• 9

12 Tahun Tsunami Aceh dan Kisah Arani yang Kehilangan 16 Kerabat

12 Tahun Tsunami Aceh dan Kisah Arani yang Kehilangan 16 Kerabat



Peringatan 12 tahun tsunami Aceh

Warga membaca surat Yasin di kuburan massal korban tsunami di Desa Suak Indrapuri. (Foto: Syifa Yulinnas/Antara)
Arani Andah (62) adalah contoh ketegaran rakyat Aceh yang pada 12 tahun silam dilanda gempa dan tsunami dahsyat. Kehilangan 16 kerabat adalah cobaan terberat sepanjang hidupnya, tapi kesabaran adalah pelipur lara paling mujarab.
Senin (26/12) pagi, Arani bersama ratusan masyarakat Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, berkumpul di pemakaman massal korban tsunami Suak Indra Puri. Dia menghadiri zikir dan doa bersama mengenang tepat 12 tahun hari gempa dan tsunami Aceh. Mayoritas peserta zikir adalah warga yang kehilangan sanak-saudara akibat bencana kemanusiaan terburuk yang pernah terjadi itu.
"Saat tsunami itu saya masih menjabat sebagai kepala dusun (kadus) Suak Indra Puri. Kami kehilangan 16 orang satu keluarga, alhamdulillah saya masih diselamatkan oleh Allah SWT saat itu, entah dengan cara saya bisa berhasil lari dan selamat dari kejaran gelombang," ceritanya seperti dikutip dari Antara, Senin.
16 Kerabatnya yang hilang itu adalah adik, abang dan orang tuanya. Mereka semua terkubur terpisah-pisah dalam makam massal korban tsunami di daerah itu.

Kami kehilangan 16 orang satu keluarga, alhamdulillah saya masih diselamatkan oleh Allah SWT saat itu, entah dengan cara saya bisa berhasil lari dan selamat dari kejaran gelombang.

- Arani Andah, korban selamat


Lain lagi kisah Anto. Ketika musibah terjadi, dia kehilangan anak lelaki satu-satunya. Hingga kini Anto tidak memiliki keturunan.
“Saya kehilangan anak lelaki satu-satunya saat tsunami ketika itu ia berusia 13 tahun, terpisah dalam suasana hempasan, digulung gelombang besar. Kami warga Suak Indra Puri yang saat itu sempat melihat air gelombang laut surut," kenangnya.
Ia sendiri tidak mengetahui di mana tubuh atau jasad anaknya, hingga 12 tahun sudah bencana dahsyat itu berlalu. Keluarga itu sudah tidak punya anak lagi, namun hidup tetap tegar dengan semua yang dimiliki saat ini.

Saya kehilangan anak lelaki satu-satunya saat tsunami ketika itu ia berusia 13 tahun, terpisah dalam suasana hempasan, digulung gelombang besar.

- Anto, korban selamat

Setiap tahun tanggal 26 Desember, keluarga Anto selalu menghadiri acara peringatan mengenang tsunami yang dilaksanakan secara bersama-sama dan membuat acara kenduri.
Di lokasi makam massal korban tsunami Suak Indra Puri terkubur ribuan jiwa masyarakat korban tsunami, serta korban-korban lainnya yang ditemukan dalam reruntuhan maupun tertimbun diangkut secara massal dengan alat berat dan dikuburkan dalam satu kompleks pemakaman tersebut.
Sebagian korban tsunami juga diangkut dengan kendaraan ke pemakaman massal lain di Beureugang, Kecamatan Kaway XVI. Suak Indra Puri dan Beureugang saat ini menjadi tempat seremonial masyarakat bersama pemerintah daerah setempat melaksanakan acara mengenang gempa dan tsunami Aceh setiap tahunnya.
Tak cuma kehilangan anak-saudara, korban tsunami juga kehilangan tempat tinggal beserta isinya. Namun kini mereka telah menempati perumahan relokasi di beberapa komplek perumahan bantuan.
"Alhamdulillah, pascatsunami kami mendapatkan rumah bantuan di kompleks Blang Beurandang,” aku Anto.

Relokasi hunian korban tsunami Aceh

Aparat membantu relokasi hunian korban tsunami Aceh ke tempat yang lebih layak. (Foto: Irwansyah Putra/Antara)
Pada acara peringatan tersebut Pemkab Aceh Barat menyerahkan santunan secara simbolis kepada 220 orang anak yatim masing-masing Rp 200 ribu, kemudian dilanjutkan dengan acara tausiah, zikir dan doa bersama dan terakhir seluruh warga yang hadir makan bersama yang disebut kenduri rakyat di pantai bersejarah itu.
Musibah gempa dan tsunami terjadi 26 Desember 2004. Merujuk data dari BNPB, di Aceh sebanyak 173.741 jiwa meninggal dan 116.368 orang dinyatakan hilang, sedangkan di Sumatera Utara 240 orang tewas. Tsunami juga mengakibatkan ribuan rumah dan bangunan rusak, dan menyebabkan hampir setengah juta orang jadi pengungsi.
12 Tahun berlalu, Aceh telah bangkit lagi, sebagaimana Anto dan Arani.

NewsTsunami AcehAcehDuka Aceh di Desember

500

Baca Lainnya