• 1

Di Balik Program 30.000 Embung Gagasan Jokowi

Di Balik Program 30.000 Embung Gagasan Jokowi


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menargetkan membangun lebih 30.000 embung dalam tiga tahun. Hal itu dilakukan untuk mengatasi sejumlah daerah yang memiliki curah hujan sedikit dan berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Pembangunan embung sangat diperlukan. Menurutnya embung merupakan jantung dari pertanian dan perikanan, terutama di daerah timur, sejumlah wilayah di Pulau Jawa, dan di Kalimantan Utara.

Jokowi di Embung Rawasari, Tarakan

Jokowi di Embung Rawasari, Tarakan (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)
“Embung adalah jantung pertanian peternakan dan perikanan, di mana desa itu membutuhkan embung karena air hujan yang turun dalam jumlah besar dalam enam bulan itu tidak tertampung, jadi embung digunakan untuk memaksimalkan pengairan pertanian peternakan dan perikanan,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani, Pratomo kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (12/11).
Lebih lanjut, dia menjelaskan embung juga memiliki manfaat mengurangi erosi dan banjir. Hal itu dikarenakan air hujan yang turun meresap ke dalam tanah bisa ditampung di dalam embung.
“Dengan adanya air di embung, daerah yang ada di bawah akan berkurang erosi karena ditampung di atas airnya” ucap Pratomo.
Pratomo menjelaskan, program pembangunan embung yang dibuat Presiden Jokowi sampai cukup membantu. Meski begitu dia menemukan sejumlah kelemahan dalam embung yang dibuat pemerintah, seperti proses pengerjaan yang belum menggunakan sistem geomembran.
“Pak Jokowi melaksanakan program membangun embung dibagi menjadi tiga kementerian yaitu Kemendes, Kementan dan Kemen PU (Pekerjaan Umum). Pemerintah belum membuat embung geomembran, lapisan geomembran itu jadi pemadatan tanah menggunakan eskavator baru diberikan lapisan geomembran. Padahal embung semen harganya lebih mahal,”ujarnya.

Embung Ngasinan Kab. Semarang Prov. Jawa Tengah

Embung Ngasinan Kab. Semarang Prov. Jawa Tengah (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
Pratomo menjelaskan sebagai Direktur Ekskutif Yayasan Obor Tani dirinya bekerja sama dengan Coca-Cola Company membuat embung geomembran di Karanganyar dan Wonogiri. Dia menjelaskan ini sebagai bentuk sinergi antara pihak swasta dan masyarakat untuk mengatasi kekeringan di wilayah tersebut.
“Kalau yang dibangun Coca-Cola Company hampir satu hektar, yang di Karanganyar, 4000 meter persegi kalau di Wonogiri; 15000 m3 yang di Karanganyar menampung 6500 m3. Pengerjaannya dari nol sampai bangunan jadi, bangunan pelengkap, saluran irigasi, kira-kira tiga bulan lah,” tuturnya.
Sebagaimana diketahui dalam empat tahun terakhir, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama dengan United States Agency for International Development (USAID) melalui program IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene) menjalankan program pembuatan sumur resapan sebagai upaya untuk menyelamatkan beberapa mata air penting di Indonesia. Lewat program yang kenal dengan istilah Lumbung Air, CCFI telah membangun setidaknya 3.250 sumur resapan atau Lumbung Air telah dibangun di berbagai daerah tangkapan air di Indonesia, termasuk di Kabupaten Semarang, Kabupaten Salatiga, Kabupaten Malang, Mojokerto, Sibolangit dan Pematang Siantar.
Dari sudut pandang perubahan iklim, Lumbung Air menawarkan sebuah solusi sederhana yang efektif untuk meningkatkan resapan air, menjaga ketersediaan air baku, penyediaan air bersih, serta meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

LingkunganKrisis AirCoca Cola

500

Baca Lainnya