Kumplus Horor- Teror Lampor

Berburu Lampor (4)

Alumni Kriya ITB. Warga Temanggung. Pekerja penuh waktu di kumparanplus. Master of none. Pengabdi cuan. Petualang.
29 Oktober 2021 17:55
·
waktu baca 7 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
“Ngungg, ngungg, ngungg.”
Dengungan itu terdengar jelas dari arah jendela kamarku. Kuduga sumber bunyinya ada di atas jendela. Tentu saja ini aneh. Jendela kamarku dan tembok rumah tetangga hanya dipisahkan oleh sebuah lorong selebar satu meter yang mengarah ke dapur. Bagian atasnya tertutup rapat oleh atap transparan. Rasa-rasanya, berpikir sekeras apapun, aku tidak bisa menemukan alasan logis di balik suara tengah malam itu.
Suaranya semakin jelas dan sulit diabaikan. Bulu kudukku berdiri karena tiba-tiba teringat cerita yang kudengar sore sebelumnya. “Biasanya kemunculan lampor selalu ditandai dengan suara aneh yang keras, seperti suara angin, tapi bukan.”
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparan+
Lampor menjadi momok bagi masyarakat Jawa tradisional. Ia muncul, menculik orang, dan mengembalikan orang itu dalam kondisi linglung. Sunar adalah salah satu korban lampor. Ia membagikan ceritanya secara eksklusif kepada kumparanplus. Klik di bawah.