Pencarian populer
USER STORY
21 Maret 2019 1:32 WIB
..
..

Dasasila Bandung Sebagai Pedoman Keberagaman dalam Masyarakat

Bandung, dari kota inilah suara perdamaian digaungkan untuk menghapuskan kolonialisme dan ekstremisme yang terjadi pada negara-negara terjajah. Dari kota inilah sebuah harapan baru muncul, menyuntikkan suara nuraninya bagi kaum terjajah.

Pada tulisan kali ini, saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk memahami Dasasila Bandung sebagai pedoman keberagaman masyarakat Indonesia dan aktualisasi pemuda sebagai agent of peace.

Barangkali, kita semua lebih sering mendengar dan sudah tidak asing dengan Pancasila sebagai lima dasar aturan dan petunjuk kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Padahal, ada sebuah konsep lain yang juga dapat menjadi pedoman kebinekaan di Indonesia.

Jika kita menarik memoar ke era orde lama, masyarakat Indonesia mungkin akan mengingat peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika (KAA). Tahukah kalian hasil dari konferensi yang dihelat di Bandung pada tahun 1955 itu?

Suasana gedung tempat pertemuan KAA pada 1955. Foto: Wikimedia Commons

Ya, hasil dari pertemuan tersebut dikenal sebagai “The Ten Principles” atau "Dasasila Bandung", yang didalamnya memuat cerminan penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia. (international relations, which, among others, emphasised the principle of peaceful coexistence). Tentunya, Dasasila Bandung sebagai hasil dari KAA 1955 memiliki nilai historis tinggi dan sangat berharga bagi masyarakat Asia-Afrika.

Dasasila Bandung juga dianggap sebagai akhir dari era penjajahan dan kekerasan terhadap suatu kaum (apartheid). Konferensi ini juga dianalogikan sebagai suatu badan yang berpendirian luas dan toleran, yang memberi kesan kepada dunia bahwa semua orang dapat hidup bersama, bertemu, berbicara, dan mempertahankan hidupnya di dunia ini.

Dasasila juga menyikapi persoalan toleransi antarumat beragama yang telah masuk ke dalam dokumen Bandung Message. Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa ada sebuah semangat yang lahir dari kota ini, yaitu Dasasila.

Masih relevankah Dasasila Bandung pada zaman sekarang? Saya jawab, iya, masih relevan.

Kenapa? terlebih salah satu poin menyebutkan “Hidup Berdampingan Secara Damai”, yang tentunya memberikan siraman kedamaian untuk Indonesia yang penuh dengan keberagaman. Sebab, saat ini, tak sedikit pula masyarakat Indonesia yang lebih suka memoles hitam isu anti-toleransi dengan berbagai bumbunya menjadi sebuah perdebatan hingga menyengsarakan salah satu kaum maupun individu.

Dengan harapan Indonesia bisa jadi model terhadap bagaimana diversity itu bisa satu, tidak perlu berkelahi, melakukan bom bunuh diri, genosida, sehingga pesan perdamaian KAA bisa terjaga dan terpelihara dengan baik, hingga ke generasi selanjutnya. Ternyata keindahan itu masih ada, kita hanya perlu membuka mata.

Toleransi Foto: JohnHain/Pixabay

Dasasila hanya perlu digaungkan kembali agar suara perdamaian bisa merasuk kepada sendi-sendi setiap ras, suku, dan masyarakat beragama (Alquran dan kitab suci sudah tentu). Sebab, Spirit of Bandung tersebut lahir dari sebuah negeri yang rakyatnya memeluk hampir semua agama yang ada di kolong langit, Budha, Hindu, Kristen, Islam Sikh, Shinto, dan sebagainya.

Yang jelas, Dasasila ini diharapkan bisa sebagai upaya membatasi ruang gerak kejahatan kemanusiaan. Tak ada salahnya ada perbedaan-perbedaan, asalkan ada persatuan cita-cita.

Terlahir sebagai bangsa yang penuh keberagaman, memang kita memerlukan usaha untuk bisa memberi ruang kepada perbedaan yang memang harus dijaga dan dilestarikan sebagai wujud penghargaan atas persamaan hak kemanusiaan. Terlebih, jika usaha tersebut dirajut oleh para pemuda-pemudi Indonesia karena mereka hendaknya menyadari bahwa, saat ini, banyaknya perbedaan malah justru menjadi isu sensitif antarwarga.

Tak sedikit konflik terjadi akibat perbedaan ini. Padahal, sudah sepatutnya negara yang bernafaskan Pancasila sebagai ideologi bangsa dapat mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakatnya.

Ini bukan tentang UI-mu, UGM-mu, ITB-mu, atau kampus lainnya, tapi ini merupakan sebuah usaha menjaga kebinekaan dan persatuan yang harus terjalin dengan harmonis dari setiap kampus-kampus perjuangan.

Sejatinya, mahasiswa dengan label agent of change dan intelektualis. Sederhananya, bentuk toleransi seorang mahasiswa yang dapat dilakukan, antara lain: menerima dan menghargai pendapat orang lain, baik berpendapat di dunia nyata maupun maya; menyalurkan pendapat hendaknya dinyatakan dengan demokratis nan santun.

Tak perlu mengeluarkan hate speech (ujaran kebencian). Maka tak ayal, jika mahasiswa disebut sebagai tonggak perubahan negaranya karena sebuah peradaban dapat berkembang dari pemudanya.

Dalam hal ini, peran pemuda, khususnya mahasiswa, tentu memperkuat kesatuan melalui pembentukan fondasi integrasi bangsa dan tentu harus memiliki peran aktif dalam upaya preventif, meminimalisir bahkan menghilangkan peluang intoleran sekaligus ancaman yang memiliki potensi untuk merusak kesatuan NKRI di masa mendatang. Hal itu dapat dimulai dari lingkungan kecil bernama: kampus.

Dan pemuda juga hendaknya menyadari bahwa pengabdian ini merupakan sebuah misi yang harus diselesaikan dalam hidup, guna menyongsong visi pembangunan Indonesia yang bersendikan Pancasila, dan Dasasila juga menyadari bahwa hakikat toleransi adalah peaceful coexistence (hidup berdampingan secara damai) dan saling menghargai perbedaan. Dengan begitu, bukan hal yang mustahil untuk mewujudkan negara yang toleran.

Pemuda, tugas kita belum purna.

Oleh: Nungky Satrina P

Berikut, isi Dasasila Bandung jika mungkin kamu lupa:

1) Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam Piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa);

2) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa;

3) Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil;

4) Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain;

5) Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB;

6) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain;

7) Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara;

8) Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB;

9) Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama;

10) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: