Pencarian populer

Putri Komar: Diremehkan Lalu Sukses Kawinkan Batik dengan Shibori

Putri Komar dan Shibotik (Foto: Instagram/ @putrikomar)

Namanya Putri Urfanny Nadhiroh. Kerap dipanggil Putri Komar (diambil dari nama ayahnya, Komarudin Kudiya, pemilik Rumah Batik Komar di Bandung). Tapi aku mengenalnya dengan panggilan “Piyut”.

Kami saling kenal karena “tak sengaja” satu kelas di tahun pertama kami kuliah. Kemudian di tahun kedua, kami kami sama-sama mengambil jurusan Kria dengan konsentrasi peminatan tekstil. Di kampus kami, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, mahasiswa baru memilih jurusan di tahun kedua.

Secara mudah, kami menyebut jurusan kami “Kria Tekstil” untuk membedakan dengan mereka yang mengambil konsentrasi peminatan keramik.

Sejak pertama mengenal Piyut, kata “batik” selalu lekat dengan image-nya. Piyut adalah batik. Lahir dari keluarga pebatik, tinggal di lingkungan industri batik (bahkan, Batik Komar bisa dibilang industri batik terbesar di Bandung), dan kuliah di jurusan Kria yang salah satu mata kuliah wajibnya adalah batik.

Maka sekali lagi, Piyut adalah batik.

Ibu-ibu membatik. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Masa kecil Piyut mungkin agak berbeda dengan anak lain. Sejak kecil, ia sudah menikmati suasana para pebatik bekerja di garasi rumahnya (yang semula hanya tiga orang pegawai hingga kini mencapai ratusan orang).

Meski mengikuti proses membatik dari kecil, Piyut baru mulai serius menyelami dunia batik saat beranjak SMA. Saat itu ia mengikuti berbagai lomba desain batik.

Sebagai anak yang dilahirkan seorang pengusaha batik, Piyut kerap disalahpahami. Maksudnya, banyak orang salah sangka menerka motivasi dan pilihan Piyut untuk terjun ke dunia batik.

“Banyak yang bilang, misalnya teman-teman mama sama ayah, ‘Kenapa sih anaknya dipaksa (ikut di dunia batik) mentang-mentang gerak di bidang batik.’ Padahal enggak ada yang memaksa. Emang aku yang pengen,” kata Piyut saat kusambangi di workshop Batik Komar, Cigadung, Bandung, Sabtu (9/9).

Keluarga Komar (Foto: Ig/shibotik.id)

Kecintaan Piyut terhadap batik pun sering diremehkan orang lain. Ia mengatakan, tak sedikit orang yang memandangnya sebagai bayang-bayang kedua orang tuanya --terutama ayahnya-- dan meragukan kemampuannya sebagai seorang pebatik.

“Sempet waktu sidang juga kan aku diremehin. ‘Kamu apa bedanya sama ayah kamu kalau bikin batik juga?’ Terus aku kan mikir, ‘Loh, emang apa salahnya kalau aku juga punya karya batik, kalau aku punya karakter dan ciri khas sendiri?’” kata Piyut, mengenang.

Dari situlah ia mulai terpacu untuk bisa membuat suatu gebrakan yang menjadi garis pembeda antara batik karyanya dengan sang ayah. Piyut bertekad membuktikan bahwa eksistensinya bukan hanya karena sang ayah, tapi karena kemampuannya sendiri.

“Akhirnya aku sempet diskusi sama ayah, ‘Gimana nih Yah, aku ingin bikin brand tapi namanya apa?’ Karena aku kan ingin menggabungkan shibori sama batik. Emang mungkin ada (yang melakukannya) tapi belum ada yang mem-publish-nya. Belum ada yang me-launching diri memadukan shibori dan batik,” kata Piyut sambil menghentikan sejenak obrolan kami untuk meladeni pertanyaan tiga orang mahasiswa yang magang di Shibotik.

Shibori yang disebut Piyut adalah teknik menghias kain yang populer di Jepang. Kain yang diikat, dijahit, atau dilipat sesuai pola tertentu, dicelupkan ke zat pewarna--seperti proses celup dalam membatik.

Sementara Shibotik ialah line dari Rumah Batik Komar yang, tentu saja, menggabungkan batik dengan teknik pewarnaan shibori tersebut.

Kain Shibotik (Foto: Ig/@shibotik.id)

Ide awal mengawinkan shibori --teknik merintang warna dengan melipat, mengikat, atau melilit kain sebelum dicelupkan ke pewarna untuk membentuk pola tertentu-- dengan batik sebenarnya lahir dari kebosanan Piyut akan batik.

Di tengah kebosanan itu, Piyut sempat berhenti membuat batik dan banting setir mempelajari teknik shibori. Saat mengikuti lomba Nissan March Invention, Piyut mulai mengawinkan shibori dengan batik menjadi sebuah desain cantik yang mengantarkannya meraih juara dua.

Gelar juara membuatnya lebih percaya diri untuk mendalami perkawinan dua teknik tersebut. Piyut mulai membuat berbagai macam eksperimen, dan berniat membuat brand sendiri, lepas dari bayang-bayang Batik Komar.

“Aku sebenernya pengen bikin brand sendiri karena aku enggak mau ada di bawah ayah terus, di belakang ayah terus, aku takut. Akhirnya diskusi sama ayah,” kata dia.

Bagaimanapun, Piyut tak ingin mengesampingkan peran sang ayah begitu saja. Bahkan, kolaborasi ayah-anak ini tergambar jelas dari logo Shibotik berupa dua buah awan (mega) yang membentuk huruf S.

Megamendung menggambarkan identitas asal Piyut dan ayahnya sebagai orang Cirebon. Sebab Megamendung ialah motif batik khas Cirebon.

Putri Komar dan Shibotik (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)

Piyut bercerita bagaimana serunya saat ia mulai bereksperimen untuk melahirkan Shibotik bersama sang ayah. Pak Komar, ayahnya, kala itu baru lulus S3 dan sedang hangat-hangatnya membuat terminologi, bagan eksperimen, serta metodologi.

Dengan bekal itu, sang ayah bertugas membuat tabel eksplorasi agar “pencarian” yang mereka lakukan lebih terstruktur. Sementara sang anak, Piyut, bertugas melakukan eksplorasi praktikal.

Dari hasil eksplorasi tersebut, mereka mengerucutkan dan akhirnya menetapkan mana saja yang bisa digunakan sebagai bagian dari keluarga Shibotik.

Uniknya, tak hanya hasil eksplorasi berupa perkawinan teknik saja yang dihasilkan, ayah-anak ini juga menciptakan terminologi baru bagi karya mereka.

“Jadi misalnya, teknik shibori-nya yang asli jepang itu ada (pola) hoshi, kumo, itajime. Itu sama ayahku diubah (dimofifikasi). Yang itajime kan lipat, kami ganti jadi liptaben liptakat (lipat tanpa benang, lipat tanpa ikat). Dan lain-lain,” ujar Piyut, antusias menceritakan dunia yang menjadi passion-nya itu.

Proses eksplorasi tak berjalan mudah. Piyut membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk bereksplorasi. Ia pergi ke negeri Sakura demi belajar teknik shibori ke negari asalnya.

“Prosesnya aku bagi dua, ada yang wardulin dan liduwar. Wardulin itu warna dulu baru lilin, jadi shibori dulu baru dibatik. Yang linduwar kebalikannya, lilin dulu baru diwarna. Dua itu aja yang kupegang,” ujar Piyut, merinci teknik yang ia gunakan.

Putri Komar saat belajar Shibori di Jepang (Foto: Ig/@shibotik.id)

Tidak semua teknik shibori bisa dikerjakan lebih dulu baru dibatik. Menurut Piyut, memang ada beberapa teknik yang harus dibatik dulu, baru diwarna menggunakan teknik shibori. Demi membentuk perkawinan harmonis, Piyut kadang harus menciptakan motif batik baru agar terlihat pantas dikawinkan dengan shibori.

“Karena enggak bisa asal-asalan membuatnya. Karena aku sekolah desain, jadi bisa lumayan paham dengan komposisi, rana, dan segala macam. Jadi enggak asal ngegabungin. Misalnya shibori-nya udah rame, batiknya juga rame, kan jadi norak, enggak bagus,” kata dia.

Sebelum merilis suatu produk, ia harus membuat rincian target market terlebih dahulu. Pada titik ini, Piyut rupanya masih agak galau dalam menentukan target market Shibotik. Ia membagi target pasarnya menjadi tiga segmen: basic (dasar), premium, dan signature (khas). Untuk produk basic, ia mematok harga Rp150 ribu hingga Rp 500 ribu.

Target market-nya sih inginnya untuk anak-anak muda, umur 20-30 tahun. Dan karena ini tekniknya batik, crafted, jadi enggak mungkin harganya menengah ke bawah, pasti menengah ke atas. Ini yang jadi tantangan aku ke depan. Apalagi tujuan Shibotik ini agar anak-anak muda mau mengenakan batik,” kata Piyut.

Segmen kedua adalah premium yang dibanderol dari Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta untuk pasar ibu-ibu usia 35-50 tahun. Sementara signature merupakan produk custom yang harganya bervariasi, tergantung tingkat kesulitan.

“Sekarang manajemen masih dipegang mama dan ayah, jadi aku belum terlibat langsung ke penentuan harga. Kadang suka debat soal penentuan harga. Makanya nanti beres kuliah, Insyaallah aku pegang sendiri Shibotik, mulai dari managemen sampai bayar pegawainya. Jadi aku bisa ngitung berapa HPP (harga pokok penjualan)-nya dan targetnya kubagi dua: online dan offline,” jelas Piyut.

Putri Komar dan Shibotik (Foto: Instagram/ @putrikomar)

Ia bersyukur pendapatannya terus meningkat sejak Shibiotik pertama kali launching. Di hari pertama, ia mampu mengantongi hingga Rp 6 juta, hingga pernah menyentuh Rp 150 juta dalam sebulan.

“Kalau enggak ada pameran, cuma ngandelin showroom sama online aja, paling dapat Rp 15 juta. Tapi kalau ada pameran bisa di atas Rp 80 juta,” kata dia.

Tak terasa, perbincangan dan temu kangen kami yang begitu singkat harus berakhir karena Piyut harus bersiap belajar. Ya, ia hendak menempuh pendidikan pascasarjana Fashion Design di Inggris.

Piyut sengaja belajar lagi karena merasa jiwa fesyennya belum bangkit. “Shibotik ada produk fesyennya, cuma aku meraba-raba apa yang lagi ngetren, enggak ada ilmunya. Makanya aku ambil Fashion Design. Aku ingin Shibotik lebih ke arah modest fashion --bukan baju muslim, cuma sopan tapi mix & match, bisa dipakai semua golongan. Aku takut dosa kalau bikin yang terbuka-terbuka,” ujarnya, tertawa kecil.

Begitulah perbincangan hangat kami sore itu. Menempuh pendidikan yang sama, mencintai hal yang sama, kami memilih untuk melangkah di dua jalan berbeda demi satu tujuan, yakni melestarikan satu tradisi yang turun-temurun diwariskan nenek moyang: batik.

Infografis Alat-alat Batik (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22