Entertainment
·
18 Oktober 2020 6:25

Menanti Renaissance Film Indonesia

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Menanti Renaissance Film Indonesia  (13630)
Ilustrasi Suasana Bioskop dengan Protokol Kesehatan Penonton. Sumber: freepik.com
Pada Minggu, 17 Oktober 2020, sepertinya menjadi hari yang dinanti-nanti bagi para penikmat film di bioskop. Mengapa? Karena jaringan bioskop XXI pada tanggal tersebut dikabarkan akan mulai beroperasi kembali seperti yang dilansir https://kumparan.com pada tanggal yang sama. Disebutkan oleh akun instagram @cinema.21, ada 6 bioskop di jaringan bioskop XXI yang akan mulai beroperasi, Seperti kita ketahui sejak pandemi melanda, sejumlah tempat hiburan, termasuk bioskop, terpaksa harus ditutup, untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2.
ADVERTISEMENT
Kabar tersebut akan berdampak positif pula bagi para sineas tanah air. Geliat film Indonesia pasti akan disambut baik oleh para penikmat film tanah air. Hal ini wajar, karena film Indonesia memang telah memiliki posisi tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Meskipun banyak film-film luar seperti Hollywood, Jepang, Korea maupun Thailand yang masuk ke bioskop Indonesia tapi film Indonesia pun mampu bersaing di negeri ini sendiri.Bicara kualitas, film Indonesia sudah tidak kalah dengan yang diproduksi dari luar negeri.
Menanti Renaissance Film Indonesia  (13631)
Cover Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang meraih 6,8 juta penonton. Dok.: kumparan.com
10 Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa
Lihat saja, konten film Indonesia juga beragam dari horror Suzanna hingga Komedi ala Warkop DKI. Seperti dilansir https://www.idntimes.com, berikut berturut-turut 10 film yang mampu menarik perhatian banyak penonton selama tayang di bioskop hingga mendapatkan predikat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (6,8 Juta Penonton), Dilan 1990 (6,3 Juta Penonton), Dilan 1991 (5,2 Juta Penonton), Laskar Pelangi (4,7 Juta Penonton), Habibie & Ainun (4,5 Juta Penonton), Pengabdi Setan (4,2 Juta Penonton), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (4 Juta Penonton), Ayat-ayat Cinta (3,6 Juta Penonton), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (3,6 Juta Penonton), dan Suzanna: Bernapas dalam Kubur (3,3 Juta Penonton).
ADVERTISEMENT
Dikutip dari https://www.bbc.com, naiknya kuantitas penonton film Indonesia tersebut, sungguh tidak terbayangkan akan terwujud pada tahun 2011. Saat itu tak ada satu pun film Indonesia yang dapat meraih angka satu juta penonton sebagai parameter sukses tidaknya sebuah film Indonesia diputar di bioskop.
5 Film Indonesia Tembus Festival Internasional
Beberapa film anak bangsa juga ada yang berhasil menembus festival internasional dan layak apresiasi. Seperti yang dicatat oleh Stella Azasya (2020) yang dimuat di https://www.idntimes.com. Berikut nama-nama film tersebut:
Film Sekala Niskala, besutan Kamila Andini berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Berlinale International Film Festival tahun 2018 di Berlin. Sebelumnya tahun 2017, berhasil pula meraih penghargaan lainnya seperti Film Terbaik Festival Film Asia Netpac Jogja (JAFF), Film Terbaik Tokyo FilmEx, dan Film Remaja Terbaik di Asian Pasific Screen Award.
ADVERTISEMENT
Selanjutnta Film Laskar Pelangi, yang disutradari oleh Riri Riza menjadi salah satu film paling disukai sepanjang masa. Berhasil mendapatkan International Festival of Film for Children and Young Adults di Hamedan, Iran sebagai The Golden International Film.
Tayang tahun 2019, film Gundala yang disutradarai Joko Anwar berhasil tayang di Toronto International Film Festival 2019, bersaing dengan film Hollywood seperti Knives Out, Joker, dan Radioactive dalam People’s Choice’s Award.
Film Kucumbu Tubuh Indahku, diputar tahun 2018, disutradarai Garin Nugroho berhasil membawa pulang penghargaan Asia Pasific Screen 2018, International Cinephille Society Awards 2019, dan Guadalajara International Film Festival 2019.
Terakhir, film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, telah tayang tahun 2017, diperankan Marsha Timothy. Film ini berhasil menyabet 10 dari 15 kategori di Festival Film Indonesia tahun 2018. Masuk dalam penghargaan Internasional FIFFS Maroko edisi ke 11, Catalonian International Film Festival tahun 2017, Tokyo FilmEx 2017, dan meraih film terbaik Asian Next West Wave the Qcinema Film Festival Filipina.
ADVERTISEMENT
Renaissance Film Indonesia?
Menurut penulis, Indonesia sebenarnya memiliki potensi melakukan penetrasi film di kawasan tetangga sendiri di Asia Tenggara bahkan Asia tak hanya meraih penghargaan festival di luar negeri. Indonesia memiliki bahasa Indonesia yang jauh lebih maju daripada Melayu, produk film dan musik yang cukup digemari oleh negara-negara dengan penutur bahasa Melayu. Harusnya para pemangku kepentingan dapat melihat dan memperhatikan budaya kita sebagai suatu potensi luar biasa mendongkrak pamor Indonesia di mata dunia.
Memimpikan adanya sebuah industri film sendiri yang mendominasi dunia perfilman di negeri sendiri adalah sebuah mimpi yang luhur dan suci. Diperlukan tak hanya modal dan kualitas film termasuk di dalamnya kualitas konten, tema, karakter pemain tetapi juga sebuah nasionalisme. Karena nasionalisme adalah sebuah proses pembayangan, imajinasi, tentang sebuah identitas diri yang unik yang diyakini eksis secara historis oleh sebuah komunitas dalam menghadapi komunitas-komunitas lainnya, maka identitas diri yang unik yang bagaimanakah yang dibayangkan dimiliki Film Indonesia yang membedakannya dari film-film nasional lainnya di planet ini? Adakah gaya perfilman yang khas pada film-film karya anak bangsa yang membuatnya pantas untuk disebut sebagai "Sinema Indonesia" dan menandai apa yang disebut Saut Situmorang sebagai Renaissance Film Indonesia?
ADVERTISEMENT
Mungkin kita masih kalah dalam penggunaan teknologi visual efek tingkat tinggi dengan dana pembuatan yang setinggi langit seperti di Hollywood. Tapi tema-tema yang mengusung nasionalisme, heroisme yang berbau kearifan lokal dan nilai budaya asli Indonesia, sangat menarik di mata dunia dan menjadi pembeda fim kita dari film Hollywood. Semoga. Ayo Bangkit Film Indonesia!