENT
Lalu, apa hubungannya kekuatan ini dengan kemampuan verbal, kebutuhan mengeluarkan kata-kata, literasi, dan era digital? Ya, kadang perempuan menjadi lemah karena tidak mampu menjadi dirinya sendiri, di saat kebutuhannya mengeluarkan kata tidak terakomodasi. Tak mempunyai akses menyampaikan isi hati. Tak terliterasi dengan baik.
Namun sebenarnya, apa itu literasi?
Literasi (keberaksaraan) berasal dari Bahasa Latin, yaitu literatus yang artinya "orang yang belajar (a learned person)". Dalam Bahasa Inggris, literacy bermakna kemampuan membaca dan menulis atau kompetensi/pengetahuan di bidang khusus.
Ditinjau dari asal kata Bahasa Latin dan Inggris, makna literasi bukan sekadar kemampuan baca tulis belaka, melainkan lebih ke kemampuan membaca kata dan membaca dunia menggunakan segenap potensi diri dan skill yang dimiliki serta dipelajari di dalam hidup manusia.
ADVERTISEMENT
Mampu membaca kata dan dunia artinya melek huruf/aksara sekaligus melek visual. Literasi menentukan seberapa besar kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual baik kata, adegan, video, dan gambar.
Dalam perspektif yang lebih kontekstual, National Institute of Literacy mendefinisikan literasi sebagai kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan di dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Jadi, bukan melulu soal baca tulis saja lalu sudah, tapi juga tentang menggunakannya dalam level masing-masing di dalam kehidupan bermasyarakat.
Terbayang bukan, jika perempuan yang secara natural berbicara lebih banyak dari laki-laki tidak dibekali dengan literasi yang cukup? Terutama di era digital sekarang ini, yang semua serba menyebar cepat lewat media digital.
ADVERTISEMENT
Ini bisa jadi mengerikan. Kata-kata perempuan yang beredar dalam status media sosial--seperti cuitan Twitter atau caption Instagram--tanpa melek literasi bisa merusak diri dan masyarakat. Kekuatan perempuan yang naturalnya ada di dalam kata, bisa jadi bumerang yang menikam diri sendiri ketika mengabaikan keberaksaraan.
Literasi digital jadi penting, dikaitkan dengan keterampilan teknis dalam mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi melalui media digital.

Rendahnya literasi, terutama literasi digital, akan membuat perempuan cenderung jadi penyebar berita bohong. Ketidakmampuan membedakan mana berita bohong dan mana yang mencerdaskan termasuk akan membuat perempuan lebih rentan jadi penyebar hoaks.

Informasi tanpa saringan disebarkan kembali dan ditambah dengan bumbu kata. Ini karena secara naluriah perempuan butuh untuk bicara lebih banyak, berkata lebih banyak. Kalau belum 20.000 kata dalam sehari, belum berhenti ngomong dan nulis.
ADVERTISEMENT
Bahayanya, kalau kata-kata kaya makna dijadikan bumbu oleh perempuan untuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Lisan, memang lebih tajam dari pisau yang berkali-kali diasah. Jadi, menurut saya perempuan jadi kuat jika berliterasi dengan baik. Sebaliknya, akan lemah dan melemahkan masyarakat jika literasinya minim.
Kekuatan perempuan terpancar saat berliterasi. Setiap saat dan setiap hari. Pengaruh dari kemampuan literasi para perempuan kepada masyarakat bisa jadi akan sangat signifikan, mengingat perempuan juga banyak berperan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Belum tentu tokoh perempuan yang cerdas juga mampu berliterasi dengan baik. Apabila enggan belajar dan meningkatkan skill, bisa jadi literasinya yang awalnya baik lalu meluncur turun ke titik minim. Ini juga jadi bahaya, apabila tokoh yang punya pengaruh luas di masyarakat minim literasi.
ADVERTISEMENT
Belajar, Belajar, Belajar untuk Semakin Kuat
Jika memang kekuatan perempuan ada di kemampuan literasinya, maka cara untuk mencapai dan mempertahankan kekuatan itu hanyalah dengan belajar dan belajar.

Belajar sejak awal, agar rahmat Tuhan bagi kaum perempuan, yaitu kemampuan verbal yang 20.000 kata itu bisa di-manage menjadi kekuatan.

Belajar lagi, agar seiring berkembangnya zaman, maka skill perempuan semakin meningkat dan tidak tertinggal. Terus belajar, agar menularkan semangat belajarnya kepada perempuan di sekitarnya dan masyarakat.
Bagaimana pun, perempuan kuat jika bersatu. Bersatunya para perempuan yang berliterasi baik menjadi modal pencerdasan bangsa di era digital.
Photo by Vincenzo Malagoli from Pexels
Bagaimana caranya belajar? Tidak sesulit di zaman ketika buku dan komputer hanya jadi benda agung untuk kalangan tertentu. Kini, semua lebih mudah, asalkan mindset belajar berliterasi dijadikan mindset bersama. Hidupkan terus budaya membaca dan menulis sejak sekarang, jangan ditunda lagi.
ADVERTISEMENT
Pilih bacaan bermutu untuk suplemen otak, matikan siaran televisi. Ajak anak-anak membaca karya agung pengarang dunia, dan layangkan imajinasi agar otak distimulasi untuk berkreasi dengan kata dan tindakan.
Terus belajar artinya terus membaca, terus menulis, terus berlatih, terus berkomunitas dengan orang-orang yang punya semangat untuk membangun kekuatan itu. Percayalah bahwa literasi adalah kunci kekuatan di era digital ini, maka bersatulah untuk belajar berliterasi yang baik. Tanpa ragu-ragu lagi.
Mengutip kata Syasya Pashatama, seorang travel blogger Indonesia, perempuan semestinya pandai membagi waktu untuk hal-hal yang HARUS dilakukan dan hal-hal yang INGIN dilakukan. Keduanya penting untuk perempuan agar seimbang.
Mendidik dan mengasuh anak, mengurus keluarga, dan berkarya di masyarakat adalah hal-hal yang memang harus dilakukan perempuan. Itu butuh literasi. Hal-hal yang ingin dilakukan adalah semacam hobi atau kesukaan, misalnya jalan-jalan, kumpul dengan teman, melukis, menyanyi, berkisah lewat media, story telling, dan lainnya. Butuh literasi? Ya, pasti.
ADVERTISEMENT
Jadi, jangan tunda lagi untuk memperbaiki tingkat literasi perempuan sekarang juga agar masyarakat ikut kuat!! (Opi)
---
Diinspirasi dari bacaan tentang literasi di situs ini:
http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-954-apa-sih-literasi-itu.html
https://www.komunikasipraktis.com/2017/04/pengertian-literasi-secara-bahasa-istilah.html
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86