Buzz
·
11 September 2021 18:06
·
waktu baca 3 menit

Memikirkan Para Guru Ngaji di Masa PPKM

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Memikirkan Para Guru Ngaji di Masa PPKM (150922)
searchPerbesar
Ilustrasi Guru Ngaji. Sumber: freepik.com
Sosok guru—termasuk guru agama—mempunyai peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Merekalah yang telah membentuk sosok-sosok generasi masa depan penerus perjuangan bangsa yang memiliki kecerdasan akal, moral, bahkan spiritual. Itulah makanya dalam masyarakat Jawa, sosok guru adalah figur yang "digugu lan ditiru" atau orang yang dipercaya dan diikuti.
ADVERTISEMENT
Pada artikel ini saya fokus pada para guru agama yang bekerja di sektor informal, yakni para ustadz-ustadzah, ajengan, kyai di perkampungan yang lazim disebut guru ngaji. Di masa pandemi Covid-19 tahun lalu, para guru ngaji pernah merasakan harus istirahat mengajar baca AlQuran, kitab-kitab kuning, berdakwah/ceramah tatap muka karena tempat-tempat ibadah harus ditutup sementara untuk menghindari penyebaran virus Corona.
Tak hanya masjid dan musala yang harus ditutup, majelis-majelis taklim yang mengundang banyak orang ditutup sementara. Dan kejadian tahun lalu terulang kembali di Masa PPKM Darurat sejak 5 Juli 2021 lalu, apalagi saat paparan virus Corona varian Delta meningkat, tak pelak masjid dan musala pun tutup, dan majelis taklim pun mengikut.
Suka tak suka, mau tak mau penghasilan guru ngaji pun jadi minus, perekonomian mereka pun terdampak. Karena banyak dari mereka yang memang kegiatannya sehari-hari alias profesinya memang jadi guru ngaji saja—tak punya penghasilan lain.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini cukup menyedihkan memikirkan para guru ngaji tersebut. Padahal para guru ngaji adalah manusia biasa juga yang telah ikhlas mencerdaskan dan membebaskan semua lapisan usia dari buta huruf Al-Quran, termasuk buta cabang-cabang ilmu agama lainnya seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, Adab, dan lain-lain. Guru ngaji bertanggungjawab pula bagi perkembangan spiritual santrinya, mendidik santri dengan pengetahuan agama yang benar, mengisi hatinya dengan akidah, dan ruhnya dengan akhlakul karimah.
Memang, sih, kita punya orang tua kandung atau orang tua biologis yang melahirkan kita (abuka waladun) dan satu lagi orang tua setelah kita menikahi anaknya, yakni mertua (abukalladzi). Namun perlu diketahui juga guru agama atau guru ngaji adalah orang tua ketiga bagi seorang yang belajar agama (abukalladzi allamak)—karena guru ngajilah yang memberi makan ruh kita, sedangkan orang tua kandung yang memberi makan jasad atau fisik kita.
ADVERTISEMENT
Guru ngaji adalah orang tua ruh bagi kita, sebagaimana maqalah Arab “Lawlal Murabbi maa araftu robbi”, yang artinya “Jika bukan karna guru, maka aku tidak akan mengenal Tuhanku.” Dalam kitab 'Ta’lim al Mutaallim Tharîq at-Ta’allum' karya Imam al-Zarnûji disebutkan, guru yang bertanggung jawab terhadap perkembangan jiwa murid, mengisi dan mendidik otak muridnya dengan pengetahuan yang benar, mengisi hatinya dengan akidah, dan ruhnya dengan akhlakul karimah. Maka sudah sepatutnya nasib orang tua “ruh” ini kita perhatikan kesejahteraannya agar ia tenang mengajarkan kebaikan ilmu agamanya kepada kita.
Jika tahun lalu bansos banyak mengalir dari beberapa pihak kepada semua pihak termasuk guru ngaji—baik yang diliput media atau tidak, cukup membantu meski sifatnya memang sementara. Entah di masa PPKM ini apakah akan ada alokasi untuk para guru ngaji kembali. Tak usah mengharap juga khawatir kecewa. Maka menurut saya, pada masa PPKM ini seyogyanya para murid-murid yang mengaji dengan mereka di masjid, musala dan majelis taklim—yang berkecukupan secara ekonomi—pada mulai bergerak memperhatikan kebutuhan dan kesehatannya hingga PPKM selesai.
ADVERTISEMENT
Ya, mudah-mudahan paparan virus Corona yang membawa Covid-19 mereda sehingga tak perlu diperpanjang PPKM ini atau apapun istilahnya nanti. Imbasnya masjid, musala, dan majelis taklim dibuka normal kembali serta salat Jum’at pun dimulai lagi seperti sedia kala. Dan semua sektor kehidupan berdenyut termasuk sektor ekonomi rakyat. Jangan lupakan kesejahteraan guru ngaji hingga mereka tenang mengajar. Maka, teruslah berbuat kebaikan karena kebajikan itu menular. Termasuk berbuat baik kepada guru ngaji kita dan guru-guru ngaji lainnya yang tetap tawadhu’ tak pernah mengeluh dan tetap hidup bersahaja. Yuk bisa, yuk kita bantu.
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN