News
·
8 April 2021 11:31

ASN Dilarang Mudik: Memupus Asa, Menabung Rindu

Konten ini diproduksi oleh Nur Endah Hawayanti
ASN Dilarang Mudik: Memupus Asa, Menabung Rindu (80012)
com-Ilustrasi mudik Foto: Shutterstock
Bu, sebelum lebaran nanti saya berharap bisa mudik. Sudah 3 tahun saya belum pulang,” kata seorang rekan kerja menyampaikan harapannya untuk bisa mudik seminggu yang lalu. Harapan yang sederhana namun rasanya sulit untuk diwujudkan.
ADVERTISEMENT
Berbicara tentang lebaran Idul Fitri tentunya tidak lepas dari kata mudik. Sebuah budaya di Indonesia untuk berlebaran bersama keluarga di kampung halaman. Namun sangat disayangkan, sudah satu tahun berlalu namun pandemi ini tetap belum berakhir. Larangan pemerintah yang diberlakukan di tahun lalu, melarang Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk tidak bepergian keluar daerah atau mudik di tengah pandemi virus corona ini kembali digaungkan. Larangan untuk tidak melaksanakan mudik kembali diberlakukan tahun ini.
Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) sudah mengeluarkan surat edaran dengan No. 08 Tahun 2021, tertanggal 7 April 2021, tentang Pembatasan Kegiatan Bepergian ke Luar Daerah dan/atau Mudik dan/atau Cuti bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVIS-19).
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk tahun 2021 mudik dan cuti ditiadakan bagi ASN.
Lalu Bagaimana?
Larangan mudik yang sudah dikeluarkan oleh PAN-RB dan akan diberlakukan pada periode 6 Mei sampai dengan 17 Mei 2021 sangat jelas membatasi pergerakan kita dan memberikan larangan untuk melakukan mudik, tidak hanya berlaku bagi ASN namun juga untuk seluruh anggota keluarga ASN.
Surat Edaran ini sangat jelas mengatur tentang pembatasan kegiatan bepergian ke luar daerah dan/atau mudik, pembatasan cuti, upaya pencegahan penyebaran COVID-19, dan disiplin pegawai. Namun, larangan ini juga memiliki pengecualian bagi ASN yang melakukan perjalanan dinas yang bersifat penting, ataupun yang dalam keadaan terpaksa harus melakukan kegiatan ke luar daerah. Tentunya dengan mengantongi izin tertulis dari Pejabat Pembina Kepegawaian yang ada di Instansi masing-masing.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pegawai ASN juga diminta untuk tidak mengajukan cuti selama periode dimaksud. Namun, larangan ini juga dikecualikan untuk cuti melahirkan dan/atau cuti sakit, dan/atau cuti karena alasan penting bagi PNS. Demikian pula pengecualian bagi cuti melahirkan dan/atau cuti sakit bagi PPPK.
Terkait penerapan larangan itu sendiri, bagi ASN yang melanggar, tentunya akan ada sanksi untuk itu, yakni dengan adanya arahan bagi Pejabat Pembina Kepegawaian untuk menetapkan peraturan teknis dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan di lingkungan instansi masing-masing dengan mengacu pada surat edaran dimaksud.
Selain itu, sanksi juga sudah menanti bagi ASN yang melanggar sesuai dengan ketentuan di dalam PP No. 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dan PP No. 49 tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Kemudian untuk pelaksanaan surat edaran ini, maka PPK yang ada di kementerian/lembaga/daerah pun diminta untuk melaporkan pelaksanaan surat edaran ini kepada MenPANRB melalui tautan https://s.id/LaranganBepergianASN paling lambat pada tanggal 24 Mei 2021.
ADVERTISEMENT
Memupus Asa Demi Keluarga
Tentunya sebuah larangan ada karena memiliki tujuan. Tujuan dari penerapan larangan mudik ini tentunya untuk dapat memutus mata rantai penyebaran COVID-19. ASN sebagai Abdi Negara mau tidak mau harus dapat mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Kepatuhan ini diatur sesuai dengan ketentuan Undang-undang ASN pasal 10, bahwa fungsi ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik.
Banyak dari kita yang tentunya terpaksa harus memupus niat untuk mudik setelah mengetahui bahwa pemerintah melarang mudik dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona yang lebih luas lagi. Bahkan, mungkin sudah banyak yang menyusun rencana jauh sebelum aturan ini diberlakukan, bahkan dari setahun yang lalu harus menunda rencana untuk mudik jauh sebelum covid-19 meluas.
ADVERTISEMENT
Mudik yang sedianya kita jadikan ajang untuk menyambung silaturahmi, menengok orang tua, dan berkumpul bersama keluarga di saat momen lebaran, merupakan kebiasaan yang tidak ingin kita lewatkan begitu saja. Namun, tentunya akan terjadi mobilitas yang cukup tinggi, dan dapat mengakibatkan penularan COVID-19 meningkat.
Peningkatan penularan COVID-19 bukanlah hal yang kita inginkan. Karena itu, maka mari kita berusaha memutus penyebaran COVID-19, menabung rindu, memupus asa tuk sementara. Tidak mudik bukan berarti kita tidak rindu dan sayang keluarga, namun rasa sayanglah yang membuat kita tidak mudik. Bisa jadi, kita yang biasanya membawa buah tangan untuk keluarga, siapa yang tau saat ini bisa saja malah kita membawa COVID-19.
Semoga pandemi ini segera berlalu, dan di kesempatan berikutnya kita bisa mudik dan berkumpul bersama keluarga, dalam suasana suka cita, tanpa kekhawatiran membawa COVID-19 pulang bersama kita. Mari kita memupus asa, menabung rindu untuk keselamatan bersama.
ADVERTISEMENT