• 1

Antara Sarlito dan Sybil

Antara Sarlito dan Sybil



Psikolog terkemuka Sarlito Wirawan tutup usia di umur 72 tahun. Almarhum meninggalkan jejak berupa kecintaannya pada saksofon, tweet-nya yang bernas, ilmu yang tak terlupakan bagi para mahasiswanya, hingga buku psikologi populer bertajuk Sybil.
Di Twitter, Sarlito menggambarkan dirinya sebagai seorang kakek yang mencintai saksofon. Dalam beberapa acara santai, Sarlito memang suka memainkan alat tiup itu. Hebatnya, dia baru belajar saksofon pada usia 60 tahun! Suatu bukti bahwa Sarlito adalah orang yang gemar belajar tanpa kenal usia.

Twitter Sarlito Wirawan

Bio Akun Twitter Sarlito Wirawan (Foto: photographer/kumparan)

Polisi sering juga memanggil Sarlito untuk menjadi saksi ahli untuk kasus-kasus rumit. Misalnya dalam kasus pembunuhan Mirna Salihin, polisi memanggil Sarlito beberapa kali untuk dimintai pendapatnya. Saat itu, Sarlito berkeyakinan bahwa kasus itu layak dibawa ke pengadilan dengan Jessica Kumala Wongso sebagai terdakwa.

Polisi sebenarnya juga memanggil Sarlito untuk menjadi saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Ahok pada Senin, 14 November. Namun Sarlito tidak memenuhi undangan itu karena kesehatannya menurun. Sarlito wafat malam harinya pada pukul 22.15 WIB di RS PGI Cikini, Jakarta Pusat.
Bicara soal karya tulis, Sarlito menulis banyak buku, yaitu: Psikologi Remaja, Pengantar Umum Psikologi, Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh -Tokoh Psikologi, Psikologi Lingkungan, Psikologi Prasangka Orang Indonesia, Terorisme di Indonesia: Dalam Tinjauan Psikologi, Perbedaan antara Pemimpin dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa, Menakar Jiwa Mantan Teroris dan Sybil.

Sybil

Sybil adalah buku terjemahan Sarlito (Foto: photographer/kumparan)
Judul terakhir bukanlah buku teori, melainkan novel psikologis terjemahan. Novel itu menggambarkan seorang perempuan berkepribadian 16 bernama Sybil.
Novel psikologi yang membuka mata tentang kepribadian ganda atau kepribadian terpecah ini sangat terkenal di kalangan mahasiswa psikologi maupun masyarakat awam karena ditulis seperti fiksi sehingga mudah dipahami. Buku ini belasan kali naik cetak dan selalu best seller.
Kepribadian Sybil terpecah karena kekerasan yang dialaminya semasa kecil, tanpa sepengatahuan sang ayah. Kisah Sybil sungguh mengharu biru, seperti fiksi thriller-psikologi.
Lewat penerjemahan karya Rheta Schreiber (1973) yang merupakan kisah nyata ini, Sarlito sukses memperkenalkan psikologi kepada masyarakat luas dengan pendekatan populer.






500

Baca Lainnya