Mom
·
11 September 2021 11:53
·
waktu baca 4 menit

Mengenang Jasa Orang Tua: Hanya Maut yang Dapat Menghentikan Kebaikannya

Konten ini diproduksi oleh Suzan Lesmana
Mengenang Jasa Orang Tua: Hanya Maut yang Dapat Menghentikan Kebaikannya (81835)
searchPerbesar
Potret Kedua Orang Tua Penulis. Sumber: Koleksi Pribadi
Pada hari Minggu lalu, saya mengantarkan jenazah warga RW saya yang wafat ke pemakaman umum. Saya kebagian menancapkan nisan kayu yang sudah tertulis nama almarhum. Saya perhatikan baik-baik batu nisan lainnya di kompleks pekuburan tersebut. Semua jenazah telah terkubur dan kembali ke tanah. Saya pun teringat orang tua saya. Betapa besar jasa orang tua hingga belum tentu kita dapat membalasnya. Hanya maut yang dapat menghentikan kebaikannya. Makanya Allah SWT dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15 memerintahkan: “Wa washṣhainal insaana biwaalidaihi iḥsaaaa”, yang artinya “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya.
ADVERTISEMENT
Saat ini tinggal ayah saya saja sekarang. Sedangkan almarhumah ibu saya telah lama kembali pada Ilahi. Khusus ibu, saya pikir setiap orang mempunyai kenangan indah bersama sang ibu. Begitu pula saya. Masih teringat beliau turut membantu ekonomi keluarga dengan membuka usaha catering. Rasa capek fisik pasti beliau rasakan karena otomatis harus bangun lebih awal sebelum beduk Subuh bergema—untuk berbelanja, masak hingga menyiapkan pesanan catering langganan. Kebetulan aktivitas kedua ini ditekuni ibu saya saat saya sudah mulai kuliah di Bandung, hingga saya tak banyak membantunya setiap hari.
Setiap saya pulang akhir pekan dan liburan selalu saya sempatkan membantu ibu saya walau hanya mengantarkan rantang-rantang catering pesanan ke para pelanggannya. “Jangan tertukar, ya Jang,” ujarnya memastikan sebelum saya berangkat. Sebelum berangkat saya tatap wajahnya yang tetap tersenyum walau saya tahu beliau capek. “Lumayan, Jang, bantu ayah bayar kuliahmu,” tuturnya suatu sore saat saya memijat kaki beliau.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya sebelum menekuni usaha catering, saat saya masih SMP hingga SMA beliau sempat mempunyai kesibukan menolong orang banyak yang memerlukan pengobatan non-medis. Kebetulan beliau punya “kelebihan” yang diperoleh dari belajar dan diturunkan dari orang tua angkatnya yang berasal dari Banten. Saya pun sempat menjadi “asisten” beliau mendampingi menghadapi “pasien-pasien” yang datang untuk berobat sakit non-medis atau hanya sekedar curhat. Namun kesibukan ini akhirnya tak diteruskan ibu saya karena menurutnya, beliau harus mengalokasikan waktu khusus, sementara kewajiban utama adalah bakti pada suami dan mengurus anak-anaknya ketika terikat pernikahan yang sah. Love You, Mom, Terima Kasih.
Kadang kalau ingat ibu menyuapi kita anaknya yang masih kecil makan, lucu ya. Anak belum membuka mulut, ibu kita sudah buka mulutnya—ancang-ancang duluan. “Aaaak...’,” ujarnya duluan. Belum lagi kalau ibu kita pergi ke undangan. Ketika nyobain makanan yang diingat pasti anaknya. Kue-kuenya dibungkus sapu tangan dimasukin dalam tas sampai penuh. Sampai rumah pasti buru-buru dikasih ke anaknya.
ADVERTISEMENT
Kalau kita simak syair yang sering dilantunkan guru saya, Habib Muhammad Al-Idrus, Condet, maka hati siapa tak akan rindu akan kasih sayang ibu. “Pagi-pagi sang anak dimandiin air hangat dan dikasih sabun wangi. Dibedakin, diminyakin sambil disisiri. Digendong, ditimang-timang, sambil diciumi. Sambil dibelai-belai dan dibacain shalawat Nabi. Seekor nyamuk menggigit ibu tak sudi. Dikejarkejar, dipukul hingga nyamuk mati. Siang malam dijaga dan ditunggui. Pagi sore diasuh dan diawasi. Itulah saat-saat indah kita kecil dan masih bayi. Tanda ibu sangat mengasihi kepada anak yang ia cintai.”
Lantas bagaimana jasa bapak? Bapak juga besar jasanya kepada kita anaknya. Tidak ada bapak, tidak ada kita. Beliau mencari nafkah untuk anak istri. Makanya meski anak pangkat dan jabatannya tinggi-tinggi, dihormati dimana-mana, tapi kalau durhaka sama orang tua, maka pahala ibadahnya “tertolak”, tidak diterima amalnya, atau seperti Al-Qomah yang kesulitan saat sakaratul maut karena menyakiti hati sang ibu. Ingat kata Rasulullah SAW: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (HR. Tirmidzi, Hakim, dan Thabrani).
ADVERTISEMENT
Kini jika Saudara masih punya orang tua yang masih hidup, sayangi dan cintai, rawatlah seperti seperti mereka merawat kita sejak bayi. Jangan lupa senantiasa berdoa agar Allah menjaga mereka terutama jika orang tua kita sudah wafat. Yang mereka perlukan adalah doa para anak saleh-saleha yang dulu mereka sayang dan cintai. Jika keduanya sudah wafat maka teruslah berbuat baik karena kebaikan itu menular. Bagaimana caranya? Caranya adalah: mendoakannya, melunasi utangnya, menjalin silaturahmi dengan teman-temannya semasa hidup, menjaga nama baiknya, bersedekah atasnya, memenuhi janji yang pernah diucapkannya, dan menziarahi kuburnya. Semoga kita semua adalah anak-anak yang selalu berbakti kepada orang tua, baik masih hidup ataupun sudah wafatnya.
***
Suzan Lesmana – Pranata Humas BRIN
ADVERTISEMENT