Buzz
·
16 September 2021 5:51
·
waktu baca 3 menit

Berbagi Informasi dan Tangkal Hoax: Cara Humas Pemerintah Menebar Kebaikan

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Berbagi Informasi dan Tangkal Hoax: Cara Humas Pemerintah Menebar Kebaikan (137476)
searchPerbesar
Ilustrasi Humas (PR). Sumber: freepik.com
Bicara tentang profesi Humas atau Hubungan Masyarakat cum Public Relation (PR), tak lepas dari konteks informasi dan pesan. Tak heran, dahulu dalam sejarah, Humas dikenal pula sebagai ahli propaganda yang baik dalam mengemas pesan organisasi.
ADVERTISEMENT
Dan memang di masa perang, Humas bertugas mengirim pesan yang dapat mematahkan semangat lawan. Dapat dikatakan Humas melakukan propaganda untuk kepentingan kemenangan pihak yang menjadi afiliasinya.
Lantas bagaimana peran Humas di masa kini? Di masa kini, humas harus multi talent dan multi tasking, tak hanya berbagi informasi saja, namun mulai dari menulis berita, menyiapkan siaran pers dan konferensi pers, mengambil gambar baik foto dan video kegiatan, mengedit foto dan video, mempostingnya di medsos dan website, mendesain poster, menyiapkan pidato pimpinan, menyiapkan booth pameran, menjaga hubungan baik dengan rekan media, mengelola dan membuat konten, memantau timeline, hingga memonitor jumlah followers medsos institusinya (Ramadani, 2020).
Di era digital 4.0 saat ini, seorang Humas khususnya Humas pemerintah memiliki tugas berat—terutama menangkal hoax. Kita tahu informasi, baik itu tulisan, gambar, atau video yang banyak viral di semesta tak berbatas bernama internet bagaikan pisau bermata dua—ada yang berbahaya, ada pula yang berguna bagi masyarakat. Informasi yang viral bisa jadi bermanfaat terhadap penyebarluasan pengetahuan sebagai referensi masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks informasi mengenai penyakit misalnya, setidaknya memunculkan kewaspadaan. Tapi informasi viral yang salah berdampak sebaliknya. Salah satu jenis informasi yang bisa viral mungkin saja berisi kebohongan atau populer dengan istilah hoax. Hoax selalu dikaitkan dengan kebohongan yang disengaja. Ini bisa benar dan bisa juga salah, yang pasti hoax mengandung informasi yang salah baik misinformation maupun disinformation (Kunandar, 2020).
Dengan demikian, para humas pemerintah harus berupaya selalu mengusung narasi dan konten-konten yang positif, berita baik, menangkal hoax, misinformasi maupun disinformasi, misalnya tentang COVID-19 atau vaksinasi dalam wadah Ikatan Pranata Humas Pemerintah (Iprahumas)—yang merupakan organisasi profesi dan medium komunikasi antar humas pemerintah bersama-sama mengusung narasi tunggal yang sama bersatu dalam menangkal hoax.
ADVERTISEMENT
Itulah makanya Humas pemerintah harus pro aktif. Artinya, Humas melakukan tugas dan fungsi rutin tanpa harus menantikan disposisi atasan. Humas harus pro aktif aktif meningkatkan potensi diri dengan menambah ilmu-ilmu baru peningkatan skill diri dan kompetensi. Tak cukup hanya meningkatkan literasi dengan banyak membaca, mengikuti bimtek-bimtek kehumasan dapat jadi nilai tambah diri dan profesi
Humas juga harus menulis. Menulislah ke luar instansi. Jangan hanya berkutat main di rumah sendiri. Informasi harus ditebar kebaikannya ke seluruh media tak hanya yang mainstream. Melihat tulisan kita dimuat di media luar instansi akan menambah rasa percaya diri berkompetisi di dunia luar.
Humas juga harus kreatif. Maksudnya seorang humas harus mengembangkan sebuah strategi komunikasi yang kreatif untuk dapat berinteraksi langsung dengan khalayak internal dan eksternal. Contohnya memaksimalkan dan memanfaatkan media-media interaktif kekinian, misalnya sosial IG live, FB live dan streaming Youtube live untuk berbagi informasi dan menangkal hoax.
ADVERTISEMENT
Jadi, sebagai humas, teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular. Fokus saja di bidang Humas yang menjadi ranah aktualisasi diri selama ini. Konsistensi di bidangnya akan melahirkan kompetensi yang yang dicari dan dibutuhkan banyak orang, tak hanya instansi tempat mengabdi. Maju terus, Humas Pemerintah!
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN