• 0

Timnas U-19 vs Malaysia: Tekan sejak Awal, Garuda!

Timnas U-19 vs Malaysia: Tekan sejak Awal, Garuda!


Indonesia U-19 vs Singapura U-19

Indonesia U-19 vs Singapura U-19 (Foto: ANTARAFOTO/ Zabur Karuru)
Babak semifinal Piala AFF U-19 2018 bakal mempertemukan dua rival: Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 dengan Malaysia U-19. Bagi kedua tim, laga yang akan berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (12/7/2018), itu tak sekadar partai hidup-mati, tetapi juga menyoal kehormatan dan harga diri.
Performa Timnas U-19 selama penyisihan grup bisa dikatakan memuaskan. Dari lima laga, mereka cuma menelan satu kekalahan. Jika berbicara mengenai produktivitas gol, pasukan Indra Sjafri itu juga tak bisa dipandang sembarang. Rasio 3,6 gol per laga bisa jadi tolok ukur betapa tajamnya lini depan mereka.
Namun, Timnas U-19 masih punya masalah yang belum terobati: 'telat panas'. Lihat saja statistik yang telah dirangkum kumparanBOLA dari LabBola. Di babak pertama selama fase grup, Timnas U-19 dapat melepaskan 41 upaya tembakan dan 10 di antaranya mengarah ke gawang. Namun, cuma dua tembakan yang dapat dikonversikan menjadi gol.
Sedangkan, pada babak kedua, Timnas U-19 dapat mencetak 9 gol buah dari 23 tembakan yang mengarah ke gawang. Situasi demikian akan menjadi petaka karena bermain luar biasa di babak kedua saja tak cukup untuk memenangi laga di fase gugur.
Kekalahan dari Thailand pada partai pamungkas penyisihan grup bisa jadi contohnya. Ketika Thailand sudah mencetak gol di babak pertama dan menerapkan skema ultra-defensif di babak kedua, Timnas U-19 kesulitan membalikkan keadaan. Inilah yang mesti diwaspadai oleh Timnas U-19.
Lalu bagaimana dengan kondisi Malaysia U-19 sendiri? Bersama Thailand, pasukan Bojan Hodak itu belum pernah menelan kekalahan. Dalam empat laga, mereka meraih tiga kemenangan dan satu sisanya berakhir imbang. Hebatnya, gawang mereka baru satu kali kebobolan.

Perayaan Pendukung Timnas Indonesia U-19

Perayaan Pendukung Timnas Indonesia U-19 (Foto: Antara/Zabur Karuru)

Sama halnya dengan Timnas U-19, Malaysia pun memiliki cela. Mereka dilanda inkonsistensi --kadang bermain bagus, kadang bermain buruk--. Lantas apa yang mesti dilakukan Timnas U-19 untuk menghantam Malaysia di rumah sendiri dan menjaga asa untuk merengkuh gelar juara?
Kombinasi
Ada beberapa persoalan yang menyebabkan performa Timnas U-19 kurang greget di awal babak pertama. Salah satunya adalah alir distribusi yang kerap tersendat. Masalah tersebut dipicu oleh jarak tiga gelandang Timnas U-19 yang berjauhan.
Hal tersebut tak cuma membuat umpan-umpan pendek yang jadi senjata utama Timnas U-19 untuk melumpuhkan lawan tak berjalan, tetapi juga memudahkan lawan menutup area umpan di lini tengah. Suplai bola ke lini depan otomatis berkurang dan melepaskan operan jauh ke tepi lapangan jadi opsi yang sering diambil. Padahal, opsi yang disebut terakhir bukanlah pilihan yang tepat.
Maka itu, sebuah saran logis apabila tiga gelandang Timnas U-19 yang nantinya dimainkan oleh Indra mesti bergerak lebih dinamis untuk memangkas jarak antar lini dan jadi sumber aliran bola ke lini depan. Mereka juga tak diperkenankan untuk menunggu servis dari lini belakang, tetapi inisiatif turun dan melakukan kombinasi demi masuk ke teritorial lawan.

Pesepak bola Indonesia U-19, Saddil Ramdani

Pesepak bola Indonesia U19 Saddil Ramdani (kedua kanan) berusaha melewati sejumlah pesepak bola Filipina U19 dalam penyisihan grup A Piala AFF U19. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Di sisi lain, kombinasi yang dilakukan gelandang Timnas U-19 bisa membuat celah di lini pertahanan lawan makin menganga. Pemain depan punya opsi yang lebih banyak untuk merangsek ke dalam kotak penalti.
Saddil Ramdani maupun Witan Sulaiman --yang menjadi andalan di pos sayap-- bisa melakukan umpan satu dua dengan pemain tengah untuk menciptakan peluang dan tak melulu melakukan manuver ataupun menari-nari di tepi lapangan. Skema itu pernah diterapkan Timnas U-19 saat lawan Vietnam dan berhasil.
Sedangkan, Todd Rivaldo Ferre dan Syahrian Abimanyu yang punya hak untuk tampil ofensif harus lebih aktif bergerak dengan atau tanpa bola. Pergerakan mereka bisa menentukan sejauh mana pelayanan yang mereka berikan kepada pemain depan untuk mencetak gol.
Mengutus Valdo --demikian Todd disapa-- dan Syahrian untuk bergerak dinamis dapat memancing bek lawan keluar dari sarangnya dan intens memberikan tekanan. Itupula yang bakal menjadi alternatif Timnas U-19 untuk memunculkan pemain dari lini kedua sebagai pemecah kebuntuan.


Efektivitas
Malaysia merupakan tim yang tangguh di pertahanan. Hal tersebut bisa ditinjau dari jumlah kebobolan mereka yang cuma satu kali. Kokohnya pertahanan Malaysia bermula dari keputusan Hodak yang melarang dua bek sayap untuk ikut menebar teror di pertahanan lawan. Hodak mengutus dua bek sayap untuk siaga menahan gempuran dan mematahkan sayap-sayap lawan.
Sialnya, berkaca pada laga-laga sebelumnya, Timnas U-19 selalu kelimpungan bermain dengan tim yang punya pertahanan kokoh dan rapat. Memang, Timnas U-19 memiliki banyak cara dan upaya untuk mengakhiri kebuntuan. Mulai dari melepaskan tembakan jarak jauh dan penetrasi intens dari sisi sayap.
Namun, yang menjadi kunci mereka untuk menghancurkan pertahanan lawan adalah ketenangan. Timnas U-19 tak pernah tergesa-gesa untuk mengakhiri serangan. Dengan ketenangan, pertahanan mereka juga lebih waspada menahan gempuran lawan. Pemain tengah dapat melakukan kover dan ikut andil mematahkan aliran bola lawan.
Jika menilik laga-laga sebelumnya, ketenangan saja tak cukup. Timnas U-19 mesti bermain efektif. Artinya, setiap peluang yang didapatkan sebisa mungkin harus dikonversikan menjadi gol. Untuk itu, Timnas U-19 mesti memanfaatkan kesempatan yang didapatkan dengan sebaik-baiknya dan setenang-tenangnya.


Sepak BolaSportsTimnas IndonesiaIndra SjafriPiala AFF U-19 2018

presentation
500

Baca Lainnya