• 0

Semua Pihak Wajib Gotong Royong Atasi Kekeringan

Semua Pihak Wajib Gotong Royong Atasi Kekeringan


Perubahan iklim yang terjadi di dunia mengakibatkan sejumlah bencana mulai dari kekeringan hingga banjir. Perubahan iklim ini juga memengaruhi stabilitas pangan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Climate Change Governance Advisor United States Agency for International Development (USAID) bagian Adaptasi Perubahan Iklim & Ketahanan (APIK) Ari Mochamad menjelaskan, masyarakat pedesaan yang mayoritas bertani, bisa gagal panen karena mengalami kekeringan dan kesulitan mencari sumber air tanah untuk mengairi sawah dan kebunnya.

Kekeringan Cibarusah

Kekeringan Cibarusah (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
“Dengan adanya perubahan iklim akan berpengaruh, kalau daerah yang berpusat pada pertanian, kemudian swasembada pangan yang diinginkan akan terancam bukan hanya kekeringan. Ditambah infrastruktur pengairan dan drainase tidak terintegrasi, dengan kondisi seperti, jika dibiarkan berlarut-larut itu bisa memengaruhi stabilitas pangan,” kata Ari kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (12/11).
Dia menambahkan, kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya penampungan air besar, salah satunya embung. Namun, embung sebagai cadangan air tanah yang besar karena menampung cadangan air yang berasal dari air hujan, saat ini sudah jarang ditemukan.
Masyarakat mulai menganggap tanah mereka lebih baik dijual dibandingkan dijadikan embung. Tanah tersebut juga lebih banyak dijadikan apartemen ataupun bangunan lainnya yang mempunyai nilai komersil.
“Banyak embung yang terancam hilang karena tekanan ekonomi, itu buat perumahan, mal, misalnya di Depok, Pamulang, dulu banyak embung, tapi sekarang sudah enggak ada,” lanjut Ari.

Embung Anggatoa, Provinsi Sulawesi Tenggara

Embung Anggatoa, Provinsi Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
Lebih lanjut Ari mengatakan, sulitnya mendapatkan air tanah ini harus mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Mulai dari masyarakat, pemerintah ataupun swasta, harus bersama-sama mengatasi bagaimana masalah kekeringan agar bisa diatasi.
“Semuanya harus bersinergi melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kalau swasta bisa memanfaatkan inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Kalau untuk masyarakat bisa hal terkecil membuat lubang biopori yang bisa dilakukan sampai membuat penampungan air, kalau yang lebih besar seperti embung itu baru harus ada peran pemerintah,” ujarnya.
Untuk diketahui, sebagai upaya mempertahankan keberlangsungan lingkungan, khususnya berkaitan dengan perbaikan ketersediaan air tanah, USAID bersama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) berkolaborasi dalam program konservasi air untuk meningkatkan tingkat resapan air dan debit mata air melalui pembangunan sumur- sumur resapan.
Sejak Oktober 2014 lalu, Coca-Cola Foundation Indonesia bersama USAID telah membangun lebih dari 920 sumur resapan di tujuh wilayah di kawasan Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Tujuh lokasi itu adalah Kelurahan Noborejo dan Randuacir (Kota Salatiga), Desa Gogik, Candirejo, Butuh, Jethak dan Patemon (Kabupaten Semarang).

LingkunganKrisis AirCoca Cola

500

Baca Lainnya