Woman
·
15 September 2021 6:40
·
waktu baca 4 menit

Belajar Kebaikan dari Perawat

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Belajar Kebaikan dari Perawat (13745)
searchPerbesar
Seorang Perawat. Sumber: freepik.com
Beberapa waktu lalu, grup percakapan keluarga besar isteri saya mendadak ramai dengan doa dan simpati. Hal ini dipicu atas terpaparnya kakak ipar saya karena terpapar Covid-19—meski sudah mendapat vaksin kedua. Sebenarnya informasi paparan Covid-19 sudah menjadi hal yang biasa di kala pandemi masih melanda negeri dan lama kelamaan menjadi sebuah kenormalan baru seperti halnya informasi kematian. Ucapan duka cita pun tinggal menyalin dari pesan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Saya fikir banalitas paparan Covid-19 sudah tercipta secara alamiah seiring belum berakhirnya pandemi. Saya pun sudah mulai terbiasa juga, apalagi sebagai bagian Satgas Covid-19 perumahan dan kantor, sudah menjadi tugas saya membuat notifikasi paparan Covid maupun kematian sebab Covid.
Namun ada yang berbeda ketika yang terpapar adalah dari keluarga sendiri—kakak ipar saya yang kebetulan berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Untunglah ia tidak merasakan gejala awal-awal paparan Covid, seperti anosmia atau daya penciuman yang menghilang, jadinya cukup isolasi mandiri saja di rumah.
Yang menjadi masalah adalah kakak ipar saya masih tinggal di rumah ibu mertua bersama suami dan dua anaknya yang sudah bersekolah. Kebetulan memang suaminya bukanlah pekerja tetap cum pekerja non formal, yakni driver gojek motor online. Ya, beliau masih belum punya rumah sendiri.
ADVERTISEMENT
***
Profesi perawat masih menjadi garda depan bersama nakes lainnya—berjuang merawat para pasien Covid-19 di tanah air bahkan di dunia hingga kini. Tak kenal lelah dan putus asa, meskipun mereka sadar risiko tertular Covid-19 sangat potensial. Dilematis memang, di tempat mereka bekerja harus merawat pasien, di sisi lain mereka tetap harus menjaga dirinya sendiri agar tidak drop kondisi hingga jatuh sakit dan tidak menulari keluarga mereka di rumah.
Dari rilis yang dikeluarkan Tim Mitigasi Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) jumlah kematian atau mortalitas tenaga kesehatan khususnya perawat akibat Covid-19 masih cukup tinggi setelah jumlah kematian dokter selama setahun pandemi ini. Tercatat per 28 Februari 2021, lebih dari 718 tenaga kesehatan terdiri dari 325 dokter, 234 perawat, 106 bidan, 33 dokter gigi, 11 apoteker, dan 17 Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) telah menghadap sang PenciptaNya. Bahkan pada awal tahun kemarin angka kematian nakes di Indonesia disebut menjadi yang tertinggi di Asia, dan terbanyak kelima di dunia.
ADVERTISEMENT
Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Adib Khumaidi, Sp.OT, menjelaskan angka kematian tenaga kesehatan tidak lepas dari ketidakpatuhan dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Tingginya mobilitas dan aktivitas masyarakat saat pandemi Covid-19 termasuk dari kegiatan berlibur, pilkada, hingga berkumpulnya keluarga bersama teman di luar rumah menjadi faktor-faktor penyebab paparan Covid-19.
Tingkat infeksi Covid-19 yang meningkat setiap hari, mempunyai konsekuensi logis beban kerja tenaga kesehatan juga meningkat. Interaksi yang intensif dengan pasien Covid-19 membuat tingginya pula tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 dan menjadi keniscayaan pula angka kematian paralel dengan kematian mereka.
***
Saudara, para perawat dituntut profesionalitasnya dalam menjalankan tugas karena perawat merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan dimana tindakan-tindakannya dilaksanakan dengan integritas tinggi, didasari kemampuan serta keterampilan yang telah didapat selama pendidikan dan selama menjalani profesi. Namun di sisi lain, kesejahteraan para perawat perlu diperjuangkan ketika risiko pekerjaan cukup tinggi mempertaruhkan nyawa diri dan keluarga.
ADVERTISEMENT
Wafatnya para pekerja medis dan kesehatan, khususnya para perawat patut dijadikan refleksi bukan hanya perenungan namun jadi pertimbangan dan menjadi kajian bagi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sehingga nantinya menelurkan rekomendasi terbaik kepada pemerintah demi kesejahteraan dan kenyamanan bekerja para perawat Indonesia.
Bagi masyarakat, ikhtiar saling menjaga dan melindungi di antara kita antara lain dengan menjaga protokol kesehatan demi menghargai pengorbanan para perawat menjadi apresiasi kita kepada para perawat. Ingat pandemi belum berakhir!
Bagi instansi terkait, memastikan perlindungan para tenaga medis dan kesehatan dengan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), dan penyediaan alat pelindung diri (APD) yang baik menjadi krusial sesuai rekomendasi IDI bagi para pejuang-pejuang tenaga kesehatan pada umumnya.
ADVERTISEMENT
Tak lupa perlindungan dan hak tenaga medis serta tenaga kesehatan termasuk perawat dalam melakukan pelayanan perlu juga diperhatikan selain tentu saja kesejahteraan perlu ditingkatkan sebagai balas jasa dedikasi dan komitmen mereka selama ini—walau mereka tak memintanya. Mereka hanya berprinsip “teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular.” Mari belajar kebaikan dari perawat. Semangat bapak ibu perawat!
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020