kumparan
1 Nov 2017 7:17 WIB

Uji Coba Nuklir Bawah Tanah Korut Memicu Gempa Hingga 6 Magnitudo

Gempa akibat uji coba nuklir Korut (Foto: usgs.gov)
Lebih dari 200 orang dikhawatirkan meninggal dunia saat terowongan di lokasi uji coba nuklir Korea Utara runtuh pada Selasa (31/10). Runtuhnya terowongan Punggye-ri ini dipicu dari ledakan uji coba nuklir yang sudah dilakukan keenam kalinya di kawasan itu.
ADVERTISEMENT
Dilansir AFP, yang mengutip dari TV asal Jepang, Asahi, menyebut uji coba nuklir ini merupakan yang keenam kalinya. Ledakan terbesar terjadi pada 3 September lalu. Namun TV Asahi tidak menyebutkan sumber-sumber yang dikutip dari Korea Utara itu.
Sekitar 100 pekerja dilaporkan menjadi korban dalam keruntuhan awal. Hingga sejauh ini, selama operasi penyelamatan, setidaknya sudah ada sekitar 200 orang yang tewas.
"Kecelakaan itu dipicu oleh uji coba," Asahi TV menambahkan.
Para ahli telah memperingatkan bahwa tes di bawah tanah dapat menyebabkan gunung tersebut runtuh dan kebocoran radiasi ke atmosfer di dekat perbatasan China. Uji coba terakhir - yang keenam di lokasi sejak 2006 - memicu tanah longsor di daerah peledakan dan sekitarnya, menurut gambar satelit yang diambil sehari setelahnya.
ADVERTISEMENT
Gambar yang diterbitkan oleh situs 38 North menunjukkan perubahan di permukaan di Punggye-ri di mana tanah telah terangkat ke udara oleh getaran. Tanah longsor kecil mengikuti jalan setapak sungai.
Ledakan tersebut menyebabkan gempa berkekuatan 6,3 magnitudo, menurut Survei Geologi AS. Beberapa menit kemudian diikuti oleh gempa lain berkekuatan 4,1 magnitudo.
Jepang menilai hasil uji dari apa yang dikatakan Korut adalah bom hidrogen pada 120 kiloton, delapan kali ukuran Hiroshima pada tahun 1945. Hal ini sangat tidak biasa bagi Korea Utara untuk mengakui adanya kecelakaan besar, terutama apapun yang melibatkan program nuklirnya.
Sementara itu juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Lee Eugene, tak memberi banyak komentar. Dia mengaku tak tahu banyak terkait insiden ini.
ADVERTISEMENT
"Kami mengetahui laporan tersebut namun tidak mengetahui apapun tentang hal itu," ujarnya.
Laporan tersebut muncul menjelang kunjungan presiden AS Donald Trump ke Korea Selatan minggu depan di tengah meningkatnya perang kata-kata antara dia dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un.
Korea Utara telah membuat langkah signifikan dalam teknologi atom dan rudalnya di bawah Kim, yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya Kim Jong-Il pada tahun 2011.
Sejak saat itu ia telah mengawasi empat dari enam uji coba nuklir negara tersebut dan memuji senjata atom sebagai "pedang berharga" untuk melindungi negara dari serbuan Amerika Serikat.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan