Buzz
·
14 September 2021 8:38
·
waktu baca 3 menit

Mencuci Piring adalah Jalan Ninja Saya di Rumah

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Mencuci Piring adalah Jalan Ninja Saya di Rumah (146429)
searchPerbesar
Ilustrasi piring-piring sehabis dicuci. Sumber: freepik.com
Sejak memutuskan tak lagi menggaji Asisten Rumah Tangga (ART) sekitar empat tahun lalu, otomatis jenis pekerjaan rutin rumah tangga seperti mencuci baju, menyapu, ngepel lantai, dan mencuci piring harus kami kerjakan sendiri. Ya, saya dan istri. Dan dari keempat aktivitas yang saya sebut tersebut, mencuci piring telah saya pilih sebagai jalan ninja saya di rumah. Sesekali nyapu dan ngepel lantai pun saya lakukan. Namun memang mencuci piring yang jadi prioritas rutinitas saya di rumah selain kewajiban utama mencari nafkah sebagai seorang suami.
ADVERTISEMENT
Manfaat Mencuci Piring
Sesungguhnya tanpa kita sadari, banyak manfaat yang kita peroleh dari aktivitas mencuci piring ini, Saudara. Saya merasakan sendiri, lho. Berikut beberapa manfaat mencuci piring secara rutin saya kutipkan dari Little Things, Daily Mail dan Psychology Today yang dilansir oleh gaya.tempo (2019):
1. Perisai dari berbagai penyakit harian dan alergi
Mencuci piring menjadi perisai dari berbagai penyakit harian seperti pusing, flu, demam, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Bill Hesselman, seorang Peneliti dari Amerika Serikat. Dan sebuah jurnal Pediatrics (2015), menguatkannya dengan menerbitkan studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bisa mendapat manfaat dari aktivitas yang sedikit kotor—contohnya, ya mencuci piring ini. Sistem imun dapat terbentuk bak perisai diri karena sering terpapar virus dan bakteri dari mencuci piring sehingga bisa lepas dari keluhan alergi.
ADVERTISEMENT
2. Stres berkurang
Mencuci piring membuat stress berkurang. Riset dari Florida State University menyebutkan dengan mencuci piring, secara tidak langsung mengalihkan fokus perhatian dan pikiran. Sehingga, konsentrasi ke perkara negatif berangsur-angsur hilang karena mencuci piring
3. Membuat rileks
Psikolog Dr. Aric Sigman menyatakan bahwa mencuci piring dapat memberikan efek kesehatan mental seseorang sama halnya ke panti pijat atau berendam. Hal ini menurutnya akibat dari busa sabun yang menenangkan, hangat dan beraroma dapat membangkitkan suasana hati sehingga membuat rileks. Dan penyelesaian tugas mencuci piring menimbulkan efek rasa damai sejahtera.
Waktu Mencuci Piring
Waktu-waktu rutin saya mencuci piring yang pasti pada saat malam hari dan pagi hari. Malam hari saat sebelum merebahkan badan ke peraduan. Tenang rasanya menutup mata taka ada lagi tumpukan piring kotor. Bisa mimpin indah, hehehe. Mungkin sudah terlalu menjiwai kali ya, jadinya kalau ada piring kotor jadi beban dan gangguan emosional.
ADVERTISEMENT
Sedangkan di pagi harinya, saya biasa mencuci piring kembali sebelum mandi pagi. Jadi kebiasaan mandinya setelah semua selesai sarapan, hehehe. Ya, kecuali ada acara kantor mendadak pagi-pagi, misalnya pas dinas ke kantor pusat di Jakarta. Kalau tidak ada, ya tadi. Mandinya setelah sarapan. Sejak WFH malah semakin sering cuci piringnya.
Memberi Contoh Yang Baik ke Anak
Saudara, aktivitas mencuci piring saya ini selalu disaksikan anak-anak. Anak saya yang berusia 14 tahun juga sudah terbiasa mencuci piringnya sendiri. Anak yang kedua usia 7 tahun sudah mulai merajuk ikut membantu papanya. Namun belum saya izinkan. Selain tinggi wastafel yang belum mungkin dia gapai, saya pikir kekuatan tangannya untuk memegang kering, basah dan busa belum memungkinkannya untuk mencuci piring. Kecuali yang berjenis plastik seperti beberapa gelas plastic miliknya dan adiknya yang baru masuk TK. Itu pun harus dia lakukan di bawah dekat garasi depan. Tentu saja setelahnya bajunya langsung basah semua karena biasanya langsung main air dengan adiknya. Yaah, namanya juga anak-anak.
ADVERTISEMENT
Saudara, meski ujung-ujungnya jadi main air, tapi setidaknya kita sudah memberi contoh kebaikan di rumah—dengan mencuci piring tadi. Dan saya pikir teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular. Apalagi di rumah sendiri. Menjadi contoh anak sendiri. Bukankah pendidikan awal dimulai dari orang tuanya sendiri, dimulai dari ibu dan bapaknya sendiri. Itu
***
Suzan Lesmana - Pranata Humas BRIN